Suara.com - Pakar ekonomi dan mantan menteri Ginandjar Kartasasmita mengatakan lahirnya reformasi di Indonesia telah menghasilkan sistem demokrasi yang berfungsi sehingga memunculkan banyak kemajuan, baik di bidang politik maupun ekonomi.
"Menurut saya, reformasi telah menghasilkan sistem demokrasi yang berfungsi. Demokrasi kita berfungsi, tidak ada yang macet," kata Ginandjar saat menjadi pembicara kunci dalam seminar kebangsaan peringatan dan refleksi 24 tahun reformasi yang diselenggarakan oleh Institut Harkat Negeri bertajuk "Reformasi dan Jalan Keluar Krisis" di Jakarta, hari ini.
Ia menjelaskan bahwa sistem demokrasi yang berfungsi tersebut terlihat dari terselenggaranya pemilihan umum, DPR RI dapat menjalankan fungsinya membentuk undang-undang, Mahkamah Agung serta Mahkamah Konstitusi berwenang memutuskan suatu perkara, adanya organisasi masyarakat sipil, kebebasan pers, dan masyarakat boleh menyampaikan protes.
Mantan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri pada era Presiden Soeharto ini menyampaikan beberapa kemajuan yang ada di Indonesia sekarang.
Secara politik, kata Ginandjar, salah satu kemajuan yang ada adalah desentralisasi. Melalui desentraliasi itu, Indonesia dapat menjadi negara demokrasi terbesar pada urutan ketiga di dunia dan negara ekonomi terbesar pada urutan keenam belas di dunia.
Secara ekonomi, lanjut dia. kemajuan di Indonesia dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang tergolong baik.
"Kemarin, diumumkan ekonomi kita tumbuh sekitar 5 persen, sedangkan negara-negara lain berada di bawah kita. Meskipun sempat naik saat muncul pandemi COVID-19, angka kemisikinan dan pengangguran kembali menurun. Infrastruktur juga luar biasa. Kita harus jujur, luar biasa sekali," kata dia.
Meskipun begitu, Ginandjar menilai masih terdapat sejumlah kekurangan dan tantangan yang belum terjawab secara optimal berkaitan dengan pelaksanaan agenda reformasi di Indonesia. Salah satunya adalah praktik korupsi yang masih kerap terjadi.
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan agenda reformasi itu, menurut dia, butuh peran kelompok masyarakat sipil untuk mendorong Pemerintah memperbaiki tata kelola pemerintahan.
Baca Juga: 24 Tahun Reformasi, Aliansi Lampung Memanggil Kritisi UU Cipta Kerja
Berita Terkait
-
Gaspol Reformasi Pendidikan, Prabowo Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah
-
Presiden Prabowo Tegas! Jenderal Pun Bisa Disikat Jika Tak Sejalan Reformasi TNI-Polri
-
Menanti Nyali DPR: Mampukah Wakil Rakyat Memangkas 'Dompet' Sendiri?
-
Dari Orde Baru ke Reformasi: Kontroversi Barnas dalam Catatan Habibie
-
Pemburuan Terbesar Sejak 98: 700 Anak Muda Diproses Usai Demo Agustus 2025
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Konflik di Timur Tengah, Sekjen PBB: Perang Sudah di Luar Kendali
-
Arus Mudik Naik dan Kecelakaan Turun 16 Persen, Pemerintah Minta Pemudik Balik Lebih Awal
-
Rekaman Iran Tembak Jatuh Jet Tempur AS Tersebar, Kebohongan Militer Washington Mulai Terbongkar?
-
Wacana WFH Sehari untuk ASN: Pedang Bermata Dua bagi Ekonomi dan Energi
-
Iran Pertimbangkan Usulan Damai AS, Tapi Tolak Negosiasi Langsung!
-
Personel Gugur saat Ops Ketupat, Kakorlantas Polri Sampaikan Duka Mendalam
-
Syarat Kesepakatan Damai, Iran Minta Penghentian Serangan ke Hizbullah di Lebanon
-
Israel Panik! Donald Trump akan Setop Perang Meski Tanpa Deal dengan Iran
-
Sambut Rencana Operasi Darat AS, Iran Siapkan Jebakan Rantau dan Sistem Pertahanan Udara
-
Korlantas Polri Antisipasi Puncak Arus Balik Gelombang Kedua pada 29 Maret