Suara.com - Orla Guerin BBC News, Lyman
Kemenangan terkadang bisa tampak senyap. Hal itu itu terlihat di kota Lyman di Ukraina bagian timur, yang berhasil direbut kembali dari Rusia akhir pekan lalu.
Jalan-jalan yang sepi dipenuhi puing-puing bertebaran, di sepanjang sisinya gedung-gedung hangus terbakar.
Terpal logam yang menjuntai dari atap bangunan yang hancur diterpa angin
Segelintir warga sipil berani keluar.
Kami menghitung jumlah warga yang berada di luar tak lebih dari jumlah anjing yang berkeliaran - kendati Lyman ditinggali oleh 20.000 populasi sebelum perang.
Warga sipil yang kami temui tampak terguncang oleh rangkaian pemboman selama berbulan-bulan, dan tidak yakin cobaan berat mereka telah berakhir.
Satu-satunya aktivitas kehidupan adalah konvoi pasukan Ukraina dengan kendaraan lapis baja mereka.
Mereka di duduk di kendaraan lapis baja, sambil melambai dan bersorak, saat mereka menuju luar kota di sepanjang jalan yang dibatasi oleh hutan pinus.
Baca Juga: Rusia Ambil Alih PLTN Zaporizhzhia Pasca Resmikan Aneksasi 4 Wilayah Ukraina
Mereka menggemakan bukti dari pengorbanan manusia atas kekalahan Rusia.
Mayat lima tentara Rusia yang tewas, tergeletak berdekatan satu sama lain.
Tubuh mereka tampak membengkak dan berkerut karena jasad mereka telah dibiarkan selama berhari-hari.
Namun selama hidupnya, mereka adalah suami atau putra seseorang.
Mereka berseragam lengkap, dengan sepatu bot masih terpasang di kakinya, seolah-olah mereka entah bagaimana bisa kembali berperang.
Mereka tampaknya telah dibunuh secara bersamaan ketika mereka mencoba melarikan diri.
Di dekatnya kami melihat tumpukan seragam Rusia, kantong tidur, dan paket ransum yang dibuang.
Ada ransel tentara dengan nama tertulis di atasnya. Kami tidak tahu bagaimana nasib pemiliknya.
Dua sukarelawan muda dari kelompok kemanusiaan Ukraina bekerja dengan hati-hati, menghitung mayat-mayat itu, dan mencari apa pun yang bisa mengidentifikasi mereka.
Mereka berlutut hanya beberapa meter dari ranjau yang tersebar di sepanjang pinggir jalan, warna hijau tua ranjau itu disamarkan oleh rerumputan dan dedaunan.
Baca juga:
- Ukraina rebut kembali desa-desa di selatan dari Rusia
- Putin tetapkan empat wilayah Ukraina sebagai milik Rusia
- Penduduk Zaporizhzhia melarikan diri dari aneksasi sepihak Rusia
Ranjau tersebut adalah ancaman yang tersisa dari musuh yang telah berhasil dipukul mundur, atau seperti yang dikatakan kementerian pertahanan Rusia, "ditarik ke posisi yang lebih menguntungkan".
Pernyataan itu memiliki nada yang familiar dengan apa yang dikatakan Rusia, setelah kekalahannya bulan lalu di provinsi Kharkiv di timur laut.
Para sukarelawan kemudian memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat hitam dan membawa mereka - beberapa tentara Rusia yang gugur akhirnya meninggalkan medan perang.
Sebuah bendera Ukraina baru berkibar di atas tank T72 Rusia yang ditangkap, yang diparkir di pinggir jalan.
"Kami akan menang," kata tentara muda Ukraina yang tersenyum sambil memanjat menara senjata.
"Saya merasa sangat senang, sangat hebat."
Apa yang terjadi di sini bukan hanya kekalahan bagi Presiden Vladimir Putin. Ini benar-benar penghinaan.
Baru Jumat lalu dia mengumumkan kepada dunia bahwa dia mencaplok empat wilayah Ukraina, termasuk Donetsk, tempat Lyman berada.
Dia menyatakan bahwa wilayah-wilayah itu akan menjadi "Rusia selamanya".
Sehari kemudian pasukan Ukraina berada di dalam Lyman, dan pasukan Putin berlari menyelamatkan diri.
Ukraina mengatakan sebanyak 5.000 tentara Rusia dikepung di Lyman, sebelum kota itu jatuh.
Kami tidak tahu berapa banyak yang terbunuh atau ditangkap.
Kementerian pertahanan di Kyiv mengatakan dalam sebuah cuitan di Twitter bahwa hampir semua pasukan Rusia yang dikerahkan ke Lyman telah "ditugaskan kembali ke dalam kantong mayat atau ditangkap".
Kota strategis itu merupakan pintu gerbang ke wilayah tetangga Luhansk, yang hampir seluruhnya berada dalam cengkeraman Rusia.
Ukraina berharap untuk maju lebih jauh, menggunakan kemenangannya di sini sebagai batu loncatan.
Lena dan putranya Radion yang berusia 10 tahun mengharapkan perdamaian, dan air bersih.
Kami bertemu ibu dan anak itu ketika menuju sumur untuk mengisi kembali wadah air berukuran lima liter.
"Saya pikir nanti akan damai," kata Lena, yang mengenakan topi hitam dan beberapa lapis jumper wol.
"Seharusnya damai. Semua orang sudah cukup menderita. Hal tersulit adalah selamat dari penembakan. Kami berdoa saat kami tinggal di ruang bawah tanah. Situasinya masih tegang tapi secara keseluruhan, saya senang."
Sementara kegiatan sekolah terhenti selama invasi Rusia, Radion telah belajar pelajaran perang.
Wajahnya muram, di balik topi birunya.
"Agak menakutkan di Lyman," katanya kepada kami, "karena ada banyak pengeboman. Perang sangat buruk karena orang-orang sekarat. Hati saya lebih damai sekarang."
Orang lain di sini masih tampak tenggelam dalam trauma mereka, seperti Nadia yang berusia 66 tahun.
Dia sendirian di jalanan, berjalan perlahan, seolah-olah dia tidak bisa mengenali sekelilingnya.
"Saya berharap yang terbaik," katanya, "dan bahwa mereka [Rusia] tidak akan kembali ke sini. Itu sangat buruk. Kedua belah pihak menembak. Kami tidak mengerti apa-apa.
Ketika sudah tenang, kami pergi ke luar untuk memasak. Kemudian dimulai lagi. Kita semua sudah gila sekarang.
"Dan dia punya pertanyaan untuk kami."Kenapa saya dibombardir?"
"Saya tidak melakukan hal buruk. Saya tidak membunuh. Saya tidak mencuri. Saya tidak mengerti mengapa. Mungkin Anda bisa memberi tahu saya. Kami hidup dengan baik, semuanya baik-baik saja, kami bekerja. Dan dalam satu saat semua itu terbalik."
Di jalan-jalan di sekitar kota, slogan-slogan pro-Rusia telah ditempel di dinding, kios, dan halte bus.
"CCCP"— huruf Cyrillic untuk Uni Soviet, Uni Republik Sosialis Soviet— dituliskan di bagian depan toko yang tertutup.
Sama seperti Presiden Putin mungkin ingin menghidupkan kembali Uni Soviet dari masa mudanya, reruntuhan Lyman adalah bukti kegagalannya.
Ukraina sekarang memiliki momentum dan negara itu tahu harus bergerak cepat seiring dengan pasokan senjata dari negara-negara Barat.
Pertempuran akan semakin keras saat cuaca dingin datang.
Kesempatan untuk merebut kembali lebih banyak wilayah musim dingin ini mungkin akan tertutup dalam beberapa pekan
Berita Terkait
-
Dihujani Drone Rusia di Siang Bolong, Situs Warisan Dunia UNESCO di Lviv Hancur
-
Eropa Terancam Gelap: Pipa Migas Rusia Rusak, Perang Iran Tutup Selat Hormuz
-
Perang Rusia-Ukraina Masuk Tahun Keempat, PBB Desak Gencatan Senjata Segera
-
Dari Brimob Aceh ke Garis Depan Donbass: Mengapa Tentara Bayaran Rusia Menjadi Pilihan Fatal?
-
6 Fakta Bripda Rio: Desersi Usai Selingkuh dan KDRT, Kabur Jadi Tentara Bayaran Rusia
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
-
Sebut Indikasi Kecelakaan Kalideres Murni Musibah, Kadispenad Pastikan Pemeriksaan Tetap Dilakukan
-
Update Gempa M 7,6: Nyaris Seribu Gempa Susulan Guncang Maluku Utara
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
AS-Israel Gempur Wilayah Iran: 15 Orang Tewas, Pasukan IRGC Gugur dan Pilot F-15E Dicari
-
Spesifikasi Pesawat A-10 Thunderbolt II 'Warthog' Milik AS, Hancur Ditembak Iran
-
Gembira Dihampiri Kasatgas PRR, Asa Penyintas di Desa Sekumur Kembali Menyala
-
Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi di Pelalawan dan Inhil, Hak Rakyat Kecil Terselamatkan
-
Di momen Ramadhan, Jusuf Kalla mengadakan sejumlah pertemuan dengan beberapa pihak
-
Siasat Cegah Defisit, JK Sarankan Pemerintah Evaluasi Anggaran dan Kurangi Subsidi