Suara.com - Serangan puluhan rudal Iran pada 8 Januari 2020 terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Ain al-Asad dan instalasi lain yang menampung pasukan AS dan koalisi di dekat Arbil, Irak, merupakan serangan balasan atas tewasnya Mayor Jenderal Qassem Suleimani.
Tampaknya, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, memenuhi janjinya untuk membalas luapan kemarahan rakyat Iran ke AS.
Apakah balasan Iran ini akan membuka sebuah perang yang lebih besar? Bagaimana melihat skenario perang yang tidak hanya melibatkan melibatkan AS dan Iran saja, tetapi meluas di kawasan Timur Tengah dan kawasan lainnya yang terdampak?
Sebelum melihat kemungkinan skenario ke depan tentunya perlu juga memahami secara tepat akar masalah yang sebenarnya. Bagaimana seorang perwira tinggi militer Iran bisa terbunuh dalam operasi militer AS di Irak.
Akar Masalah
Meningkatnya konflik AS dan Iran tentu tidak bisa dilepaskan dengan perkembangan terakhir di Irak. Pasca Invasi AS ke Irak 2003 nampaknya menyisakan banyak masalah. Irak yang awalnya diharapkan segera menjadi stabil pasca terbunuhnya Saddam Husein ternyata justru sebaliknya. Rakyat Irak pun terbelah dalam Kelompok Syiah dan Sunni. Kurdi dan Syiah yang dulunya tertindas di masa Saddam Husein berbalik menjadi kekuatan besar dan menentukan dalam pemerintahan baru.
Guna menghancurkan Irak, Iran menyediakan wilayah perbatasannya untuk pendaratan pesawat-pesawat tempur AS. Dalam upaya menggulingkan Saddam Husein, AS mendukung kelompok Kurdi sementara Iran melalui Garda Revolusi melatih para milisi Syiah Irak.
Al Quds sendiri merupakan bagian dari pasukan elite Garda Revoulsi yang bertugas melakukan operasi di luar Iran guna menyebarkan pengaruh revolusi Iran. Kelompok milisi Irak yang kemudian menjelma menjadi Kataib Hizbullah ini tentu lebih loyal kepada pemimpin spiritual di Iran dibanding menjaga stabilitas Irak itu sendiri.
Pada saat penggulingan Saddam Husein, Iran menyediakan wilayah perbatasannya untuk dijadikan sebagai basis pendaratan pesawat tempur AS guna menyerang Irak. Hubungan AS dan Iran pada saat itu menunjukkan kedekatan.
Baca Juga: AS - Iran Diambang Perang, Menlu Retno Minta Vietnam Turun Tangan
Bahkan Suleimani berkali-kali berhubungan dengan AS mulai dari kerja sama pembentukan pemerintah baru di Irak, bahkan jauh sebelumnya dia juga membantu AS dalam menginvasi Afghanistan.
Hanya saja hubungan itu mulai memburuk ketika pengaruh Iran di Irak semakin kuat. Ribuan demonstrasi menolak pengaruh Iran dihadapi oleh para milisi Irak secara brutal. Irak benar-benar terbelah antara pendukung Iran dan Amerika. Tentu korbannya adalah rakyat Irak.
Agaknya posisi AS di Irak mulai terjepit. Rezim Irak lebih dekat dengan Iran, terutama kekuatan parlemen yang dikuasi oleh loyalis Iran.
Setelah berhasil menumpas kelompok teroris ISIS bekerjasama dengan milisi-milisi Irak yang dibentuk oleh Garda Revolusi Iran justru AS mendapatkan tekanan dari sekutunya yang pro Iran untuk segera meninggalkan Irak.
Hadi Al-Amiri dan Abu Mahdi Al-Muhandis anggota parlemen Irak, pimpinan partai Munazzam Badr bentukan Iran. Al-Amiri sendiri adalah veteran perang yang bergabung dengan Iran saat perang Iran-Irak (1980-1988). Al-Muhandis adalah mantan anggota Garda Revolusi Iran yang pernah terlibat dalam penyerangan kedutaan AS di Kuwait pada 1983.
Puncaknya, pada 27 Desember 2019, puluhan rudal yang dilancarkan oleh kelompok milisi Kataib Hizbullah dukungan Iran menghantam pangkalan militer Irak di Kirkuk dan menewaskan seorang kontraktor AS dan melukai puluhan tentara AS dan Irak.
Berita Terkait
-
AS - Iran Diambang Perang, Menlu Retno Minta Vietnam Turun Tangan
-
Serangan Rudal Iran ke Pangkalan Militer AS Diklaim Tewaskan 80 Tentara
-
5 Peristiwa Menggegerkan Pasca Kematian Soleimani
-
Konflik AS - Iran, SBY Cemas Tapi Tak Yakin Terjadi World War 3
-
Pangkalan AS Dihujani Rudal, FAA Larang Penerbangan di Irak dan Iran
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Tembus 79,9 persen, Kenapa Kepuasan Kinerja Prabowo Lebih Tinggi dari Presiden Sebelumnya?
-
Saat Pemutakhiran Data Bantuan Berujung Pencabutan Status BPJS PBI, Begini Situasi yang Terjadi
-
Peringati World Interfaith Harmony Week 2026, Ketua DPD RI Fasilitasi Dialog Tokoh Lintas Agama
-
Dianiaya karena Tolak Tambang Ilegal, Nenek Saudah Kini dalam Lindungan LPSK: Siapa Pelakunya?
-
Motor Roda 3 dari Program Atensi Kemensos Bantu Wak Keple Bangkitkan Usaha
-
Kasus Chromebook, Pakar: Kejaksaan Bongkar Siasat 'Regulatory Capture' untuk Dalih Nadiem Makarim
-
Basarnas Fokuskan Pencarian di Muara Pantai Sine, Wisatawan Malang Terseret Ombak Belum Ditemukan
-
Dalai Lama Buka Suara soal Namanya Disebut Ratusan Kali dalam Dokumen Rahasia Epstein
-
Survei Indikator: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Ditopang Pemilih Gen Z
-
Awal Puasa Ramadan 2026 Versi Pemerintah, Muhammadiyah, NU, dan BRIN