Suara.com - Majelis Hakim merasa heran dengan keputusan mutasi yang dilakukan oleh Polri terhadap penyidik Polres Metro Jakarta Selatan Aipda Arsyad Daiva Gunawan usai menangani perkara pembunuhan Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat.
Momen itu terjadi saat Majelis Hakim mencecar Arsyad dalam persidangan Kuat Maruf, Bripka Ricky Rizal dan Bharada Ricard Eliezer terkait kasus pembunuhan berencana Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (21/11/2022).
Hakim awalnya menanyakan dimana Arsyad ditugaskan saat ini. Arsyad mengaku dirinya kini dimutasi ke bagian Yanma Polri seusai menangani kasus kematian Brigadir J.
"Saudara masih di Polres Jaksel?" tanya Hakim.
"Sudah tidak, kami sudah di mutasi ke Yanma Polri," ujar Arsyad.
Hakim kemudian bertanya apa yang menyebabkan Arysad dimutasi ke Yanma Polri. Kepada Hakim, Arsyad mengaku tidak profesional sewaktu menangani kasus kematian Yosua.
"Apa kesalahannya?" tanya Hakim lagi.
"Saat itu kesalahannya adalah kami tidak profesional dalam menangani kasus," ungkap Arsyad.
Baca Juga: Terungkap! Uang Rp200 Juta Ditransfer dari Rekening Brigadir J ke Rekening Ricky Rizal
Sontak, jawaban Arsyad itu membuat Hakim merasa heran. Sebab, menurut Hakim Arsyad melakukan tindakan tidak profesional saat bertugas karena berada di bawah tekanan.
"Jujur, saya sendiri merasa aneh dengan putusan itu. Tanpa saya bermaksud campur tangan. Kalau dari cerita kalian seperti itu, di mana ketidakprofesionalannya? Sementara kalian di bawah tekanan," kata Hakim.
Lebih lanjut, Hakim bertanya mengapa Arsyad tidak membela diri sewaktu dalam sidang etik profesi oleh Polri. Arsyad sempat terdiam sewaktu Hakim melontarkan pertanyaan tersebut.
Dengan singkat, Arsyad mengaku takut untuk membela diri saat menjalani sidang etik profesi.
"Saudara tidak menyampaikan seperti itu ketika sidang etik?" tanya Hakim.
Berita Terkait
-
Dapat Bocoran Pimpinan Inafis, Cerita Bripka Danu Tahu Brigadir J Tewas Bukan karena Baku Tembak
-
Kasus Brigadir J Diacak-acak hingga Kena Mutasi, Geng Sambo Biang Keroknya, Eks Kasat Polres Jaksel Kena Apesnya
-
Ditonton Fans, Kemunculan Bharada E di Sidang Bikin Cewek-cewek Histeris: Bang Richard Semangat!
-
Hakim Semprot Bripka Danu Penyidik Polres Jaksel di Sidang: Cerita Saja Jangan Takut, Semua Sudah Dalam Sel
-
Aneh Tapi Nyata! Ricky Rizal Sempat Transfer Duit Rp30 Juta ke Anak Sambo Padahal Sudah Ditahan, Kok Bisa?
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Kronologi Donald Trump dan Istri Dievakuasi, Tembakan Meletus di Gedung Putih
-
Apresiasi Daerah Berprestasi 2026 Digelar, Mendagri Dorong Iklim Kompetitif Antardaerah
-
APPMBGI Ingatkan Potensi Tekanan Pasokan Pangan Imbas Program MBG
-
Presiden Iran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan dan Blokade
-
Bantah Isu Bansos Dipotong, Gus Ipul: Itu Narasi Menyesatkan dan Potensi Penipuan!
-
Donald Trump Klaim Terima Usulan Baru dari Iran usai Batalkan Misi Perundingan ke Pakistan
-
Donald Trump Batalkan Keberangkatan Utusan ke Pakistan, Negosiasi Iran AS Kembali Buntu
-
Motif Konyol 'Prank' Damkar Semarang Terungkap: Kesal Debitur Susah Ditagih Utang Rp2 Juta!
-
WHO Sebut Butuh Rp172 Triliun untuk Pulihkan Sistem Kesehatan Gaza dalam 5 Tahun
-
Kekerasan Anak di Little Aresha, Pengurus Hingga Pemilik Terancam Hukuman Berat