Suara.com - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Rusia berusaha menyembunyikan bukti kejahatan perang untuk menghindari reaksi global. Sementara PBB menggelar pemungutan suara untuk menangguhkan Rusia dari Dewan HAM PBB.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan dalam postingan video Rabu (06/04) malamnya bahwa Rusia berusaha menyembunyikan bukti kejahatan perang yang dilakukan di Ukraina.
"Kami memiliki informasi bahwa pasukan Rusia telah mengubah taktik dan mencoba untuk memindahkan orang-orang yang tewas, orang-orang Ukraina yang tewas, dari jalan-jalan dan ruang bawah tanah wilayah yang mereka duduki," kata Zelensky.
"Ini hanya upaya untuk menyembunyikan bukti dan tidak lebih," tambahnya.
Zelensky mengatakan bahwa para pemimpin Rusia "takut bahwa kemarahan global atas apa yang terlihat di Bucha akan terulang setelah apa yang terlihat di kota-kota lain."
Lebih lanjut, Zelenksy mengatakan Rusia juga memblokir akses bantuan kemanusiaan ke kota Mariupol yang terkepung karena ingin menyembunyikan bukti bahwa ada ribuan orang di sana tewas.
"Saya pikir itu adalah tragedi, itu neraka, saya tahu bahwa itu bukan puluhan, tetapi ribuan orang, orang yang berbeda, yang telah terbunuh di sana dan ribuan terluka," kata Zelensky.
"Mereka tidak akan bisa menyembunyikan semua ini dan mengubur semua orang-orang Ukraina yang meninggal dan menyembunyikan yang terluka. Ini soal angka, jumlahnya ribuan, tidak mungkin untuk disembunyikan."
Zelensky pun mendesak warga Rusia untuk memprotes perang tersebut. "Jika Anda memiliki sedikit rasa malu tentang apa yang dilakukan militer Rusia di Ukraina, maka bagi Anda warga Rusia, ini adalah momen penting: Anda harus menuntut, hanya menuntut, diakhirinya perang,” tegasnya.
Baca Juga: Bucha: Biden Desak Putin Diadili Atas Kejahatan Perang
PBB gelar voting untuk menangguhkan Rusia dari Dewan HAM Majelis Umum PBB menggelar pemungutan suara pada hari Kamis (07/04) terkait penangguhan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) organisasi tersebut.
Pemungutan suara itu diminta oleh Amerika Serikat (AS) sebagai tanggapan atas penemuan ratusan mayat di kota Bucha di Ukraina setelah pasukan Rusia menarik diri dari daerah itu.
Sebanyak 47 anggota Dewan Hak Asasi Manusia dipilih oleh Majelis Umum untuk masa jabatan tiga tahun.
Masa jabatan Federasi Rusia akan berakhir pada 2023, seperti halnya Ukraina. Agar penangguhan disetujui, diperlukan dua pertiga mayoritas dari semua suara, tidak termasuk abstain.
Sementara itu, Kementerian Kehakiman AS bekerja dengan sekutunya di Eropa dan jaksa di Ukraina untuk menyelidiki potensi kejahatan perang yang dilakukan Rusia di Ukraina.
Jaksa Agung AS Merrick Garland mengatakan pada hari Rabu (06/04) jaksa AS di seluruh dunia tengah bekerja untuk mengumpulkan bukti dan untuk "mengumpulkan informasi tentang kekejaman yang kita semua lihat di foto-foto dan rekaman video.''
Korban tewas di Mariupol dilaporkan capai 5.000 orang
Dilansir Associated Press, Wali Kota Mariupol Vadym Boichenko mengatakan bahwa hingga Rabu (06/04) lebih dari 5.000 warga sipil telah tewas selama pengepungan Rusia atas kota pelabuhan tersebut.
Boichenko menambahkan bahwa lebih dari 90% infrastruktur kota dihancurkan oleh serangan Rusia.
Pasukan Rusia juga telah membom rumah sakit, termasuk satu di mana 50 orang tewas terbakar, katanya.
Selain itu, dilaporkan 11 mayat ditemukan di kota Hostomel di wilayah Kyiv. Mayat-mayat tersebut ditemukan di sebuah garasi, demikian kata mantan Menteri Dalam Negeri Ukraina Arsen Avakov dalam sebuah postingan di Telegram.
Menurut Avakov, korban tewas adalah warga sipil yang dibunuh oleh tentara Rusia.
Hostomel terletak di barat laut Kyiv dan di sana terdapat bandara dengan nama yang sama yang menerima pesawat kargo internasional.
Sebagian besar dari 16.000 penduduknya telah meninggalkan daerah itu. Sebelumnya, pemerintah setempat mengatakan bahwa 400 penduduk hilang dari kota itu setelah 35 hari invasi Rusia.
Pasukan Ukraina kembali menguasai kota itu, beserta tetangganya Bucha dan Irpin beberapa hari lalu. rap/ha (Reuters, AP, AFP, dpa)
Berita Terkait
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik
-
BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Ratu Tisha: Sepak Bola dan Pendidikan Dapat Berjalan Beriringan
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini
-
Semarak Turnamen Bulu Tangkis di Mall Solo, 219 Peserta Ikut Bertanding
-
Komunikasi Politik Prabowo Dinilai Kerap Blunder, Akademisi: Bisa Rugikan Pemerintah
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana