News / nasional
Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Menteri Sosial, Tri Rismaharini saat menyerahkan bantuan kepada Bupati Nunukan, Asmin Laura untuk korban banjir. (Restu Fadilah/Suara.com)

Suara.com - Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini mengunjungi lokasi bencana banjir di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada Minggu, (9/1/2022). Salah satu desa yang dikunjungi adalah Desa Atap , Kecamatan Sembakung.

Risma bertemu dengan korban banjir di sebuah tenda. Saat bertemu warga, Risma mengaku ingin mendengar apa yang ingin disampaikan oleh para warga kepadanya. Dia berjanji akan meneruskan poin-poin kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Rapat Kabinet Terbatas (Ratas). Risma lantas mempersilahkan mereka untuk menyampaikan aspirasinya.

"Saya ingin mendengar apa yang bapak/ibu sampaikan kepada saya, sehingga saya akan sampaikan masalah-masalah ini kepada Bapak Presiden (Joko Widodo-red)," tutur Risma.

Kemudian, warga secara bergantian mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya. Pertama, Ketua KSB (Kampung Siaga Bencana), Abdullah. Dia bercerita tentang bagaimana kesulitan menangani banjir tahunan yang kerap melanda Desa Atap karena keterbatasan perahu. Oleh karena itu, dia meminta perahu untuk mengevakuasi warga yang terdampak banjir.

Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Pembangunan Kawasan Industri Hijau di Kaltara Tak Gunakan APBN

Abdullah, Ketua Kampung Siaga Bencana saat menyampaikan keluh kesahnya kepada Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kaltara pada Minggu, (9/1/2022). (Restu Fadilah/Suara.com)

"Ketika kami bantu warga, pada saat kami mengevakuasi warga, saat itu juga perahu dibutuhkan warga, mesin, minyak ketika berbicara itu kami tidak berdaya bu. Secara kemanusiaan kami siap, tinggal di posko tidak pulang ke rumah kami siap, tapi kalau kami bicara minyak, mesin, dan perahu kami tidak mampu bu," kata pria yang akrab disapa Dullah tersebut.

Dullah juga meminta agar status Kampung Siaga Bencana dinaikkan menjadi Kawasan Siaga Bencana. Sebab, yang dibantu oleh tim bukan hanya satu kampung, melainkan lebih dari enam kacamatan.

"Bayangkan bapak/ibu, dari desa satu ke satunya itu kami harus melewati sungai hingga berjam-jam, sementara kemampuan kami hanya cukup untuk 1 kampung siaga bencana. Supaya eksis penanganan sukarela ini tolong dinaikkan status kampung siaga bencana menjadi kawasan siaga bencana," pintanya.

Banjir di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. (Restu Fadilah/Suara.com)

Sekadar informasi, banjir tahunan ini berdampak terhadap enam kecamatan dan 79 desa, 3.179 rumah dan 3.753 KK serta 10.880. Fasilitas umum tak luput terdampak banjir. Aktivitas masyarakat hingga saat ini masih belum bisa berjalan seperti biasanya.

Warga lainnya Samsul mengeluhkan soal pencairan BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) dan PKH (Program Keluarga Harapan). Terhitung sejak Januari-Desember 2021 masih banyak warga yang belum menerima.

Baca Juga: Diterkam Buaya Saat Memancing, Warga Kaltara Belum Ditemukan

"Terhitung dari Januari 2021-Desember 2021 penerima kartu BPNT di Kecamatan Sembakung masih kurang 300-an jiwa dengan saldo nihil. Sehingga mereka tiap bulan ngecek di link, tapi isinya kosong," ujarnya.

Komentar