Suara.com - Perwakilan pencari suaka asal Afghanistan melakukan audiensi dengan pihak United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Indonesia.
Audiensi tersebut digelar di Kantor UNHCR, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan pada Selasa (8/3/2022).
Salah satu pencari suaka asal Afghanistan, Rehme mengatakan, belum ada jawaban yang memuaskan dari pihak UNHCR terkait perpindahan ke negara ketiga dari hasil audiensi tersebut .
"Tadi kita sudah diskusi sama officer UNHCR tentang process dan pindah kita ke negara ketiga tapi masih kita tidak dapat jawaban yang tertentu," ujar Rehme kepada Suara.com, Selasa (8/3/2022).
Meski begitu, pihak UNHCR akan melakukan upaya membantu para pengungsi Afganistan.
"Cuma officer (UNHCR) bilang, UNHCR akan berusaha untuk berubah situasi pengungsi. Kita dengar dari UNHCR mereka akan berusaha bantu pengungsi itu saja," ucap Rehme salah satu perwakilan audiensi dengan UNHCR.
Hal yang sama dikatakan Hussein, salah satu pencari Suaka asal Afghanistan. Ia mengungkapkan, pihak UNHCR tidak memberikan jawaban yang memuaskan tentang tuntutannya usai melakukan aksi damai dan audiensi.
Pihak UNHCR kata Hussein, menyampaikan bahwa tuntutan untuk memberangkatkan para pengungsi ke negara ketiga yang terbebas dari konflik perang, tergantung dari penerimaan hukum imigrasi negara ketiga.
"Sayangnya, kami tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. mereka mengatakan bahwa mencoba yang terbaik. janji mereka yang biasa. kemudian mereka mengatakan itu tergantung pada penerimaan hukum imigrasi negara ketiga," papar Hussein.
Namun faktanya, Perwakilan UNHCR di Jakarta tidak pernah mencoba memproses kasus dari tahun 2018.
"Karena hukum seorang pencari suaka harus diwawancarai dalam waktu 12-18 bulan. tetapi bahkan ribuan pencari suaka menunggu sekitar tujuh tahun untuk wawancara. Kami memiliki ribuan pengungsi yang mereka tunggu sekitar sebelas tahun untuk dimukimkan kembali setelah mendapatkan kartu pengungsi," katanya.
Bahkan, kata Hussein, ada 15 belas pengungsi dari berbagai kota melakukan bunuh diri karena stres akibat kurangnya perhatian dari UNHCR di Jakarta.
"Dalam kurun waktu 2020-2022 lima belas pengungsi dari berbagai kota melakukan bunuh diri karena stres hidup, penantian yang lama, kurangnya perhatian dari UNHCR di Jakarta," ungkap dia
Selain itu, Hussein menegaskan lebih dari satu dekade, pengungsi Afganistan tak pernah mendapat hak asasi manusia. Bahkan, ribuan anak membutuhkan pendidikan.
"Kami telah tinggal di Indonesia selama lebih dari satu dekade. kami tidak pernah memiliki hak asasi manusia. Ribuan anak perlu belajar. Pengungsi tidak diperbolehkan bekerja. Jadi bagaimana kami telah menyediakan biaya sehari-hari kami. Tempatkan saja diri anda," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
Pilihan
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
-
Perang Terbuka! AS Klaim Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
Terkini
-
Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus dan Gereja di Lebanon, IDF Resmi Mengakui
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Iran Restock Rudal dan Drone saat Donald Trump Sibuk 'Omon-omon'
-
Bela Paus Leo XIV, Menlu Prancis Anggap Pernyataan Donald Trump Tidak Bisa Diterima
-
Kebijakannya Baik Tapi Caranya Salah, MUI Sorot Metode DKI Musnahkan Ikan Sapu-Sapu: Itu Tidak Ihsan
-
Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus di Lebanon, Publik: Hizbullah Tak Bakal Melakukan Itu
-
Resmi! Kaesang Umumkan Anggota DPD RI Bustami Zainudin Gabung PSI
-
Iran Bersedia Negosiasi tapi Siap Perang! Teheran Ogah Tunduk pada Tipu Daya AS
-
Ironi Jakarta: WNA Jerman Dijambret di Tengah Status Kota Teraman ASEAN
-
Kapal Touska Disita, Iran Pastikan akan Balas Tindakan Amerika Serikat