Suara.com - Aktivis Hak Asasi Manusia Veronica Koman meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersikap yang sama terhadap rakyat Papua ketika meminta Militer Myanmar menghentikan kekerasan kepada rakyat sipil dalam KTT ASEAN.
Veronica mengatakan perlakuan Jokowi kepada rakyat yang membela HAM di Papua tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Panglima Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing kepada rakyatnya.
"Pak Jokowi mengumumkan lima konsensus untuk Myanmar itu, yang mana itu adalah yang masyarakat sipil suarakan selama ini untuk Papua, Jokowi bisa bicara begitu untuk Myanmar tapi kenapa tak bisa untuk Papua sendiri," kata Veronica dalam Dialog Publik DPD GAMKI Jakarta, Rabu (5/5/2021).
Veronica menjelaskan selama ini rakyat Indonesia selalu meminta penarikan militer dari tanah Papua, bebaskan tahanan politik Papua, hingga dialog damai antara pemerintah dan rakyat Papua, namun hal itu tidak dilakukan Jokowi.
"Jadi mohon Pak Jokowi bisa seperti itu ke luar (Myanmar), kenapa tidak bisa ke dalam," tegasnya.
Dia juga meminta pemerintah Indonesia tidak tersinggung ketika banyak negara lain yang mengungkit isu HAM di Papua bahkan hingga ke Sidang PBB, sebab Indonesia sendiri menyinggung Myanmar.
"Jadi jangan sensi ketika negara lain bicara soal HAM di Papua karena Indonesia sebenarnya juga mempraktekkan itu," ucap Veronica.
Alih-alih melakukan hal yang sama dengan yang diucapkan Jokowi kepada Panglima Militer Myanmar, pemerintah Indonesia justru melabeli Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai teroris yang dianggap justru memulai perang ketimbang dialog damai.
Berita Terkait
-
Kominfo Gandeng TNI Amankan Infrastruktur Telekomunikasi di Papua
-
OPM Tuding Pemerintah Putus Internet, Pemprov Papua: Jangan Sebar Hoaks
-
Klaim Banyak Anggota KKB Bertobat, Kapolda Papua: Mereka Kembali ke NKRI
-
Isu Jokowi dan Sri Mulyani Silang Pendapat soal THR PNS, Ini Kata KSP
-
Jokowi Pastikan Tak Mudik ke Solo, Gibran Bocorkan Tradisi Halalbihalal
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Menyaksikan Lahirnya Sebuah Peradaban dari Buku Bara di Atas Demak Bintara
-
War Tiket Upacara 17 Agustus di Istana Daftar di Mana? Ini Link dan Syarat yang Dibutuhkan
-
Bukan Akar Masalah! Pencopotan 137 Kepala Dapur SPPG Tak Perbaiki Program MBG
-
Aguan Lapor, Laba PANI Melejit 484% Jadi Rp1,7 Triliun
-
Benarkah Kesepakatan AS-Iran Sudah Dekat?
-
Ogah Terima Materi, Sumarsih Tagih Janji Pemerintah Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM 1998
-
Ketangkap Lagi! Tiga WN Malaysia Selundupkan Kokain Dalam Sepatu hingga Perlengkapan Mandi
-
Purbaya Semprot Moody's dan Fitch: "Offside!" Salah Ukur Ekonomi RI, Harusnya Lihat Angka 5,6%
-
7 Tips Memilih Mesin Cuci yang Tepat agar Awet dan Sesuai Kebutuhan Rumah Tangga
-
Gugatan Tarif Impor Trump Resmi Diajukan 25 Negara Bagian AS