Suara.com - Pandemi virus corona belum menemukan titik akhir dan jumlah kematian akibat penyakit ini terus meningkat. Berbagai kalangan turut terdampak pandemi, termasuk para nelayan dan petani di negara-negara Asia.
Umumnya petani dan nelayan di Asia belum paham, bagaimana mengoperasikan teknologi digital. Selama ini, mereka memasarkan hasil panen dengan transaksi manual seperti menawarkannya langsung pada calon konsumen atau pasar.
Menyadur BBC pada Selasa (02/06/2020), kini petani dan nelayan harus lebih terampil dalam menggunakan ponsel pintar. Mau tidak mau, mereka dipaksa untuk memahami cara kerja teknologi digital agar bisa memasarkan hasil panen.
Seperti yang dilakukan oleh Steve Teoh, pemilik Perkebunan Deoness di Cameron Highlands. Pria ini awalnya khawatir membuang bunga hasil kebunnya namun ia mendapat angin segar dengan memasarkan secara online.
"Ketika Gerakan Kontrol Order terjadi, saya melihat kemungkinan membuang bunga yang dipanen karena permintaan tiba-tiba berhenti dalam semalam karena toko-toko bunga harus tutup," katanya.
Namun dengan memasarkan bunga secara online, ia bisa menjaga bisnisnya tetap berjalan. Kini ia mengaku senang dengan status barunya sebagai penjual bunga online.
Nelayan sekaligus pemilik perusahaan ikan bernama Audrey Go juga sempat khawatir dengan pemasaran ikannya yang terhambat pandemi corona. Masalah besar datang ketika pasar basah tutup dan ikan segarnya terancam membusuk sebelum dipasarkan.
"Bisnis kami pasti terpengaruh oleh Covid-19, mengingat kami tak dapat memasok ke restoran, pasar grosir ikan, warung kelontong atau kedai kopi, karena sebagian besar harus tutup, tetapi mampu menjual secara online membuat bisnis kami tetap berjalan," katanya.
Di Indonesia, koperasi pertanian Rumah Sayur Group juga sudah beralih ke e-commerce. Mereka merangkul ribuan petani dari puluhan desa untuk menjual hasil pertanian dengan cara online.
Baca Juga: Petani di Chile Manfaatkan Energi Matahari untuk Atasi Krisis Air
Lazada dan Alibaba adalah beberapa platform e-commerce yang menjadi jembatan bagi para petani ini. Mereka menjadi jembatan bagi petani dan masyarakat agar tetap terhubung selama pandemi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kapolri Sebut Penguatan Kompolnas Cukup Masuk di Revisi UU Polri, Tak Perlu UU Baru
-
Ahli Psikologi TNI Bongkar Profil 4 Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Kemampuan Analisa Rendah
-
Buntut Kematian Dokter Myta, Kemenkes Tunda Internship di Puskesmas dan RSUD Kuala Tungkal
-
'Nak Keluar Sayang', Noel Minta Putrinya yang Berseragam Sekolah Keluar Sidang karena Ditegur Hakim
-
7,36 Persen Warga Indonesia Tanpa Air Bersih, Teknologi Ini Jadi Harapan Baru?
-
Kasus Dokter Internship Meninggal, Menkes Minta Audit Medis Tindakan RS
-
Maut Mengintai di Balik 'Jalan Pintas', 57 Nyawa Melayang Sia-sia di Jalur Kereta Daop 1 Jakarta
-
Eks Wamenaker Noel Ngaku 'Gak Tahu' Terima Ducati Harus Lapor KPK: Saya Menyesal Banget
-
ICW Laporkan Dugaan Korupsi Sertifikat Halal Rp49,5 Miliar di Badan Gizi Nasional ke KPK
-
Bantah Minta Ducati ke Irivan Bobby, Eks Wamenaker Noel: Saya Nggak Hobi, Motornya Malah Bikin Jatuh