Suara.com - Taliban pada hari Selasa mendesak Joe Biden untuk tetap berkomitmen pada perjanjian perdamaian Doha, yang ditandatangani oleh pemerintahan Donald Trump.
Menyadur Anadolu Agency, pernyataan tersebut disampaikan bersama tanggapan publik atas kemenangan capres Partai Demokrat tersebut dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.
Taliban mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perjanjian Doha adalah "dokumen yang sangat baik untuk mengakhiri perang dan untuk masa depan yang lebih baik bagi kedua negara."
Taliban juga mendesak Joe Biden untuk menarikan semua pasukan AS dari Afghanistan yang dinilai akan menjadi kepentingan rakyat dan negaranya. Kelompok tersebut juga menyatakan komitmennya terhadap kesepakatan tersebut.
"Presiden dan pemerintahan Amerika masa depan perlu waspada terhadap lingkaran penjual perang, individu dan kelompok yang berusaha untuk melanggengkan perang dan untuk membuat Amerika terperosok dalam konflik untuk mengejar kepentingan pribadi mereka dan memegang kekuasaan," kata Taliban dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika pemerintah Afghanistan terus menyalahkan para pemberontak atas serangan teroris di seluruh wilayah negaranya.
Wakil Presiden Kedua Afghanistan Sarwar Danish pada hari Senin mendesak pemerintah AS di bawah Joe Biden untuk mempertimbangkan kembali pembicaraan damai yang sedang berlangsung dengan Taliban.
Berbicara dalam sebuah konferensi di Kabul, Danish mengklaim para pemberontak tidak percaya pada resolusi damai untuk konflik tersebut.
"Kami [pemerintah Afghanistan] belum menandatangani atau menjadi pihak dalam perjanjian ini [perjanjian damai antara AS dan Taliban] dan kami juga belum meratifikasinya, dan dari sudut pandang hukum dan kewajiban kami, kami tidak bertanggung jawab atas isinya," jelas Danish.
Baca Juga: Serang Pos Keamanan, Taliban Bunuh 28 Polisi Afghanistan
Di bawah pemerintahan Donald Trump, kesepakatan yang ditandatangani antara AS dan Taliban membuka jalan bagi pembicaraan damai intra-Afghanistan antara pemerintah Kabul dan Taliban.
Namun, tidak ada kemajuan nyata yang dibuat pada pembicaraan di ibu kota Qatar tersebut sejak diluncurkan pada 12 September.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Kondisi Darurat! Supermarket Diminta Bagikan Makan ke Korban Gempa NTT, Pemerintah Siap Ganti
-
Buka Pintu untuk Mees Hilgers, Eks Pelatih Manchester United: Tunjukkan Pesonamu
-
Kebiasaan Ngemil Keluarga Indonesia Berubah, Kini Buah Hadir dalam Bentuk Camilan Praktis
-
Sinopsis Coyote vs. Acme, Debut dengan Skor Tinggi dan Tuai Pujian Kritikus
-
Target PLTS 100 GW Prabowo, IESR Ingatkan Kesiapan Eksekusi di Lapangan
-
Kondisi Air Laut Aman, BMKG Ingatkan Warga NTT Hindari Bangunan Retak Usai Gempa
-
Prabowo Usul Kewarganegaraan Ganda untuk Pemain Timnas Indonesia, Skuad Garuda Bisa Terdampak
-
5 Rekomendasi Tinted Sunscreen yang Multifungsi untuk Kulit Wajah sesuai Review
-
5 HP POCO untuk Gaming Kasual hingga Kelas Berat, Terbaik Mulai Rp2 Jutaan
-
Ulasan The Devil Judge: Ketika Pengadilan Jadi Tontonan Publik