Suara.com - Mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi alias Kang Dedi Mulyadi mengklaim dirinya sudah menjadi 'Gubernur' di tengah hangatnya perbincangan calon Gubernur Jawa Barat pada Pilkada November 2024 mendatang.
Bukan gubernur biasa, Kang Dedi Mulyadi menyebut dirinya gubernur bagi orang desa lantaran setiap hari terus memenuhi undangan warga dari berbagai pelosok Jawa Barat. Ia juga mengklaim dirinya sebagai gubernur orang susah.
"Selama ini saya sudah lama jadi 'gubernur', yaitu gubernurnya urang lembur (orang desa) karena saya dalam setiap hari harus memenuhi undangan warga di berbagai pelosok Jawa Barat," kata Kang Dedi Mulyadi dikutip dari ANTARA, Minggu (21/4/2024).
Kata Dedi Mulyadi, kini banyak orang yang tengah membicarakan Pilgub Jawa Barat 2024. Menurutnya, kontestasi lima tahunan itu merupakan peristiwa yang biasa saja dalam proses memilih pemimpin, yakni Gubernur Jawa Barat.
Ia juga menyebut kerap kali menerima berbagai keluhan warga soal tidak punya kebutuhan pokok, biaya berobat, rumahnya roboh hingga soal urusan jodoh.
"Saya sudah jadi 'gubernur' orang-orang susah karena dalam setiap hari saya harus melayani berbagai keluhan warga, mulai dari yang tidak punya beras, tidak punya seragam sekolah, tidak ada biaya berobat ke rumah sakit, rumahnya roboh, bahkan sampai urusan jodoh," jelasnya.
Dedi kini memilih tinggal dan membangun kampung halamannya yang kini dikenal dengan Lembur Pakuan. Kampung yang ditata dengan prinsip ramah lingkungan itu menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti areal persawahan, perikanan, peternakan, perkebunan hingga areal hutan kecil di tengahnya.
"Jadi urusan berbakti pada masyarakat dan hidup dengan berinteraksi di tengah masyarakat, bagi saya tidak perlu menunggu pemilihan gubernur karena tugas-tugas itu sampai hari ini saya sudah kerjakan," ujarnya.
Menurut Dedi, pelaksanaan Pilkada hanya urusan menunggu waktu agar memiliki porsi yang lebih luas dan alokasi anggaran yang lebih besar.
"Saya hanya tinggal menunggu waktu punya porsi yang lebih luas dan ada alokasi anggaran yang lebih besar agar orang lembur (orang desa) mendapat keadilan. Jalannya mulus, rumah rakyat miskinnya alus (bagus), aparat desa, RT sampai Linmas terurus tubuh mereka tidak kurus-kurus," ungkapnya.
Sementara itu, pada Jumat (19/4/2024) malam hingga Sabtu dini hari, area rumah Dedi Mulyadi dipenuhi warga dari berbagai pelosok daerah di Jawa Barat.
Mereka hadir dalam acara silaturahmi yang dikemas dalam acara "Nyoreang Lampah Kasorang" yang merupakan sebuah pagelaran sastra, tari dan wayang golek empat dalang.
Keempat dalang yang terdiri dari Dadan Sunandar Sunarya, Wawan Dede Amung Sutarya, Iman Cecep Supriyadi dan Khanha Ade Kosasih Sunarya itu berkolaborasi bermain wayang golek dalam satu panggung di Taman Bunisora, Lembur Pakuan Subang.
Taman Bunisora merupakan areal terbuka yang dibangun oleh KDM dengan arsitektur khas Sunda. Taman ini dibangun sebagai tempat interaksi warga dalam bentuk panggung terbuka dihiasi oleh berbagai ornamen cantik yang memanjakan mata.
Rangkaian acara yang berakhir pada Sabtu dini hari itu pun semakin meriah dengan kehadiran bintang tamu pemenang ajang pencarian bakat X Factor, Kris Tomahu, dengan membawakan sejumlah lagu hits dan pelawak kawakan Ohang yang berkolaborasi dengan keempat dalang. (ANTARA)
Berita Terkait
-
Mobil Listrik Mewah yang Berkeliaran di Jakarta Bakal Kena Pajak 75 Persen
-
Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
-
DPR Ngaku Belum Pernah Dilibatkan Pemerintah Bahas Universitas Republik Indonesia
-
Kredit Nganggur Masih Numpuk di Bank
-
Dedi Mulyadi Kalah di PTUN, SK UMSK Jabar Harus Dicabut
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan