Duterte juga membentuk satuan tugas nasional yang berfokus pada pemakaian dan perdagangan narkoba, menganjurkan penembakan secara terbuka, dan bahkan menyerukan pembunuhan mereka yang mengkritik kampanye kekerasannya.
Kelompok HAM percaya bahwa penembakan tidak dilakukan petugas polisi, melainkan pembunuh bayaran yang terhubung dengan penegak hukum, yang disebut "pasukan kematian".
Belasan anak dan remaja tewas dibunuh, sama nasibnya dengan lebih dari selusin walikota dan pejabat publik lainnya.
Kritikus mengatakan kebanyakan korban ini bahkan tidak terlibat dalam perdagangan narkoba.
Tahun lalu Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dibentuk untuk menyelidiki beberapa pembunuhan anti-narkoba, termasuk tuduhan bahwa polisi mengarang bukti tentang bagaimana penembakan yang dilakukannya adalah upaya membela diri.
Tetapi ICC mundur ketika Departemen Kehakiman Duterte berjanji untuk mengadakan penyelidikannya sendiri atas kasus-kasus tersebut.
Orang miskin sering menjadi sasaran
Walau kampanye narkoba ini memuncak di awal tahun pemerintahan Duterte, menurut data dari organisasi penelitian yang berbasis di Amerika ACLED, puluhan kematian terkait dengan upaya anti-narkoba pada tahun 2021 masih terjadi.
Meski Duterte bersumpah untuk menargetkan "raja narkoba" dalam "perangnya", sebagian besar yang terbunuh dan dipenjara adalah orang dari kalangan miskin.
"Untuk memberi makan keluarga, Anda perlu menjual narkoba," kata Bilog, seorang pengedar sabu di Masambong.
Baca Juga: Ferdinand Marcos Jr Ingin Filipina Hindari Konflik Bersejarah dengan China
Tempat tinggal Bilog terletak di pusat "perang narkoba" di kota Quezon — bagian dari wilayah ibukota Manila.
Pria berusia 49 tahun itu dipenjara selama lebih dari dua tahun dalam periode pemberantasan keras Duterte.
Tapi begitu dibebaskan, Bilog kembali berbisnis.
Ia hidup di gubuk satu kamar yang lembab bersama dengan dua putra remajanya yang juga adalah pengedar sabu.
"Ini adalah sumber pendapatan kami sehingga kami akan terus melakukannya terlepas dari apa yang terjadi," katanya.
"Perang narkoba menghancurkan keluargaku dan setiap keluarga di Filipina yang menjual narkoba."
Dua tahun penahanannya menjerumuskan keluarganya lebih jauh ke dalam kemiskinan.
Bilog mengatakan menghasilkan uang menjadi lebih mudah saat ini karena memiliki pemasok yang dapat diandalkan.
"Para pengedar yang dijebloskan ke penjara tentu saja kembali berjualan setelah keluar dari penjara," katanya.
Seorang aktivis sosial mengatakan sebenarnya ada cara lain bagi mereka yang berada di kelas ekonomi bawah untuk mendapatkan penghasilan, tetapi perdagangan narkoba dipandang sebagai "uang mudah".
Meskipun demikian, para pendukung korban perang narkoba menyebut perdagangan narkoba yang terus berlangsung di kalangan orang miskin seharusnya mendorong pemerintahan Bongbong Marcos untuk meninjaunya kembali.
Saat Duterte mundur, putrinya maju
Selama kampanye kepresidenannya, Ferdinand Bongbong Marcos Jr berjanji untuk mempertahankan kebijakan anti narkoba Duterte, tetapi menyebut dia akan "melakukannya dengan cinta".
Ia menjanjikan tambahan dana untuk program rehabilitasi dan untuk menggeser arah penegakan kampanye kepada "ikan besar", bukan yang rakyat di kelas ekonomi bawah.
Namun pendukung Presiden Marcos cenderung mendukung kampanye anti-narkoba Duterte, meski mendukung perubahan di dalamnya.
"Duterte melakukan bagian yang sulit untuk mengubah negara, mengguncang rakyat, dan membangunkan mereka," kata Vince Avena, komentator di Manila yang mendukung kampanye Bongbong Marcos.
Pemilihan putri Duterte, Sara, sebagai Wakil Presiden Filipina menggarisbawahi kelanjutan kebijakan "keras terhadap kejahatan" yang sedang diupayakan pemerintah baru.
"Saya hanya berharap pemerintahan baru tidak hanya melihat [masalah narkoba] dari perspektif kriminal," kata Gwen Pimental Gana, komisaris HAM Filipina.
"Perang narkoba harus dikalibrasi ulang untuk mengenali sifat multidimensi ketergantungan narkoba di negara ini."
Selain perubahan taktik, ia juga berharap korban pembunuhan di luar proses hukum mendapatkan keadilan.
"Pelaku harus bertanggung jawab," katanya.
Tekanan dari penyelidikan Pengadilan Kriminal Internasional tampaknya telah mendorong pemerintahan Duterte untuk meninjau lusinan kasus penembakan polisi yang dianggap tidak adil.
Departemen Keadilan telah merekomendasikan penuntutan terhadap 154 petugas polisi dari peninjauan 52 kasus tahun lalu.
Namun, ini akan menjadi penantian panjang untuk jawaban dan keadilan bagi keluarga mereka yang terbunuh.
Dan tanpa perubahan budaya keseluruhan kebijakan anti-narkoba, para kritikus khawatir akan ada lebih banyak kematian.
Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris
Berita Terkait
-
KAI dan BRIN Kolaborasi Kembangkan Teknologi ATP untuk Keselamatan Perjalanan Kereta
-
Teknologi Anti-Aging Makin Diminati, Dermalift Usung Advanced Treatments
-
Langkah Strategis Koperasi SMS DPD RI Menjawab Zaman
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Terdampak kemarau, Ratusan Titik di Banten Kekurangan Air Bersih
-
Direktur Utama RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bantah Ada Penyimpangan Anggaran
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA