Suara.com - Sekelompok backpacker yang tinggal di Loxton, wilayah regional Australia Selatan telah mendapatkan perilaku diskrimnasi dari warga setempat karena wabah pandemi virus corona.
Melansir dari laman ABC, warga yang merasa terancam, nekat melakukan hal-hal yang menjurus ke kekerasan yakni dengan melempar batu, hingga menuliskan kata "pulang" di tempat sampah asrama para backpacker.
Serangkaian hal tak bertanggung jawab ini dilakukan para warga dengan tujuan supaya para backpacker segera angkat kaki dari wilayah tersebut.
Backpacker asal Inggris, Roan Hodgson yang tinggal di Harvest Trail Lodge, Kota SA Loxton, mengaku telah mengalami serangkaian tindakan diskriminasi.
"Satu-satunya tempat yang bisa untuk kita nongkrong selain kamar, adalah balkon," kata Hodgson.
"Dalam beberapa malam terakhir, ada beberapa orang yang melewati tempat tinggal kami sambil berteriak 'pulang'. Lalu di malam selanjutnya, ada orang yang melemparkan batu ke kami," sambungnya.
"Kami telah berkerja di sini selama berbulan-bulan, perilaku ini menurutku sangatlah konyol," lanjutnya.
Backpacker asal Jerman, Kristina Welters mengatakan kejadian ini menjadi mimpi buruk bagi mereka yang ingin menyambangi Australia.
"Kami bekerja di Jerman untuk bisa ke sini, dan saya kira kami semua pasti ingin mendapatkan kenangan yang baik selama di sini, bukan malah kena tindakan rasis setiap hari ini," kata Welters.
Baca Juga: Ratusan Orang di Sleman Tetap Gelar Padusan di Tengah Pandemi Virus Corona
Manajer hostel Bronnie Allen, mengatakan bawah backpacker dipandang sebagai ancaman oleh warga lokal.
Menteri Urusann Industri Utama dan Pembangunan Regional Austrasli Selatan Tim Whestoner mengatakan, "tindakan rasis terhadap backpacker atau siapapun, adalah tindakan yanhg tidak dapat diterima."
"Para backpacker adalah bagian penting dalam ekonomi lokasl, tindakan diskriminasi terhadap mereka tidak akan dibiarkan terjadi, sambung Whestoner.
Terkait hal ini, pemilik beberapa hostel di Barrosa Valley dan McLaren Vale, Derry Geber, membeberkan bahwa warga lokal merasa terancam dengan warga asing sejak adanya kasus positif Covid-19 yang berasal dari dua kelompok turis asal Amerika Serikat dan Swiss.
"Beberapa warga lokal menghubungi polisi guna adanya pengecekan apakah di hostel kami menerapkan social distancing," kata Derry.
'Terjebak' di Australia
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Produk Viva Cosmetics yang Ampuh Atasi Flek Hitam, Harga di Bawah Rp50 Ribu
- Denada Akhirnya Akui Ressa Anak Kandung, Bongkar Gaya Hidup Hedon di Banyuwangi
- 5 Rekomendasi HP Layar AMOLED 120Hz Termurah 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- KUIS: Kalau Hidupmu Jadi Lagu, Genre Apa yang Paling Cocok?
Pilihan
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
-
5 HP Memori 128 GB di Bawah Rp2 Juta Terbaik Awal 2026: Kapasitas Lega, Harga Ramah di Kantong!
Terkini
-
Tata Cara Baca Surat Yasin 3 Kali di Malam Nisfu Syaban, Bacalah Usai Maghrib dengan Niat Ini
-
Kemkomdigi Normalkan Akses Grok di X dengan Syarat Ketat dan Pengawasan Berkelanjutan
-
LSM Penjara 1 dan Polri: Mendefinisikan Ulang Keamanan Lewat Budaya Tertib Masyarakat
-
Jokowi 'Mati-matian' Bela PSI: Bukan Sekadar Dukungan, Tapi Skema Dinasti Politik 2029
-
Drama OJK: Setelah Ketua dan Wakil Mundur, Siapa yang Ditunjuk Prabowo Jadi Pengganti?
-
Waspada! Daerah Ini Diprediksi BMKG Diguyur Hujan Disertai Petir Hari Minggu Ini
-
Waspada! Pos Angke Hulu Siaga 3 Gegara Hujan Deras, Jakarta Sempat Tergenang
-
Terpapar Radikalisme via Medsos, Dua Anak di Langkat Terlibat Kasus Terorisme
-
Anggaran Bencana Dipangkas Drastis, Legislator PDIP Ini Desak Kemensos Tinjau Ulang
-
OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Tetap Berjalan di Tengah Transisi Kepemimpinan