Suara.com - Ternyata, dulu Imlek hanya dirayakan oleh orang China, namun lambat laun tradisi ini mulai diakulturasi dan bisa diterima oleh banyak orang. Di China sendiri, warga setempat sebenarnya tidak mengenal kata Imlek. Penasaran dengan sejarah Imlek?
Istilah Imlek sendiri hanya digunakan oleh orang-orang Tionghoa di Indonesia yang diambil dari bahasa Hokkian. Imlek di negara asalnya disebut sebagai Chun Jié yang dalam aksara sederhana berarti Festival Musim Semi. Seperti apa sejarah Imlek?
Bagaimana sih asal usul sejarah Imlek?
Imlek adalah perayaan Tahun Baru yang biasa dirayakan orang-orang di kawasan Asia. Mulai dari Tibet, Taiwan, Korea, Vietnam, serta negara dengan penduduk berbahasa China seperti Singapura, dan Malaysia yang juga tak mau melewatkan momen penting ini.
Menurut sejarah, sebenarnya Imlek sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu lho. Hal ini bermula pada saat orang-orang China kuno berkumpul untuk merayakan masa akhir panen. Tetapi, catatan pertama perayaan Imlek dikatakan berasal dari periode Negara-Negara Berperang, yang terjadi ketika Dinasti Zhou akan runtuh.
Sebenarnya, perayaan datangnya musim semi dimulai dari tanggal 1 bulan ke-1 hingga tanggal 15 bulan ke-1 yang dikenal dengan Cap Go Meh. Selama 15 hari tersebut, orang-orang yang merayakan Imlek akan melakukan beberapa ritual sembahyang.
Di Indonesia, ada berbagai cara dalam melakukan perayaan Imlek. Perayaan yang pasti dilakukan saat Imlek di Indonesia adalah berkunjung ke rumah saudara, berbagi angpao, dan makan kue keranjang.
Kenapa Imlek identik dengan warna merah?
Hampir semua orang tentu menyadari kalau sudah masuk bulan perayaan Imlek, pasti ada banyak sekali ornamen berwarna merah di sekitar. Seperti di kantor, mall, atau rumah-rumah kerabat yang merayakan Imlek.
Baca Juga: 10 Ucapan Imlek 2022 Bahasa Inggris dan Terjemahannya, Siap Dibagikan ke Teman Terdekat
Ornamen berwarna merah tersebut juga cukup beragam. Mulai dari angpao, kue keranjang, barongsai, hingga lentera berwarna merah yang diletakkan di depan rumah yang menjadi ciri khas dari perayaan Imlek.
Berdasarkan legenda, dikisahkan dulu ada seekor naga yang bernama Nian yang tinggal di gua dan turun saat musim dingin untuk mencari mangsa saat kelaparan. Kemudian Nian memangsa penduduk desa dan hewan ternak.
Suatu hari, ada penduduk yang melihat Nian berlari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang memakai baju berwarna merah. Penduduk mempercayai bahwa Nian takut dengan warna merah dan juga keramaian.
Sehingga setiap akhir tahun, penduduk meletakkan lentera dan gulungan kertas berwarna merah di depan rumah. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Hal-hal inilah yang kemudian berkembang menjadi sebuah tradisi perayaan musim semi atua Imlek.
Itulah penjelasan lengkap mengenai sejarah Imlek dan alasan warna merah identik dengan perayaan Imlek. Semoga bermanfaat!
Kontributor : Rishna Maulina Pratama
Berita Terkait
-
10 Ucapan Imlek 2022 Bahasa Inggris dan Terjemahannya, Siap Dibagikan ke Teman Terdekat
-
40 Link Twibbon Tahun Baru Imlek 2022 untuk Dipasang di Status WhatspApp
-
Tahun Baru Imlek 2022 Tanggal Berapa? Cek di Sini!
-
Langgar Undang-Undang Anti-Monopoli, Tencent Alibaba dan Bilibili dijatuhi sanksi
-
10 Fakta Yang Chaoyue, Aktris China Pemeran Drama Dance of the Phoenix
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru Anak Miskin, Wamensos: Presiden Jalankan Amanat Konstitusi
-
Pramono Siapkan 500 Ondel-Ondel Karya Desainer Top untuk Rayakan 5 Abad Jakarta
-
Irma Suryani: Program MBG Bisa Jadi Mudarat Jika Salah Sasaran dan Tak Dikelola Profesional
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Metromini dan Kopaja Sudah Pergi, tapi Jakarta Belum Selesai Merindukannya
-
Sembunyi di Kawasan Elit Bangkok, Istri Frans Antoni Ikut Terseret Jaringan Fredy Pratama
-
Jejak Perjuangan Riyan Hidayat: Dari Kebun Kopi Perbatasan Hingga ke Panggung Kepemimpinan Nasional
-
Mendagri dan Menteri ATR/BPN Terbitkan SEB untuk Perkuat Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
-
Penandatanganan SKB Kemendagri & Menteri PKP Perkuat Peran Pemda dalam Program 3 Juta Rumah
-
Dasco Hubungi Kepala BGN, DPR Sebut Ada Efisiensi Anggaran MBG Rp70 Triliun