"Tarif untuk umum dari Rp 3 ribu menjadi Rp 4 ribu, dan pelajar SMP/SMA semula dari tarif Rp 2 ribu jadi Rp 3 ribu, sedangkan untuk murid sekolah dasar asalnya Rp 1 ribu naik ke Rp 2 ribu," kata Firdaus, Senin (5/9).
Menurutnya, para penumpang banyak mengeluhkan kenaikan tarif tersebut, namun ada juga yang memakluminya.
"Karena sudah pada mengetahui harga Pertalite naik, penumpang banyak yang memakluminya. Tapi ada juga penumpang yang membayar dengan tarif normal," ucapnya.
Yanto (55), sopir angkot di Tegal, Jawa Tengah, juga mengeluhkan kenaikan harga BBM.
"Keberatan sekali harga BBM naik. Harga BBM naik, tapi pendapatan terus berkurang," kata Yanto saat mengantre mengisi BBM di SPBU Jalan Mayjen Sutoyo, Kota Tegal, Sabtu (3/9).
Yanto mengatakan, dia harus mengeluarkan uang Rp100 ribu untuk BBM dalam beberapa kali perjalanan pulang-pergi menyusuri rute Banjaran, Kabupaten Tegal-Kota Tegal. Sedangkan setoran yang harus diberikan ke pemilik angkot sebesar Rp50 ribu.
Dengan potongan untuk BBM dan setoran tersebut, ditambah kondisi penumpang yang kian sepi, dia kerap hanya memperoleh penghasilan hanya Rp20 ribu sehari.
"Penumpang semakin ke sini semakin sepi. Lihat saja penumpang dari Banjaran ke Tegal cuma satu orang. Ini harga BBM naik ya tambah mumet," ujarnya.
Paling tinggi dalam kepemimpinan Jokowi
Baca Juga: Pemkab Boyolali Klaim Kenaikan Harga BBM Belum Berdampak ke Sembako, Harga Telur Malah Turun
Jokowi, sejak menjabat Presiden RI selama dua periode, tercatat sudah beberapa kali menaikkan harga BBM. Sejak 2014, besaran kenaikan harga BBM yang paling tinggi terjadi September tahun ini.
Tercatat, Presiden Jokowi mulai menerapkan kebijakan kenaikan harga BBM per tanggal 17 November 2014. Kala itu, harga BBM bersubsidi naik dari Rp 6.500 per liter menjadi Rp 8.500 per liter. Sedangkan BBM jenis solar naik dari Rp 5.500 per liter menjadi Rp 7.600 per liter.
Selang sebulan, persisnya 1 Januari 2015, sempat menurunkan harga BBM bersubsidi dari Rp 8.500 per liter menjadi Rp 7.600 per liter. Harga Solar juga ikut turun, dari Rp 7.600 per liter menjadi Rp 7.250 per liter.
Jokowi kembali menurunkan harga BBM tanggal 19 Januari 2015. Harga BBM premium yang tadinya Rp 7.600 per liter turun menjadi Rp 6.600 per liter.
Tapi, selang sebulan, 1 Maret 2015, Jokowi kembali menaikkan harga BBM bersubsidi. Harga premium yang tadinya Rp 6.600 per liter naik menjadi Rp 6.800 per liter.
Belum sebulan dinaikkan, harga BBM jenis premium dan Solar lagi-lagi naik per 28 Maret 2015. Baik BBM premium dan solar naik Rp 500, di mana premium menjadi Rp 7.300 per liter dan solar menjadi Rp 6.900 per liter.
Namun, menjelang tutup tahun 2015, yakni 10 Oktober, Jokowi kembali menurunkan harga BBM jenis solar dari Rp 6.900 menjadi Rp 6.700 per liter. Sementara harga premium masih sama.
5 Januari 2016, harga BBM premium kembali diturunkan pemerintah, dari Rp 7.300 per liter menjadi Rp 6.950 per liter. Hal serupa juga dilakukan terhadap solar yang dari Rp 6.700 per liter, turun menjadi Rp 5.650 per liter.
Empat bulan kemudian, 1 April 2016, pemerintahan Jokowi menurunkan harga BBM jenis premium, dari Rp 6.950 per liter menjadi Rp6.450 per liter. Solar juga turun dari Rp 5.650 turun ke angka terendah Rp 5.150 per liter.
Selang dua tahun, persisnya 10 Oktober 2018, harga BBM premium yang tadinya Rp 6.450 per liter mengalami kenaikan menjadi Rp 7.000 per liter untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali.
Pemerintah baru kembali menaikkan harga BBM pada 1 April 2022. Jenis BBM yang dinaikkan harganya tersebut adalah non-subsidi RON 92 atau Pertamax.
Harga Pertamax berubah dari Rp 9000 per liter menjadi Rp 12.500 per liter. Kenaikan harga ini didasari atas melonjaknya harga minyak mentah pada Maret 2022 yang lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya.
Sementara pada Agustus 2022, pemerintah menyatakan akan menaikkan harga BBM antara Rp2.000 hingga Rp3.000 per liter. Kemudian laman resmi Pertamina mengumumkan harga BBM yang turun hanya di beberapa daerah.
Termutakhir, Sabtu 3 September 2022, kenaikan harga BBM subsidi jenis Pertalite mengalami kenaikan signifikan, dari yang awalnya Rp 7.650 per liter melesat menjadi Rp 10.000 per liter.
Angka kenaikan ini tercatat menjadi tertinggi karena berada di atas Rp 2.000, mengalahkan tahun 2014.
Jumlah orang miskin bakal naik?
Sudah bukan lagi rahasia kalau harga BBM naik, maka harga-harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, bahkan harga makanan camilan pun akan ikut berubah menjadi tinggi.
Kondisi itulah yang membuat khawatir banyak kalangan. Kekhawatiran mereka terutama pada kemungkinan terus meningginya jumlah masyarakat miskin di Indonesia.
Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2022 sebesar 26,16 juta orang, jumlah ini mengalami penurunan sebesar 1,38 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara jika dibandingkan September 2021 lalu, jumlah penduduk miskin juga berkurang sebesar 340 ribu orang.
"Pada Maret 2022, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 26,16 juta jiwa atau setara dengan 9,54 persen," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Jumat (15/7/2022).
Tapi, dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah, Selasa 31 Agustus 2022, Margo Yuwono mewanti-wanti agar pemerintah mewaspadai kenaikan angka kemiskinan kalau terjadi penyesuaian harga BBM.
Logikanya, kalau harga BBM naik dan berpengaruh tinggi pada inflasi, maka konsekuensinya adalah berdampak pada kemiskinan.
Margo menggambarkan situasi itu seperti pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005.
Menurut data BPS Maret 2005, pemerintahan Presiden SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga Bensin 32,6 persen dan Solar 27,3 persen.
Oktober 2005, Presiden SBY kembali menaikkan harga bensin hingga 87,5 persen serta Solar 104,8 persen.
Kenaikan harga BBM yang sangat tinggi itu berdampak pada inflasi yang membengkak menjadi 17,15 persen dari sebelumnya 11,7 persen.
Setahun kemudian, 2006, BPS mencatat terdapat kenaikan signifikan jumlah orang miskin dari 35,10 juta jiwa menjadi 39,30 juta jiwa.
Tingkat kedalaman kemiskinannya juga demikian, naik dari 2,78 ke 3,43. Tingkat keparahannya pun naik dari 0,76 menjadi 1.
Presiden Jokowi sendiri sudah mengumumkan bakal mencairkan dana bantuan langsung tunai alias BLT kepada masyarakat setelah kenaikan harga BBM. Program BLT ini persis seperti yang dilakukan Presiden SBY seusai menaikkan harga BBM.
Jokowi mengatakan, dana subsidi BBM yang dicabut pemerintah akan dialihkan kepada masyarakat melalui salah satunya program BLT.
Pemerintah sudah menyiapkan Rp 12,4 triliun sebagai dana BLT, yang akan dibagikan ke 20,65 juta warga Indonesia yang kurang mampu.
Setiap warga yang terdata sebagai keluarga miskin bakal mendapat Rp 150 ribu per bulan. BLT akan diberikan selama 4 bulan berturut-turut sejak September.
"Pemerintah juga menyiapkan anggaran sebesar Rp 9,6 Triliun untuk 16 juta pekerja dengan gaji maksimum Rp 3,5 juta per bulan dalam bentuk bantuan subsidi upah yang diberikan sebesar Rp 600.000," tuturnya.
Sebenarnya, Jokowi dulu sempat mengkritik kebijakan Presiden SBY yang memberikan BLT setelah menaikkan harga BBM.
Persisnya tanggal 28 Maret 2012, saat Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo, ia mengatakan bantuan langsung boleh diberikan, tapi tidak begitu saja.
Menurut Jokowi, bantuan tunai itu harus dijadikan pancingan guna memberdayakan ekonomi rakyat, bukan diberikan cuma-cuma dalam bentuk uang tunai.
"Kalau diberikan langsung tunai begitu, namanya kita mendidik masyarakat hanya menjadi tangan di bawah, menengadahkan tanga saja," kata Jokowi saat itu.
Tag
Berita Terkait
-
Pemkab Boyolali Klaim Kenaikan Harga BBM Belum Berdampak ke Sembako, Harga Telur Malah Turun
-
Tarif Transportasi Darat dan Laut Antar Kabupaten di Kayong Utara Naik, Mulai Rp80 Ribu Hingga Rp300 Ribu
-
Pola Kerja Fleksibel Bikin Kemenkeu Hemat Triliunan Rupiah
-
Ramai-ramai Menuntut Kenaikan Harga BBM Dibatalkan
-
Deretan Cara Kocak Warga Hadapi Kenaikan BBM: Modifikasi Motor 'Hybrid' sampai Ganti Bensin Pakai Air Selokan
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama
-
Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian
-
'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran
-
Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI
-
Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'
-
Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?
-
Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu
-
KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa
-
Mengapa Pertamax Naik? Teddy Indra Wijaya Ungkap 3 Alasannya
-
Triana ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah