Suara.com - Hasil penelitian The Indonesian Institute (TII) mengungkapkan lemahnya pelembagaan internal partai politik. Akibatnya, partai politik cenderung menjadi lebih ekslusif yang membuat ruang inklusi belum sepenuhnya terbuka, khususnya bagi keterlibatan perempuan dan kaum muda.
Direktur Eksekutif TII, Adinda Tenriangke Muchtar menilai saat ini perlu adanya dorongan reformasi kelembagaan partai politik untuk menjadi inklusif, relevan, dan responsif. Itu menjadi sebuah langkah untuk dapat melakukan perbaikan terhadap partai politik.
Dalam penelitian TII tersebut lebih memusatkan aspek internal partai, khususnya bagaimana mendorong upaya penguatan kelembagaan partai politik. Permasalahan internal partai politik yang menjadi fokus dalam kajian tersebut ialah persoalan rekrutmen politik, inklusi kaum muda dan perempuan, keberadaan unit penelitian dan pendanaan partai politik.
"Maka diperlukan sebuah agenda untuk mendorong reformasi internal partai dan inklusi kaum muda dalam partai politik," ujar Adinda dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/4/2021).
Menurutnya, agenda awal yang dapat dilaksanakan yaitu mendorong partai agar lebih inklusif, terutama bagi generasi muda yakni mendorong partai agar menjadi lebih relevan, termasuk ke kelompok akar rumput dan marjinal. Kemudian memperkuat demokrasi internal partai, memperbaiki kelembagaan partai, termasuk dalam kepengurusan partai dan meningkatkan peran divisi penelitian, serta meningkatkan kinerja partai dalam menjalankan fungsinya.
Dengan demikian penelitian TII menyarankan beberapa rekomendasi awal yang perlu dipertimbangkan dan dilakukan oleh partai politik untuk kebutuhan reformasi kelembagaan dan inklusi kaum muda dalam partai politik. Diantaranya ialah membuka proses rekrutmen anggota yang lebih luas, termasuk untuk generasi muda, menguatkan peran dan posisi kader muda melalui peningkatan kapasitas dan keterlibatannya dalam hal-hal substantif di dalam partai politik.
Lalu memperbaiki model dan intensitas komunikasi dengan aktor demokrasi lainnya, serta mendorong partai yang demokratis berdasarkan ideologi, platform, dan kode etik yang bukan didasarkan pada personalisasi atau kekerabatan.
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Faldo Maldini turut menanggapi hasil penelitian TII. Ia berpendapat kalau perbaikan dan reformasi partai politik merupakan keinginan dari banyak pihak termasuk para politisi senior sehingga hal ini menjadi cita-cita bersama tentang perbaikan partai politik ke depan.
Akan tetapi ada satu hal yang disoroti Faldo terkait perbaikan partai yaitu masalah pendanaan partai politik.
Baca Juga: Minta Kaum Muda Tak Takut Berkreasi, Mega: Guncangkan Dunia dengan Karyamu
"Ketika partai didorong untuk berpartisipasi secara aktif untuk melakukan pendidikan politik dan berpartisipasi dalam pemilu, namun partai politik sendiri pun terkendala dalam hal pendanaan," ujar Faldo.
Partai politik yang tidak diperkenankan untuk berbisnis hingga sulitnya mengumpulkan uang sumbangan dari masyarakat menjadi salah satu penghalang bagi pemuda dan perempuan untuk terlibat secara aktif dalam partai politik.
"Karena terkadang mereka akan dikalahkan oleh orang-orang yang sejak awal sudah memiliki modal kapital dan dengan mudah masuk ke dalam partai politik," tuturnya.
Selain itu, Faldo juga menerangkan cara untuk membangun kepemimpinan yaitu harus dimulai dari menempa anak muda di partai politik. Baik itu melalui pertarungan elektoral maupun melalui pengelolaan manajerial internal partai.
"Sehingga anak muda dapat benar-benar dapat memiliki pengaruh positif bagi perkembangan partai dan negara. Bukan melalui oligarki atau dinasti politik, namun berdasarkan kualitas yang telah dimiliki oleh anak muda tersebut."
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Jabat Sekjen Kementan, Harta Mertua Dwi Sasetyaningtyas Tembus Rp3 Miliar Lebih
-
Tolak Hukuman Mati ABK Fandi Ramadan di Kasus 2 Ton Sabu, Legislator DPR: Bukan Aktor Dominan
-
Polisi Ungkap Kendala di Balik Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Konten Kreator Cinta Ruhama
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Propam PMJ Datangi SPBU Cipinang, Usut Oknum Aparat Diduga Aniaya Pegawai Hingga Gigi Copot
-
Balas Pledoi Kerry Riza, Jaksa Minta Hakim Tolak Seluruh Pembelaan Anak Riza Chalid
-
Lasarus Klarifikasi Soal Penutupan Gerai Alfamart-Indomaret: Bukan Ditutup, Tapi Dibatasi
-
Penampakan Before-After TNI Bersihkan Lumpur di Rumah Warga Terdampak Bencana di Aceh
-
Update RUU PPRT dan Revisi UU Ketenagakerjaan di DPR, Partisipasi Publik Digelar Mulai 15 Maret
-
Tragis! Ibu di Sumbawa Tega Bakar Anak Gegara Tolak Cari Pakan Ternak