Suara.com - Koordinator Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI Tugas Ratmono mengakui terjadi lonjakan angka kematian pasien positif COVID-19 di Wisma Atlet dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data Wisma Atlet, sudah ada 44 pasien meninggal dunia, menurut Tugas hal itu disebabkan oleh kondisi pasien yang sudah berat ketika sampai di RSD Wisma Atlet sehingga belum sempat dirujuk ke Rumah Sakit lain sudah meninggal dunia.
"Akhir-akhir ini kasus yang meninggal juga meningkat, kalau dulu satu bulan bisa hanya satu, itu pun karena datang sudah berat, saat ini memang karena kita merujuk ke RS rujukan tidak dapat tempat, sebelum dirujuk sudah meninggal," kata Tugas dalam jumpa pers virtual dari Gedung BNPB, Jakarta, Senin (25/1/2021).
Dia menegaskan, RSD Wisma Atlet sebenarnya dibangun hanya untuk keadaan darurat bagi pasien dengan gejala ringan hingga sedang, jika gejala berat yang memerlukan perawatan khusus harus dirujuk ke RS lain.
"RSD Wisma Atlet waktu itu hanya untuk yang ringan dan sedang, sekarang ini dioptimalkan untuk ICU dan HCU agar bisa menangani hal yang lebih berat," ucapnya.
Di sisi lain, dia mengungkapkan bahwa angka kembuhan pasien di RSD Wisma Atlet juga meningkat hingga 86,5 persen.
"Saya kira ini cukup tinggi angka kesembuhannya," tegasnya.
Untuk diketahui, RSD Wisma Atlet kini merawat 4.653 pasien COVID-19 terdiri dari 2.445 Pria dan 2.208 Wanita, semuanya bergejala ringan hingga berat dirawat di tower 4, 5, 6, dan 7, sementara pasien tanpa gejala dialihkan ke tower 8 dan 9 di Pademangan, Jakarta Utara.
Sejak beroperasi 23 Maret, RSD Wisma Atlet telah melayani berbagai kategori pasien Covid-19 hingga jumlahnya mencapai 52.433 orang.
Baca Juga: Nyaris Penuh, Pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Mencapai 77,63 Persen
Kemudian sebanyak 47.780 orang telah keluar dari RSD Wisma Atlet, yaitu karena sembuh sebanyak 47.150 orang, dirujuk ke RS lain sebanyak 586 orang, serta pasien yang meninggal dunia sudah sebanyak 44 orang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Bripda Mesias Dipecat Tidak Hormat Usai Kasus Tewaskan Pelajar di Tual
-
DPR: Perjanjian Transfer Data RI-AS Harus Seimbang dengan Kedaulatan Digital dan Perlindungan Warga
-
Bantah Laporan Awal, Polda Sulsel Pastikan Bripda Dirja Tewas Akibat Penganiayaan
-
Menuju Piala Dunia 2026, DPR Minta Pengunduran Diri Dirut TVRI Tak Ganggu Stabilitas dan Kinerja
-
Terobos dan Rusak Portal JLNT Casablanca, 11 Motor Diamankan Polisi
-
Stunting Jadi Prioritas, Semarang Intervensi Gizi 78 Ribu Remaja dan Pantau 60 Ribu Balita
-
Membaca Amarah Publik pada Dwi Sasetyaningtyas Alumni LPDP: Selesai Kontrak, Selesai Loyalitas?
-
Apes! Pria Ini Kehilangan Mobil Gara-Gara Mabuk dan Ketiduran di Pinggir Jalan
-
Saksi Ungkap Transaksi Rp 809 Miliar ke Gojek, GoTo Tegaskan Dana Kembali ke Kas
-
Kemensos Salurkan Bansos Rp2,56 Triliun untuk Korban Bencana di Pulau Sumatra