Suara.com - Kerusuhan terjadi di tengah pemakaman perempuan Iran yang meninggal setelah ditangkap oleh polisi karena melanggar aturan hijab.
Mahsa Amini, 22, meninggal pada Jumat (16/09), beberapa hari setelah saksi mata mengatakan dia dipukuli di sebuah mobil polisi di Teheran - tuduhan yang langsung dibantah oleh polisi.
Beberapa perempuan yang berdemonstrasi di tengah upacara pemakaman Amini dilaporkan melepas hijab mereka sebagai protes atas kewajiban mengenakan hijab di negara itu.
Dalam video yang beredar di dunia maya, para pelayat meneriakkan "matilah diktator", dengan polisi kemudian menembaki kerumunan.
Pemakaman berlangsung di Saqez, kampung halaman Amini, yang terletak di Kurdistan, Iran bagian barat.
Baca juga:
- Tidak berarti tidak' - Perempuan Iran yang memprotes aturan wajib berhijab
- Kelompok garis keras Iran mengancam boikot aplikasi taksi setelah perempuan diusir karena tak pakai jilbab
- Potret perempuan Iran, sebelum dan sesudah Revolusi Islam 1979
Dalam video lain yang beredar di media sosial, penduduk setempat berkumpul pagi-pagi sekali demi menghindari pasukan keamanan Iran mencegah mereka melakukan demonstrasi di pemakaman.
Laporan menunjukkan bahwa beberapa pengunjuk rasa yang marah berbaris menuju kantor gubernur setempat untuk memprotes kematian Amini.
Menurut video yang diterima dan diverifikasi oleh BBC Persia, pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa.
Baca Juga: Layangkan Protes, Sejumlah Perempuan Iran Melepas dan Membakar Jilbab
Sejumlah warga dilaporkan cedera dan ditangkap.
https://twitter.com/Shayan86/status/1571144517604245506?s=20&t=cKyzuQE0DAQrvLRXTVtAEw
Dalam sebuah video yang dipublikasikan di Twitter, pasukan keamanan terlihat menjaga kantor gubernur dan menangkap pengunjuk rasa yang mencoba mendekati gedung.
Sementara, unggahan lain menunjukkan nisan Amini beredar di dunia maya. Nisan itu bertuliskan: Kamu tidak mati. Namamu akan menjadi kode [untuk panggilan berunjuk rasa].
Dipukul polisi atau serangan jantung?
Amini ditangkap pada Selasa (13/09) oleh polisi moral Iran karena diduga tidak mematuhi aturan berpakaian tentang hijab.
Menurut saksi mata, dia dipukuli saat berada di dalam mobil polisi yang menangkapnya.
Kekerasan yang ia alami membuatnya berada dalam kondisi koma.
Polisi Iran membantah tuduhan pemukulan, dengan mengatakan bahwa Amini "menderita gagal jantung mendadak".
Namun keluarga Amini mengatakan bahwa dia perempuan muda yang sehat tanpa kondisi medis tertentu yang membuatnya berpotensi mengalami masalah jantung mendadak.
Presiden Iran Ebrahim Raisi, yang berhaluan garis keras, telah memerintahkan kementerian dalam negeri untuk melakukan penyelidikan atas kematian tersebut.
Apa yang terjadi usai kematiannya?
Rumah Sakit Kasra di Teheran Utara mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ketika Amini dirawat pada 13 September, tubuhnya menunjukkan "tidak ada tanda-tanda vital".
Pernyataan itu kemudian dihapus dari media sosial rumah sakit setelah akun media sosial garis keras menuduh staf rumah sakit sebagai "agen anti-rezim".
TV Iran juga menayangkan rekaman CCTV Amini yang ditahan.
Aktivis hak asasi manusia menuduh TV pemerintah menyensor rekaman untuk membuat berita palsu.
Menurut Netblocks, sebuah organisasi pengawas yang memantau keamanan siber dan tata kelola internet, koneksi internet telah terganggu di berbagai lokasi di Iran sejak berita kematian Amini, termasuk di ibu kota, Teheran, dan Saqez.
Banyak pengguna internet mengatakan mereka tidak dapat mengunggah video di Instagram atau mengirim konten melalui WhatsApp.
Surat kabar Sharq yang dikendalikan negara Iran melaporkan bahwa kecepatan internet Teheran yang sangat rendah mengganggu pasar saham pada hari Sabtu.
https://twitter.com/netblocks/status/1570867826331914242?s=20&t=xdMSmzFzNsWtFcfGyAFyhg
Banyak orang Iran, termasuk individu pro-pemerintah, mengekspresikan kemarahan mereka di platform media sosial mengenai keberadaan polisi moral, juga dikenal sebagai Patroli Pembimbing.
Unggahan mereka disertai tagar yang diterjemahkan sebagai Patroli Pembunuhan.
Sejumlah video yang beredar di media sosial menunjukkan aparat menahan para perempuan, menyeret mereka, dan dengan paksa membawa mereka pergi.
"Pembenaran dan pendidikan'
Polisi Teheran beralasan penangkapan Amini karena "pembenaran dan pendidikan" tentang hijab yang wajib dikenakan oleh semua perempuan Iran.
Insiden yang terhadap terhadap Amini adalah yang terbaru dari serangkaian laporan kebrutalan terhadap perempuan oleh pihak berwenang di Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Sejak revolusi Islam pada 1979 di Iran, perempuan secara hukum diwajibkan untuk mengenakan pakaian "Islam" yang sederhana.
Baca juga:
- Beda Iran sebelum dan sesudah revolusi tahun 1979
- Masih Alinejad, perempuan Iran penggagas gerakan lepas hijab
- Republik Islam Iran, negara yang 'didirikan' dari sebuah desa di luar kota Paris
Dalam praktiknya, ini berarti para perempuan harus mengenakan cadar, pakaian yang menutup seluruh tubuh, hijab, dan manteau (mantel) yang menutupi lengan mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye menentang kewajiban mengenakan hijab bagi para perempuan menguat di Iran.
Namun, aksi-aksi keras yang dilakukan polisi moralitas Iran terhadap para perempuan yang dituding melanggar aturan berpakaian telah membuat mereka yang menentang kebijakan itu menyerukan tindakan.
Baru-baru ini, kepala peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejeie, menyarankan bahwa kekuatan asing berada di balik kampanye tersebut, menginstruksikan badan-badan intelijen untuk menemukan "tangan di balik cadar".
Banyak orang Iran menyalahkan Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, secara langsung.
Pidato lamanya dibagikan kembali di media sosial di mana ia membenarkan peran polisi moral dan menegaskan bahwa di bawah pemerintahan Islam, perempuan harus dipaksa untuk mematuhi aturan berpakaian Islami.
Episode terbaru yang melibatkan kematian Amini, hanya akan memperdalam kesenjangan antara sebagian besar generasi muda Iran dan para penguasa radikalnya, sebuah keretakan yang tampaknya semakin sulit untuk diperbaiki.
Berita Terkait
-
Setahun Kematian Mahsa Amini, Ibunda Ungkap Kisah Putrinya
-
Demi Keadilan, Pedemo Perempuan Protes Kematian Mahsa Amini: Luapkan Amarah dan Aspirasi
-
Profil Amir Nasr-Azadani, Pesepak bola Iran yang Terancam Dihukum Gantung karena Kampanyekan Hak Perempuan
-
Pesepak Bola Iran Amir Nasr-Azadani Terancam Hukum Gantung karena Ikut Demo Hak Perempuan
-
Iran Bubarkan Polisi Moral setelah Didemo Hampir 3 Bulan
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Pendidikan Tak Boleh Terputus Bencana, Rektor IPB Pastikan Mahasiswa Korban Banjir Bisa Bebas UKT
-
42 Ribu Rumah Hilang, Bupati Aceh Tamiang Minta BLT hingga Bantuan Pangan ke Presiden Prabowo
-
Tanggul Belum Diperbaiki, Kampung Raja Aceh Tamiang Kembali Terendam Banjir
-
Prabowo Setujui Satgas Kuala! Anggarkan Rp60 Triliun untuk Keruk Sungai dari Laut
-
Tawuran Awali Tahun Baru di Jakarta, Pengamat Sebut Solusi Pemprov DKI Hanya Sentuh Permukaan
-
Tiket Museum Nasional Naik Drastis, Pengamat: Edukasi Jangan Dijadikan Bisnis!
-
Timbunan Sampah Malam Tahun Baru Jogja Capai 30 Ton, Didominasi Alas Plastik dan Gelas Minuman
-
Nasib Pedagang BKT: Tolak Setoran Preman, Babak Belur Dihajar 'Eksekutor'
-
Ragunan 'Meledak' di Tahun Baru, Pengunjung Tembus 113 Ribu Orang Sehari
-
KUHP Baru Berlaku Besok, YLBHI Minta Perppu Diterbitkan Sampai Aturan Turunan Lengkap