Dan, seperti Sars, sumber virus corona kelelawar sepertinya telah memegang kunci sel manusia. “Terkait dengan Sars-Co V-2 kuncinya adalah protein Spike dan kunci utama untuk memasuki sel adalah reseptor bernama ACE2," kata Prof David Robertson, ahli virus University of Glasgow.
Virus corona bukan hanya dapat membuka kunci ACE2, “virus ini bahkan melakukannya beberapa kali lebih baik dibandingkan Sars-1", katanya.
Hal ini menjelaskan mengapa virus corona berpindah dari satu orang ke orang lainnya; sehingga penularannya telah mengalahkan usaha kita untuk mengendalikannya. Membawa virus kelelawar ke pintu sel manusia di pasar satwa liar memang memainkan peran yang penting.
Beli, jual, infeksi
Sebagian besar dari kita mendengar bahwa virus “mulai” muncul di pasar satwa liar Wuhan. Tetapi sumber virus – yaitu binatang dengan patogen di tubuhnya – tidak ditemukan di pasar itu.
"Kelompok pertama infeksi dikaitkan dengan pasar – itu adalah bukti yang tidak kuat,” kata Prof. James Wood dari University of Cambridge.
"Infeksi dapat berasal dari tempat lain dan hanya kebetulan terkumpul di antara orang-orang di sana. Tetapi karena ini virus binatang, kaitan dengan pasar menjadi semakin kuat.”
Prof. Cunningham sepakat: pasar satwa liar adalah tempat utama bagi penyakit binatang untuk menemukan tempat tinggal baru.
“Menempatkan spesies dalam jumlah besar ke dalam kondisi yang tidak sehat, membuat patogen spesies yang biasanya tidak berdekatan, menjadi berkemungkinan berpindah dari satu spesies ke spesies lainnya.”
Baca Juga: Cabuli Anak Temannya Hingga Hamil 4 Bulan, Seorang Lansia Ditangkap Polisi
Kebanyakan virus satwa liar di masa lalu berpindah ke manusia lewat spesies kedua – lewat satu spesies yang dikembangbiakkan atau diburu dan kemudian dijual di pasar.
Prof. Woods menjelaskan: Virus asli Sars ditransmisikan ke populasi manusia lewat epidemi musang Palm, yang diperdagangkan di China bagian selatan untuk dimakan.
“Sangat penting untuk mengetahui bahwa terjadi wabah di antara musang Palm sendiri. Ini membuat binatang ini harus dikendalikan agar proses pemindahan ke manusia dapat dihentikan.”
Saat mencari tautan yang hilang atau missing link pada rantai transmisi ini, para peneliti menemukan sejumlah petunjuk yang mengarah kepada cerpelai, musang dan bahkan penyu sebagai tempat tinggal.
Virus sejenis ditemukan pada tubuh trenggiling yang diperdagangkan. Tetapi tidak satupun spesies ini menunjukkan tanda-tanda terkait dengan wabah. Yang kita ketahui adalah bahwa kontak kita dengan perdagangan satwa liar membuat kita menghadapi risiko.
"Bagian yang paling penting adalah usaha untuk memastikan kita tidak membawa satwa liar berhubungan langsung dengan kita sendiri atau dengan binatang domestik lainnya,” kata Prof. Wood.
Tetapi mengatur perdagangan satwa liar di dunia bukanlah hal yang mudah dilakukan.
“Telah dilakukan berbagai kampanye untuk melarang semua perdagangan binatang dan semua kontak dengan satwa liar,” kata Prof. Wood.
“Tetapi biasanya yang dilakukan adalah menghukum orang-orang paling miskin dunia. Dalam sejumlah kasus, penerapan langkah tersebut membuat mereka akhirnya berdagang dengan sembunyi-sembunyi, sehingga semakin sulit untuk melakukan apapun.”
WHO telah mendesak diterapkannya standar kebersihan dan keamanan yang lebih ketat terkait dengan pasar basah China. Tetapi dalam sejumlah kasus – seperti perdagangan bushmeat di Afrika Sub-Sahara yang dikaitkan dengan wabah Ebola – pasar merupakan tempat yang tidak resmi sehingga sulit untuk diatur.
"Anda tidak bisa melakukannya dari sebuah kantor di London atau Jenewa; Anda harus melakukannya di lapangan di setiap negara,” kata Prof. Wood.
Dr Maria Van Kerkhove sepakat: "Sangat penting untuk bekerja sama dengan penduduk dan orang-orang yang melakukan kontak manusia/binatang – orang yang bekerja dengan satwa liar.”
Diperlukan usaha global yang cukup rumit. Tetapi wabah Covid-19 sepertinya telah memperlihatkan akibatnya jika hal ini tidak dilakukan.
Berita Terkait
-
Lama Mandek, Pemerintah Klaim Kawasan Industri Madura Didukung Investor China
-
Bukan Harga Murah, Ini Strategi Sharp Indonesia Menjaga Dominasi Pasar AC
-
Purbaya Ungkap Alasan Utang ke China lewat Panda Bond, Lebih Murah dari Amerika
-
Pertamina Marine Solutions Resmi Jalin Kerjasama dengan Perusahaan China, Ini Rinciannya
-
China Bikin Senjata AI untuk Serangan Udara Skala Besar
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung