Suara.com - Anggota DPRD DKI Jakarta fraksi PDIP Ima Mahdiah menemukan anggaran tidak wajar di Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk pengadaan barang-barang bagi anak SD. Jumlah anggaran yang ditemukan juga terbilang fantastis.
Temuan ini Ima ungkap saat hadir dalam acara Mata Najwa bertema "Buka-bukaan Anggaran" yang tayang di Trans 7 pada Rabu (6/11/2019) malam.
Ima Mahdiah menceritakan bahwa awalnya PDIP sudah diberi dokumen KUA-PPAS dengan anggaran total Rp 95 triliun. Lalu mereka meminta dokumen terbaru yang 89 triliun kepada Pemprov DKI Jakarta tapi tidak pernah diberikan sampai hari pembahasan.
"Kita sudah tagih terus bahkan Ketua DPRD Pak Pras juga minta agar dikasih, dengan alasan SKPD belum siap," kata Ima.
Ia menuturkan setelah mendapat dokumen terbaru pada minggu lalu, ternyata masih ada sejumlah anggaran yang janggal di sana. Najwa Shihab kemudian meminta Ima menyebutkan apa saja anggaran yang aneh tersebut.
"Contohnya, ada pengadaan pasir untuk anak sekolah SD itu totalnya bisa Rp 52 miliar. Ini bukan rehab total, rehab total beda lagi bahannya, ini kita break down khusus untuk operasional saja dari BOP, BOS," Ima menjelaskan.
Tidak hanya pasir senilai Rp 52 miliar. Ia juga menemukan anggaran-anggaran tidak wajar lain untuk anak sekolah dasar.
"Ini pengadaan untuk anak sekolah SD, jadi saya juga enggak tahu fungsinya untuk apa. Di sini juga ada thinner sekitar Rp 40 miliar dan helm proyek Rp 34 miliar, ini anggaran Dinas Pendidikan," imbuhnya.
Mantan staf Ahok ini berpendapat bahwa awal dari permasalah perencanaan anggaran di Pemprov DKI Jakarta adalah tidak adanya transparansi.
Baca Juga: 5 Berita Hits Bola: Timnas Indonesia U-19 Taklukkan Timor Leste
"Kalau misalkan dulu jamannya Gubernur sebelumnya, kita dari mulai RKPD sudah mulai di-upload. Anggota dewan hanya 106 komponen totalnya ada 200 ribu kan enggak mungkin kita bahas sampai 1-2 minggu," ucap Ima.
Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan(TGUPP) Amin Subekti yang mewakili Gubernur Anies Baswedan yang juga hadir di Mata Najwa memberikan tanggapannya.
Menurut Amin, temuan-temuan aneh itu terjadi karena kelemahan sistem.
"Mengapa itu terjadi, sudah banyak dibahas salah satunya adalah soal kelemahan sistem. Sebagai contoh, anggaran pendidikan harus 20 persen dari total anggaran tapi sistem itu memaksa orang untuk memasukkan komponen, itu sebabnya kemudian ada komponen yang kemudian kami juga mempertanyakan," Amin menjelaskan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan