Suara.com - Hubungan ekonomi yang menguntungkan antara Jerman dan Cina terbentur oleh sistem dan fakta bahwa sekutu paling kuat Berlin adalah Amerika Serikat.
Cina telah menjadi mitra dagang terpenting Jerman sejak 2015. Setelah tujuh tahun negosiasi, Uni Eropa menandatangani Perjanjian Komprehensif tentang Investasi (CAI) dengan Cina pada Desember 2020, di bawah kepresidenan Dewan UE Jerman.
Hubungan Berlin dan Beijing berkembang selama 16 tahun kekanselir Angela Merkel dan kini memiliki status "kemitraan strategis yang komprehensif."
Selama 10 tahun, kedua negara telah mengadakan konsultasi antar pemerintah secara rutin, yang terbaru terjadi pada April lalu secara virtual.
Namun, hubungan tersebut terganggu karena adanya represi besar-besaran terhadap minoritas Uighur di Xinjiang, penindasan demokrasi di Hong Kong, agresif Beijing di Laut Cina Selatan, hingga gangguan keamanan di Taiwan.
Konflik dengan Cina semakin meningkat, ditandai ketika Uni Eropa untuk pertama kalinya memberlakukan sanksi atas pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur.
Sebagai balasannya, Cina memberlakukan sanksi terhadap anggota parlemen, pejabat, dan akademisi Uni Eropa. Menanggapi hal tersebut, Parlemen Eropa membekukan ratifikasi CAI pada Mei lalu.
Otokrasi yang berhasil Dalam pandangan strategisnya pada Maret 2019, Komisi Eropa menggambarkan Cina tidak hanya sebagai mitra kerja sama dan pesaing, tetapi juga sebagai pemain global utama dan kekuatan teknologi terkemuka.
"Itulah mengapa Cina terlihat sangat menarik sebagai model bagi banyak negara di dunia," kata Kepala Pusat Diplomasi di Universitas Andrassy Budapest, Heinrich Kreft kepada DW.
Baca Juga: Taliban Izinkan Evakuasi 200 Warga AS yang Masih Tertinggal di Afghanistan
"Kami mencatat bahwa Cina sekarang menjadi aktor politik di panggung dunia," ditambah adanya Inisiatif Belt and Road (BRI) yang diumumkan oleh Presiden Xi Jinping pada September 2013.
Diplomat itu menyimpulkan: "Pada dasarnya, semua hubungan internasional memiliki aspek Cina."
Memiliki aturan sendiri
Sebagai pemain global, Cina tidak lagi hanya beradaptasi dengan aturan yang dibuat oleh Barat. Pakar yang berbasis di Berlin, Eberhard Sandschneider, mengamati: "Cina membuat aturan mereka sendiri."
Hingga peringatan 100 tahun Republik Rakyat Cina pada 2049, Beijing bertekad menjadi kekuatan sosialis modern dengan kemampuan untuk menetapkan dan membentuk aturan secara ekonomi dan teknologi di peringkat puncak dunia.
"Dengan itu, Cina ingin kembali menjadi pusat tatanan dunia", jelas peneliti Cina yang berbasis di Trier, Sebastian Heilmann dalam sebuah wawancara dengan DW.
Berita Terkait
-
Taliban Izinkan Evakuasi 200 Warga AS yang Masih Tertinggal di Afghanistan
-
Pengamat Otomotif: Tidak Semua Pabrikan Mobil Siap Beralih ke Kendaraan Listrik
-
Harga Minyak Menurun Drastis, Produksi AS Masih Terdampak Badai Ida
-
Produksi Minyak Amerika Serikat Merosot, Harga Minyak Naik 1 Persen
-
Dolar AS dan Imbal Hasil Sama-sama Kuat, Harga Emas Ambrol
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan