Mantan Ketua PBNU Hasyim Muzadi pernah melontarkan guyonan berkait dengan aset Muhammadiyah yang melimpah tersebut.
Ia menyebut bahwa bila dua orang Muhammadiyah bertemu yang dibicarakan adalah soal berapa sekolah dan masjid yang dibangun.
"Bila dua warga NU bertemu maka yang dibicarakan apakah sudah punya majelis yasin dan tahlil? Tapi kalau dua warga Muhammadiyah bertemu yang dibahas sudah berapa sekolah dan masjid yang dibangun," katanya.
Sementara itu, dikutip dari pwmu.co, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Abdul Munir Mulkhan punya pandangan yang lebih serius mengenai aset Muhammadiyah tersebut.
Menurutnya, semua pembangunan aset itu mewujud dari warisan semangat hidup KH Ahmad Dahlan yang dipegang warga Muhammadiyah.
Menurut dia, pesan Kiai Dahlan yang sangat populer dan sering diucapkan orang Muhammadiyah adalah hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.
Pesan ini tumbuh menjadi tradisi gerakan sebagai kekuatan utama perkembangan organisasi dan pembangunan amal usaha pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial. Amal usaha ini dibangun dari praktik kedermawanan dan inovasi kreatif umat.
Abdul Munir Mulkhan juga mengulas, warga Muhammadiyah juga meniru sikap hidup sehari-hari Kiai Ahmad Dahlan seperti mengamalkan surat al-Maun yang kisahnya selalu diceramahkan di mana-mana.
Dia menguraikan, kehidupan Kiai Dahlan merupakan praktik tradisi sufi yang terus memberi warna pola kehidupan gerakan dan warga Muhammadiyah.
Baca Juga: Usai Dana Muhammadiyah Ditarik, Gimana Nasib BSI? Ini Kata OJK
Pola kehidupan Kiai Dahlan berakar pada etika puritan yang merasionalisasi syariah dan sufisme berbasis paradigma kebudayaan.
Cara hidup zuhud dan fakir yang dipraktikkan Kiai Dahlan tidak melahirkan sikap menjauhi kehidupan duniawi tapi sebaliknya menjadi dasar bagi penempatan kepentingan pribadi kepada kepentingan umat dan kemanusiaan.
Zuhud dipraktikkan dengan menjadikan kehidupan duniawi sebagai ajang perbaikan dengan mengubah diri sebagai pengubah sejarah. Sementara hidup fakir tidak dilakukan dengan hidup miskin tapi bekerja keras dan produktif yang hasilnya dipergunakan untuk kepentingan publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan