Suara.com - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva, menegaskan pemerintah dan militernya tidak pernah berniat mengobarkan perang terhadap rakyat Ukraina.
Lyudmila mengatakan, operasi khusus militer Rusia yang terjadi kekinian hanya ditujukan demi demiliterisasi dan de-nazi-fikasi Ukrania. Selain itu, tujuan operasi militer juga untuk melindungi warga sipil Ukraina maupun rakyat Rusia.
Sebab, kata dia, sejumlah kebijakan pemerintah Ukraina dan NATO semakin agresif dan bisa menimbulkan tragedi kemanusiaan yang jauh lebih besar bagi warga sipil di kedua negara tersebut.
“Jika Ukraina menjadi anggota NATO, maka infrastruktur militer NATO bisa ditempatkan di daerah perbatasan kami, termasuk senjata nuklir mereka. Selanjutnya, hanya dalam waktu 3 menit, senjata itu bisa mencapai Moskow,” kata Lyudmila.
Lyudmila mengatakan hal tersebut dalam sesi wawancara khusus dengan Suara.com di rumah dinasnya, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (2/3/2022).
Dikuasai Neo Nazi
Dia menjelaskan, operasi militer yang dilancarkan Rusia saat ini erat terkait dengan peristiwa tergulingnya Presiden Ukraina Viktor Yanukovych tahun 2014.
Lyudmila menyebut peristiwa tersebut sebagai kudeta yang berdarah, karena proses penggulingan Presiden Yanukovych turut memakan korban warga sipil.
Sejak saat itu, pemerintahan Ukraina selalu dipegang oleh presiden yang didukung oleh negara-negara Barat.
Baca Juga: Operasi Militer ke Ukraina Disebut Barbar, Dubes Rusia Kritik Standar Ganda Negara Barat
“Ukraina sejak 2014 semakin disetir oleh Barat, masuk dalam apa yang disebut sebagai Anti-Russia Project,” kata dia.
Tak hanya itu, kelompok-kelompok Neo Nazi yang ikut dalam huru-hara 2014 tersebut juga bisa berkembang atas dukungan rezim-rezim pemerintahan Ukraina.
“Anda tahu? Kebijakan pertama rezim baru itu adalah merepresi populasi Rusia di Ukraina. 40 persen warga Ukraina adalah etnis Rusia. Selain itu, mayoritas warga di banyak daerah Ukraina berbahasa Rusia, termasuk Luhansk dan Donetsk,” kata dia.
Dia mengatakan, rezim Kiev sejak tahun 2014 menerapkan kebijakan represif terhadap budaya rakyatnya sendiri, yakni melarang mereka menggunakan bahasa Rusia.
“Kebijakan rezim Kiev sangat aneh,” kata Lyudmila dan mengkritiknya dengan analogi, “Seperti bahasa Inggris dilarang di tanah Britania, atau bahasa Jawa dilarang digunakan di Pulau Jawa.”
Tentu saja, sambung Lyudmila, warga Ukrania melawan kebijakan represif dan diskriminatif tersebut. Sebab, warga Ukrania sejak dulu hingga kekinian selalu mengakui diri sebagai etnis Rusia.
Tag
Berita Terkait
-
Bom Thermobaric, Senjata Mematikan Milik Rusia dan AS yang Mampu Buat Tubuh Manusia Lenyap Seketika
-
Kena Imbas Konflik Rusia dan Ukraina, Pabrikan Mobil Top Rusia 4 Hari Tak Beroperasi
-
Terdampak Invasi Rusia, UNHCR: Satu Juta Pengungsi Tinggalkan Ukraina
-
Terkendala Pasokan Komponen, Perusahaan Mobil Rusia Avtovaz Hentikan Produksi
-
Segera Dijual, Segini Harga Chelsea yang Ditawarkan Roman Abramovich
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi