Suara.com - Desa Senkivka di Ukraina sungguh unik. Karena letaknya dekat dengan perbatasan Rusia dan Belarus, desa tersebut menjadi tempat beragam festival perayaan persahabatan antara ketiga negara. Namun itu cerita lama. Desa Senkivka kini menjadi garis depan pertempuran.
Warga desa itu mengisahkan bagaimana keluarga-keluarga dari dusun tersebut tercerai-berai di perbatasan ketiga negara. Wartawan BBC, Yogita Limaye, pergi ke Senkivka dan menyaksikan dari dekat bagaimana perang mengoyak sebuah komunitas.
Baca juga:
- 'Rudal Rusia menghancurkan duniaku' - Warga Ukraina ditinggal mati istri dan bayinya
- Nekat ke 'neraka' Mariupol demi selamatkan ayah dan ibu
- Cerita mualaf dan ketua muslimah Ukraina: 'Ramadan kali ini sangat memilukan, agama menguatkan kami'
Rusia menarik mundur pasukannya dari bagian utara Ukraina pada awal April, namun gempuran artileri dan serangan granat masih berlanjut di Senkivka. Sebelum invasi Rusia berlangsung, desa itu dihuni lebih dari 200 orang. Kini hanya ada segelintir orang yang masih bertahan.
Rumah Nina Malenok berada di pinggir jalan yang dilalui pasukan Rusia ketikas melancarkan invasi menuju Kota Chernihiv dan Ibu Kota Kyiv.
Saksi bisu kejadian itu berada di halaman rumah Nina: ekor sebuah roket yang ditembakkan pada 24 Februari dini haritatkala perang resmi dimulai.
"Saya mendengarnya (roket) mendarat di halaman saya. Ada nyala api dan asap di mana-mana. Lampu saya mati total. Saya melompat dari ranjang dan keluar dari rumah," kisah Nina.
Beberapa hari sesudahnya, Nina mendengar banyak bunyi-bunyian saat dia bersembunyi di ruang bawah tanah. Ada suara sejumlah pesawat, berbagai kendaraan berat, dan peluit yang kerap ditiup.
Pada 8 Maret, beberapa wartawan televisi Rusia datang ke rumah Nina dengan didampingi sejumlah tentara Rusia.
Baca Juga: Jerman akan Mengirimkan Tank Anti-Pesawat ke Ukraina
"Mereka merekam segala sesuatu di sini, semua selongsong artileri dan lainnya. Mereka mengatakan kepada saya Ukraina menyerang negaranya sendiri. Mereka kemudian mengirim nomor [yang tertera] pada roket kepada seseorang di Rusia, dan mereka langsung menerima respons bahwa [roket] itu adalah milik mereka [Rusia]."
Banyak roket-roket serupa tersebar di berbagai penjuru Desa Senkivka. Saat melihat foto-foto berbagai roket tersebut, para pakar mengatakan kepada BBC bahwa senjata itu bisa mengangkut bom tandan yang dilarang di sejumlah negara lantaran dampak kerusakannya.
Baik Rusia maupun Ukraina saling menuduh satu sama lain tentang siapa yang melesatkannya.
Bahkan ketika Rusia menarik mundur pasukan, Nina tidak merasa aman.
"Menakutkan hidup seperti ini, namun saya terbiasa dengan rumah saya. Ke mana saya akan pergi? Saya bisa mendengar suara gempuran. Saya bisa memperlihatkan pos pemeriksaan Rusia dari halaman saya," ungkapnya.
Rumah Nina dan rumah warga lainnya di Desa Senkivka juga terlihat dari wilayah Rusia. Pasukan Rusia bisa melihat apa yang mereka tembak.
Bagi Lidiya Bilousova, ini adalah kali kedua dalam hidupnya dia menyaksikan tank di depan rumahnya.
Baca juga:
- Bertahan hidup di Mariupol: Aksi-aksi heroik warga di tengah kepungan militer Rusia
- Siapa Ramzan Kadyrov pemimpin Chechnya yang bantu Putin serang Ukraina?
- Kesaksian para pendeta Gereja Ortodoks Rusia di Ukraina yang memberontak melawan Moskow
Perempuan kelahiran 1930 itu dapat dengan jelas mengingat Perang Dunia II dan para tentara Jerman yang masuk ke desanya.
"Kami sudah diperingatkan oleh serdadu kami yang mundur bahwa mereka akan datang. Kami lantas bersembunyi di parit-parit berbekal roti kering di tas kain. Pada fajar, mereka sudah berada di jalan desa dengan kuda-kuda dan mesin-mesin, melintasi pekarangan kami dengan senjata mesin. Tapi tiada gempuran artileri besar-besaran seperti sekarang.
"Dulu saya bisa kabur. Sekarang saya sudah tua, saya tidak lagi bisa berlari," kata Lidiya.
Dia menambahkan, "Ini yang bisa saya beritahu, tiada hal bagus muncul dari perang. Setelah perang terakhir [Perang Dunia II] apa yang ditinggalkan buat kami?"
Gempuran artileri membuat takut Lidiya, namun tidak mau meninggalkan rumah yang dia huni hampir seumur hidupnya.
Sebelum Rusia menginvasi Krimea pada 2014, perbatasan tiga negara dibuka secara berkala dan festival persatuan akan digelar di titik tempat Ukraina, Belarus, dan Rusia bertemu.
Di sana terdapat sebuah monumen yang didedikasikan untuk persahabatan mereka. Nama monumennya, "Tiga Saudari Perempuan".
"Festival tersebut sungguh indah. Kami, orang Rusia, dan orang Belarus akan merayakan bersama. Orang-orang dari berbagai daerah, tamu-tamu penting berdatangan," papar Lidiya.
Mendiang suami Lidiya adalah orang Belarus.
"Ketiga negara telah bersahabat selama bertahun-tahun. Kami saling mengunjungi, kawin-mawin. Kini selesai sudah."
Sanak saudara dan sahabat yang tinggal di ketiga negara kini telah terpecah belah, baik dalam pikiran maupun secara jarak.
Setelah 2014, warga di ketiga negara sulit untuk saling melintasi perbatasan. Kini, hal itu mustahil.
Mykhaylo Dudko punya tiga saudara kandung dan sejumlah keponakan yang menetap di Rusia. Dia tidak bisa menemui mereka selama bertahun-tahun. Sekarang dia tidak bisa memahami mereka.
"Saudara kandung saya berkata bahwa kami yang memulai perang. Namun kami tidak punya niat semacam itu. Justru Rusia yang menginvasi kami. Saya ingin keluarga saya menggunakan otak mereka, melihat situasi secara independen," kata Dudko.
Nina Malenok mengaku berhenti bicara dengan abangnya yang tinggal di Belarus.
"Dia berkata, Amerika yang menyerangmu dan kamu menyalahkan Rusia. Dia hanya berjarak lima mil dari perbatasan dan dia tidak percaya atas apa yang benar-benar terjadi. Saya ingin mengenyahkan dia dari kehidupan saya karena itu."
Berita Terkait
-
Rusia Minta Evakuasi Diplomat dari Ibu Kota Ukraina, Eropa Memanas
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman
-
Temui Menlu Iran, Putin Sebut Siap Mediasi Konflik di Timur Tengah
-
Kedubes Rusia Sampaikan Duka atas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Pura-pura Mogok! Sabu 16 Kg dalam Ban Mobil Towing Terbongkar, Polda Metro Bekuk 2 Kurir di Depok
-
Filipina Mulai Ketar-ketir Efek Domino Konflik Geopolitik, Termasuk Perang AS - Iran
-
Putus Hubungan dengan WHO, Amerika Serikat Berisiko Kehilangan Jejak Penyebaran Hantavirus
-
Catatan Tertulis Suku Indian Navajo Tunjukkan Hantavirus Sudah Lama Mengintai Umat Manusia
-
Panas! Ade Armando Batal Maaf ke Jusuf Kalla Jika Laporan Polisi Tak Dicabut
-
Studi Ungkap Dilema Nikel: Dibutuhkan untuk Energi Bersih, tapi Ancam Lingkungan
-
Bidik Tersangka Tragedi Bekasi: Polisi Periksa 39 Saksi dari Pejabat KAI hingga Bos Taksi Green SM
-
Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?
-
Kasus Kekerasan Gender Tembus 376 Ribu, LBH APIK Ungkap Lemahnya Perlindungan Korban
-
Eks Gubernur Sultra Nur Alam Dilaporkan ke KPK Terkait Korupsi Dana Unsultra Rp12 Miliar