Suara.com - Puluhan ribu warga Cile telah turun ke alun-alun utama Santiago untuk merayakan keberhasilan masyarakat mendesak perubahan konsititusi era kediktatoran Pinochet.
Konsititusi lama yang kekinian dijalankan Chile disebut-sebut jadi akar penyebab ketidaksetaraan sosial dan ekonomi warga, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Senin (26/10/2020).
Di Santiago's Plaza Italia, tempat yang tahun lalu kerap jadi arena protes besar-besaran menuntut perubahan, kini dipenuhi warga yang menyaksikan kembang api dan bersorak-sorai.
Ketika pemungutan suara dihitung pada Minggu di siaran langsung televisi, pesta-pesta spontan pecah di sudut jalan dan di alun-alun di seluruh negeri.
Pengemudi membunyikan klakson mobil, beberapa sebagai orang yang bersuka ria menari di atas atap mereka, dan yang lainnya membenturkan panci dan wajan.
Bendera orang-orang Pribumi Mapuche di negara itu, yang akan mencari pengakuan lebih besar dalam piagam baru, ada di mana-mana.
Para masyarakat Chile bersuka cita merayakan keberhasilan rakyat untuk medesak penulisan ulang konstitusi negara.
Mereka mengekspresikan kegembiraaan sambil bernyanyi saat ata "kelahiran kembali" dipancarkan ke menara pada Minggu (25/10/2020) malam waktu setempat.
Dengan lebih dari tiga perempat suara dihitung dalam referendum Minggu, 78,12 persen pemilih telah memilih konstitusi baru yang dirancang oleh warga.
Baca Juga: Aborsi Janin Cacat Dianggap Tak Sesuai Konstitusi, Warga Polandia Demo
Banyak yang telah menyatakan harapan bahwa teks baru akan melemahkan etos kapitalis tanpa malu-malu dengan jaminan hak yang lebih setara untuk perawatan kesehatan, pensiun dan pendidikan.
“Kemenangan ini adalah milik rakyat, ini berkat upaya semua orang sehingga kami berada pada momen perayaan ini,” kata Daniel, 37, kepada Kantor Berita Reuters di Plaza Nunoa Santiago.
“Yang membuat saya paling bahagia adalah partisipasi para pemuda, kaum muda yang ingin membuat perubahan.”
Presiden Chili Sebastian Pinera mengatakan jika negara telah terpecah oleh protes dan perdebatan tentang apakah akan menyetujui atau menolak rencana piagam baru.
Dia mengatakan mulai sekarang mereka harus bersatu di balik teks baru yang menyediakan "rumah bagi semua orang".
“Sampai saat ini, konstitusi telah memecah belah kami. Mulai hari ini kita semua harus bekerja sama agar konstitusi baru menjadi kerangka besar persatuan, stabilitas, dan masa depan, ”ujarnya dalam pidato yang disiarkan di Istana Moneda yang dikelilingi kabinetnya.
Berita Terkait
-
Uji Materi UU Cipta Kerja, Sekjen MUI ke MK: Buktikan Independensi!
-
Pakar: Penghapusan Pasal di UU Cipta Kerja Menyalahi aturan
-
Masa Pandemi Covid-19, Warga Kian Takut Mengeluarkan Pendapat
-
Diminta Cabut Imbauan Soal Tak Usah Ikut Demo, Rektor UGM: Itu Tak Perlu
-
Survei: Tren Demokrasi di Indonesia Merosot di Masa Pandemi Corona
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Hanya Kirim PDF Tanpa Balasan, Polres Jakpus Jelaskan Soal Aksi BEM UI Tak Ajukan Izin Resmi
-
3 Fakta Dugaan Korupsi MBG: Kejagung Geledah Enam Lokasi, DPR Minta Program Dihentikan
-
Jangan Adu Rakyat vs Rakyat, TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa
-
Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?
-
Divonis 13 Tahun Penjara, Sejumlah Pakar Duga Ada Kejanggalan di Putusan Hukum Arief Pramuhanto
-
Partai Gelora Desak Penghapusan Threshold, Klaim DPR Buka Ruang Diskusi
-
Anis Matta Akui Partai Gelora Terganjal Logistik, Urusan Pendanaan Jadi Persoalan Besar
-
ICW: Vonis Rendah Pejabat BPK Tak Beri Efek Jera, Korupsi Terus Berulang
-
Warga Jakarta Bisa Masuk Gratis ke Ancol dan Ragunan, Cek Jadwal dan Caranya
-
Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang