Suara.com - Isu perpanjangan masa jabatan presiden kembali menyeruak beberapa waktu belakangan ini. Hal tersebut lantas menuai tanggapan termasuk dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Melansir Wartaekonomi.co.id -- jaringan Suara.com, Peneliti Centra Initiative, Erwin Natosmal Oemar, memberi tanggapan atas pernyataan Megawati Soekarnoputri soal jabatan presiden.
Seperti diketahui, belum lama ini ketua umum PDIP tersebut menyatakan penolakan terkait perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Hal tersebut disampaikan Megawati lewat salah satu bawahannya, yakni Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP, Hasto Kristiyanto.
"Itu tindakan negarawan dari Megawati. Jangan sampai negara mati dalam periode di mana presidennya dari partainya sendiri," ujar Erwin, Sabtu (15/1/2021).
Sebab, menurut Erwin, Indonesia merupakan negara hukum dan demokrasi. Oleh sebab itu, pemilihan umum harus dilaksanakan guna mendapatkan pemimpin baru.
"Harusnya, dengan pendapat ini polemik soal masa jabatan bisa berhenti," kata Erwin.
Tidak hanya itu, Erwin juga menuntut pernyataan Megawati dijalankan secara konsisten lewat kebijakan-kebijakan yang pemerintah miliki.
"Pernyataan ini harus diimplementasikan dengan sejumlah kebijakan, seperti tidak meneruskan upaya reformasi konstitusi sebagai pintu masuk wacana perpanjangan masa jabatan presiden," ucapnya.
Baca Juga: Best 5 Oto: Jeep Wrangler Hybrid di Pasar Eropa, Bugatti Produksi Skuter Listrik
Seperti diketahui, sebelumnya Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengklaim Ketua Umum Megawati Sukarnoputri menolak perpanjangan masa jabatan presiden.
Hasto juga mengatakan bahwa Megawati akan patuh pada konstitusi. Oleh sebab itu, ketua umum PDIP tersebut tetap setuju dengan maksimal masa jabatan dua periode sebagaimana diatur dalam konstitusi.
Tag
Berita Terkait
-
Jadi Wakil Presiden AFF, Ratu Tisha Ungkap Suka Duka Piala AFF 2020
-
Dilaporkan ke KPK, Kaesang: Saya Mulai Bisnis dari Nol, Duitnya Halal
-
Lantik Partai Ummat Riau, Amien Rais Sentil Nasib Demokrasi Era Jokowi
-
Prabowo-Ganjar Dinilai Cocok Duet di Pilpres 2024, Megawati Turut Disinggung
-
Best 5 Oto: Jeep Wrangler Hybrid di Pasar Eropa, Bugatti Produksi Skuter Listrik
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Menanti Vonis Empat Hari Jelang Ultah ke-27, Laras Faizati: Hadiah Terbaik adalah Kebebasan
-
Jakarta Waspada Superflu, Pramono Anung Persilakan Warga Suntik Vaksin Influenza
-
Luluk PKB: Penetapan Tersangka Gus Yaqut Harus jadi Momentum Reformasi Total Tata Kelola Haji
-
6 Fakta Kasus Yaqut Cholil Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
-
Duplik Laras Disambut Tepuk Tangan, Kuasa Hukum: Tak Ada Mens Rea, Ini Kriminalisasi!
-
Ikut Jadi Tersangka, Ini Peran Vital Gus Alex di Skandal Korupsi Kuota Haji
-
Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Gus Yaqut Janji akan Kooperatif
-
Sebut KPK Agak Lambat, Luluk Nur PKB Tetap Apresiasi Penetapan Tersangka Eks Menag Yaqut
-
Kerugian Korupsi Haji Masih Misteri, BPK Sibuk Berhitung Usai Gus Yaqut dan Gus Alex Tersangka
-
Pasar Kerja Timpang, Belasan Juta Pekerja Dipaksa Terima Upah Murah