“Ketika mereka masuk sekolah dasar mereka sudah bisa membaca dan berhitung,” ujarnya.
Dalam proses belajar mengajar pendidikan, kemampuan bahasa Inggris sangat ditekankan. Sebab menurutnya, dalam dunia kerja kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan, sehingga harus dikenalkan sejak dini.
“Ketika mereka tidak bisa bahasa Inggris mereka jadi serba terbatas, sulit mendapatkan pekerjaan di perusahaan internasional dan juga beasiswa ke luar negeri,” jelasnya.
Karenanya kepada murid usia 3 tahun pembelajaran dilakukan seluruhnya dengan bahasa Inggris, usia 4 tahun dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Kemudian untuk 5-6 tahun seluruhnya memakai bahasa Indonesia.
“Tapi itu semua tetap kami lihat dari perkembangan anaknya,” kata dia menambahkan.
Sekolah Sookses memiliki sejumlah mata pelajaran di antaranya bahasa, seni, matematika, sains, fisika, studi sosial, ekonomi, agama, serta pelajaran kepribadian. Seluruh mata pelajaran yang diajarkan disampaikan sesuai dengan jenjang usianya.
Untuk jumlah pengajar hingga saat ini terdiri dari 5 orang termasuk Naif sebagai pendiri. Mereka mengajar 43 siswa. Para pengajar diseleksi dengan ketat, minimal pendidikannya lulusan sarjana.
Kata Naif, setelah lulus dari Sekolah Sookses, para murid akan tetap dipantau perkembangannya. Seperti yang dilakukan pada angkatan pertamanya, yang sudah duduk di kelas 2 SMP.
“Jadi pasca lulus tidak kami lepas begitu saja, tetap kami pantau perkembangannya. Kalau ada kesulitan sebisa mungkin akan kami bantu,” ujarnya.
Pinjam HP Tetangga hingga Cari Donasi Beli Internet
Kembali beroperasi pada masa pandemi Covid-19, membuat pembelajaran tatap muka secara langsung harus ditiadakan, sebagai alternatif proses belajar mengajar dilakukan secara daring.
Hal itulah yang menjadi yang tantangan, mengingat orang tua siswa berasal dari keluarga tidak mampu, ada mereka yang tidak memiliki telepon pintar.
Baca Juga: Cuitan Mahfud MD Dinilai Kurang Tepat, Sosiolog: Tak Perlu Meromantisasi Pandemi
“Mau tidak mau kami carikan solusi, misalnya kami cari tetangga terdekatnya yang mau meminjamkan handphone,” ujarnya.
Sementara untuk biaya paket internet dibagikan secara gratis hasil dari donasi yang dikumpulkan Sekolah Sookses.
Di samping itu, persoalannya lainnya, minimnya pengetahuan para orang tua menggunakan telepon pintar untuk membuka aplikasi seperti pertemuan virtual Zoom. Mau tidak mau Kak Dewa harus datang langsung menemui untuk mengajarinya.
Karenanya sekolah Sookses berharap pandemi Covid-19 dapat segera tertanggulangi dengan baik, sehingga pembelajaran tatap muka dapat digelar kembali.
Orang Tua Harus Berkomitmen
Sekolah Sookses tidak sembarangan menerima para siswanya, mereka harus benar-benar berasal dari keluarga tidak mampu.
“Jadi satu per satu keluarganya kami datangi, kami survei bagaimana kondisi keluarganya, lingkungan dan lainnya sebagainya,” katanya.
Saat para orang tua bersedia menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Sookses, mereka harus terlibat dalam arti mendukung proses belajar mengajar.
“Karena dari awal kami tekankan peran orang tua itu penting. Tidak hanya ibu saja, tapi juga ayah. Jadi keduanya, kecuali single parent. Makanya kami harus kenal keluarganya, kami tahu kondisinya, dan kami bangun hubungan yang personal,” paparnya.
Naif adalah satu dari banyak orang yang tergerak hatinya peduli kepada masyarakat yang terpinggirkan. Menghidupkan Sekolah Sookses, lanjutnya tidak berdiri sendiri, selain dari kantong pribadinya juga bantuan donasi dari orang-orang baik.
Karenanya untuk mendukung proses pembelajaran, Sekolah Sookses masih membuka donasi bantuan baik berupa alat belajar mengajar ataupun dalam bentuk dana, untuk selengkapnya dapat menghubungi kontak 083899192934 atau lewat akun Twitter @SOOKSES.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi