Suara.com - Lembaga Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menggelar survei yang dalam salah satu pertanyaannya terkait reshuffle jajaran menteri dalam Kabinet Indonesia Maju.
Hasilnya, nama Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly menempati urutan teratas yang paling banyak dipilih responden untuk diganti.
Awalnya, sebanyak 72,9 persen responden menilai perlunya reshuffle dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dari responden tersebut, mayoritas yang memilih perombakan kabinet menilai jika Menteri Yasonna mesti diganti.
"Yasonna Laoly Menteri Hukum dan HAM ada 64,1 persen responden, dinyatakan paling layak dilakukan reshuffle," kata Direktur IPO Dedi Kurnia Syah dalam sebuah diskusi virtual, Sabtu (4/7/2020).
Di bawah nama Yasonna, terdapat Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang dianggap layak direshuffle oleh 52,4 persen responden. Posisi ketiga ditempati Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah yang dianggap layak direshuffle oleh 47,5 persen.
Posisi keempat sampai kesepuluh diduduki oleh Menteri Agama Fachrul Razi, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Kementerian Sosial Julian Batubara, serta Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.
Selanjutnya ada nama Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, Menko PMK Muhadjir Effendy, Menkominfo Johnny G. Plate, MenKLHK Siti Nurbaya dan Menteri Desa Abdul Halim Iskandar.
Dedi menilai dari daftar tersebut, ada kecenderungan di mana responden lebih memilih orang-orang yang dianggap memiliki kedekatan Jokowi untuk direshuffle. Sebut saja Yasonna yang berasal dari satu partai sama dengan Jokowi yakni PDIP.
Karena itu, Dedi berharap kepada menteri-menteri yang merasa memiliki kedekatan dengan Jokowi untuk tidak mawas diri sehingga menganggap dirinya tidak akan diganti.
Baca Juga: PKB Sebut Menkes, Mendikbud dan Menag Layak Direshuffle Jokowi
"Jangan sampai kedekatan itu membuat mereka tidak begitu berupaya lebih baik karena merasa aman dari kritik dan koreksi presiden," pungkasnya.
Survei ini dilakukan pada periode 8 Juni 2020 hingga 25 Juni 2020 dengan melibatkan 1.350 responden. Adapun pengambilan survei dilakukan dengan cara mengumpulan data Wellbeing Purposive Sampling (WPS). Sampling eror survei tersebut sebesar 3,54 persen dengan tingkat akurasi data dalam rentang maksimum 97 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi
-
Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR
-
Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan
-
Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?
-
Menteri PU Nyetir Sendiri Lintasi Trans Jawa, Puji Kualitas Tol Bebas Lubang
-
Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran
-
Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
-
Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan
-
Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas
-
Bersama Anak Yatim Piatu, Boni Hargens Gelar Doa bagi Perdamaian Dunia