Suara.com - Dubai menjadi tempat perlindungan bagi banyak orang kaya Rusia yang melarikan diri untuk menghindari sanksi negara-negara Barat akibat perang di Ukraina.
Para miliarder dan pengusaha Rusia yang datang ke Uni Emirat Arab berjumlah sangat banyak, data yang tak pernah terjadi sebelumnya, kata para pebisnis kepada BBC.
Pembelian properti di Dubai oleh orang Rusia meningkat 67% dalam tiga bulan pertama tahun 2022, menurut satu laporan. Uni Emirat Arab tidak menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atau mengkritik invasi Rusia.
Negara ini juga memberikan visa kepada warga Rusia yang tidak terkena sanksi sementara negara-negara Barat membatasi gerakan mereka.
Baca juga:
- Kena hantam rangkaian sanksi, dapatkah Rusia mengandalkan China?
- Ukraina diserang Rusia: China tolak sanksi sementara Turki lakukan mediasi
- Para 'crazy rich' Rusia yang kena sanksi Barat
Dalam dua bulan terakhir, diperkirakan ratusan ribu orang meninggalkan Rusia, walaupun jumlah yang pasti belum dapat dipastikan.
Seorang ekonom Rusia mengatakan sekitar 200.000 warga Rusia meninggalkan negara mereka dalam 10 hari pertama sejak perang dimulai pada 24 Februari lalu.
Virtuzone, yang membantu perusahaan-perusahaan mendirikan bisnis di Dubai, mengatakan klien dari Rusia meningkat tajam.
"Kami menerima permintaan lima kali lipat lebih banyak dari Rusia sejak perang dimulai," kata direktur perusahaan George Hojeige.
"Mereka khawatir perekonomian akan hancur. Itulah mengapa mereka datang untuk menyelamatkan kekayaan mereka," tambahnya.
Membanjirnya warga Rusia ke Dubai meningkatkan permintaan vila dan apartemen mewah. Perusahaan real estat melaporkan kenaikan tajam harga karena banyak orang Rusia yang tiba di Dubai ingin membeli rumah.
Perusahaan real estat di Dubai, Betterhomes mengatakan pembelian apartemen oleh orang Rusia naik dua pertiga dalam tiga bulan pertama 2022.
Dan perusahaan real estat lain, Modern Living, mengatakan kepada BBC mereka mempekerjakan pegawai yang bisa berbahasa Rusia untuk mengantisipasi naiknya permintaan ini. Direktur perusahaan Thiago Caldas mengatakan mereka menerima banyak telepon dari orang Rusia yang ingin segera pindah ke Dubai.
"Orang Rusia yang datang tidak hanya membeli untuk investasi namun mereka ingin menjadikan Dubai sebagai rumah kedua mereka," katanya.
"Menguras otak"
Banyak perusahaan multinasional dan perusahaan baru Rusia juga memindahkan pegawai mereka ke Uni Emirat Arab.
Fuad Fatullev adalah salah seorang pendiri WeWay, perusahaan teknologi yang memiliki kantor di Rusia dan Ukraina. Setelah perang pecah, ia dan pendiri perusahaan lain memindahkan ratusan pegawai ke Dubai.
"Perang sangat mempengaruhi usaha kami. Kami tidak bisa melanjutkan dalam kondisi perang dan kami harus memindahkan ratusan pegawai ke luar Ukraina dan Rusia," kata Fuad yang merupakan warga Rusia.
Ia menambahkan mereka memilih Uni Emirat Arab karena wilayah ini memiliki suasana ekonomi dan politik yang relatif aman untuk bisnis.
Ia mengatakan bisnis Rusia pindah ke luar negeri karena mereka sulit beroperasi akibat sanksi. Tantangan lebih berat adalah bila perusahaan-perusahaan multinasional itu memiliki klien di luar negeri. Sebagian besar perusahaan Barat telah memutus hubungan dengan perusahaan yang bermarkas di Rusia, katanya.
Perusahaan global seperti Goldman Sachs, JP Morgan dan Google telah menutup kantor rmereka di Rusia dan memindahkan sebagian pegawai ke Dubai.
"Kejadian ini sangat menguras otak. Banyak orang angkat kaki karena banyak sekali pembatasan bisnis saat ini," kata Fatullev.
Harga properti naik pesat
Bank sentral Rusia dilarang untuk mengambil cadangan devisa di luar negeri. Sebagian bank Rusia juga telah dicabut dalam sistem finansial Swift.
Untuk melindungi cadangannya, pemerintah Rusia mengaktifkan pembatasan modal dan melarang warganya ke luar negeri dengan dana lebih dari US$10.000 uang asing.
Kesulitan transfer uang tunai membuat banyak orang Rusia menggunakan pembayaran kripto. Sebagian pembelian memiliki perantara yang menerima pembayaran dalam bentuk kripto dan kemudian memberikan uang tunai atas nama pembeli.
Negara-negara Teluk termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi menolak seruan negara-negara Barat untuk menerapkan sanksi terhadap Rusia.
Uni Emirat Arab adalah satu dari hanya tiga negara, termasuk China dan India yang abstain dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB Februari lalu untuk mengecam invasi Rusia ke Ukraina. Uni Emirat Arab juga abstain dalam Majelis Umum PBB pada 7 April yang melakukan pemungutan suara untuk membekukan keanggotaan Rusia dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB.
Meningkatnya investasi Rusia ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Uni Emirat Arab ditempatkan dalam "daftar abu-abu" oleh Financial Action Task Force (FAFT), pengawas kejahatan finansial global
Ini berarti, Uni Emirat Arab menghadapi monitor lebih ketat dalam upaya menghadapi pemutihan uang dan pendanaan teroris.
Pemerintah Uni Emirat Arab mengklaim mereka telah mengambil langkah signifikan untuk mengatur investasi dan telah menyatakan bahwa mereka tetap akan bekerja sama secara erat dengan FAFT.
Berita Terkait
-
Dubai dan Abu Dhabi Diskon Besar-besaran Tarif Hotel Mewah di Tengah Perang, Minat?
-
Influencer Inggris Jadi Buzzer Pemerintah? Pamer Bikini Tutupi Realita Perang Iran
-
Serangan Rudal Hantam Bandara Dubai, Tanki BBM Terbakar, Asap Hitam Membumbung Tinggi
-
Dubai Diguncang Drone Iran! Eks Bos Leeds United Sebut Pemerintah UEA Sensor Ketat
-
Drone Iran Hantam Dubai Creek Harbour Saat Militer Israel Mulai Gempur Teheran Besar-besaran
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
DPR Minta Pemerintah Awasi Ketat ASN yang WFH Jumat: Harus Benar-benar Kerja!
-
Waspada Kemarau Panjang 2026, DPR RI Minta Kemenhut Perkuat Koordinasi Cegah Karhutla
-
Amerika Serikat Catut Dunia Tak Akui Iran Kuasai Selat Hormuz
-
Viral Spanduk 'TNI Pembunuh' di JPO Jakarta, Satpol PP: Hanya Konten, Langsung Dibongkar
-
Warga Aceh Dikeroyok di Markas Polda Metro, Mualem Berang: Polisi Harus Lindungi, Bukan Membiarkan!
-
Warteg di Manggarai Hangus Terbakar Usai Ledakan Gas, Kerugian Capai Rp230 Juta
-
Status Tahanan Rumah Eks Menag Yaqut Bikin Geger, Dewas KPK Turun Tangan
-
Efek Domino Konflik Timur Tengah, Warga Korea Selatan Panic Buying Kantong Sampah!
-
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku Mulai Hari Ini, DPR Minta Evaluasi Berkala
-
RS Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI, Mensos Tegaskan Layanan Cuci Darah Wajib Dilayani