Sumber dukungan dan hubungan dana dari pemodal besar bisa berpindah-pindah termasuk tidak ada dukungan sekuat loyalitas di Filipina.
"Pemilu kali ini bisa mendukung, tapi pemilu selanjutnya belum tentu. Sumber dananya tidak ada terus-menerus di Indonesia. Seperti SBY dan AHY, tidak sekuat di Filipina. Termasuk keluarga Soeharto, Tommy sudah berapa kali mencalon dan membuat partai sendiri tapi gagal. Dinasti di Indonesia tidak sekuat yang ada di Filipina, karena kekuatan mereka tidak semasif yang ada di Filipina. Prabowo kuat tapi tidak dominan, AHY masuk 10 besar, Puan di luar 10 besar justru yang menonjol yang di luar dinasti seperti Ganjar dan Anies," paparnya.
Senada dengannya, peneliti politik dan kebijakan publik SMRC, Saidiman Ahmad, mengatakan bahwa di Indonesia dinasti politik tidak memberikan pengaruh yang besar dalam Pilpres 2024.
Ini dilihat berdasarkan riset SMRC yang menunjukkan calon-calon dari kelompok elit meskipun sudah melakukan promosi besar-besaran tidak menghasilkan persepsi yang cukup baik.
"Kita menemukan hasil survei yang mengejutkan, orang-orang kaya mapan promosinya kencang publik tidak tergerek. Sebaliknya publik anti terhadap mereka yang elit. Dinasti bukan bagian dari publik, SBY muncul karena ketokohannya, sama halnya dengan Jokowi, dikenal dekat dengan rakyat jelata," ujar Saidiman Ahmad.
Suara perempuan untuk siapa?
Kementerian Dalam Negeri mencatat Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4) untuk Pilpres tahun 2024 sebanyak 206 juta jiwa.
Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan pemilih pada Pemilu 2019 yakni 192 juta jiwa. Ini berarti pada pemilu 2024, jumlah pemilih perempuan akan sekitar 96,5 juta jiwa atau 50,07% lebih banyak dibandingkan pada Pilpres 2019.
Peneliti senior bidang gender dan pembangunan dari Universitas Bengkulu (Unib), Titiek Kartika Hendrastiti, mengatakan meskipun jumlah pemilih perempuan mendominasi, tidak berarti pemilih perempuan akan memilih kandidat capres perempuan.
Baca Juga: Pilpres Filipina: Apa Makna Kebangkitan Dinasti Marcos?
"Pemilih perempuan akan memilih kandidat yang diyakini akan membuat perubahan. Bisa laki-laki, bisa juga perempuan, karena perubahan tidak hanya bisa dilakukan oleh perempuan, namun laki-laki yang berpikiran out of the box juga bisa melakukan perubahan," kata Titiek.
Ia tidak menampik bahwa di awal tahun 2000-an aktivis perempuan memang mengampanyekan jargon women vote for women.
Namun setelah dievaluasi, tidak semua politisi perempuan ketika mendapatkan kesempatan akan melakukan banyak perubahan untuk perempuan.
"Hasil 2004, perempuan yang duduk (di pemerintahan) tidak banyak berperan (dalam membuat) regulasi ramah perempuan. Pemilih perempuan saat ini lebih cerdas, akan melihat apa yang sudah dilakukan dan bisa dilakukan. Tidak terbatas pada gender," lanjutnya. (ae)
Berita Terkait
-
Pelatih Norwegia Akui Kehebatan Ousmane Dembele: Sentuhan Bolanya Begitu Sempurna
-
Keamanan Siber Jadi Prioritas Bisnis, ITSEC Asia dan BSSN Perkuat Kesiapan Organisasi
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi, Sebut Politik Uang Gerus Penegakan Hukum
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
Tak Relevan, Aksi Reformasi Jilid II Dinilai Bukan Aspirasi Mahasiswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung