Suara.com - Bencana alam terjadi di China atau Tiongkok dengan menyebabkan 12 orang meninggal dunia akibat tanah longsor disebabkan banjir bandang.
Peristiwa banjir bandang itu menerjang wilayah provinsi Hunan, Tiongkok tengah dengan menghancurkan sebuah wisma.
Informasi itu disampaikan media pemerintah setempat, bahkan stasiun penyiaran resmi CCTV mengatakan ada 18 orang tewas.
Dua belas jenazah dan enam orang yang selamat telah ditemukan pada Minggu malam, kata kantor berita resmi Xinhua.
Satu orang telah hilang sebelum mayat ke-12 ditemukan. Longsor tersebut disebabkan oleh banjir bandang di sebuah gunung yang menghancurkan wisma tersebut, menurut CCTV.
Lebih dari 240 personel darurat telah dikirim ke lokasi kejadian.
Sebuah video yang diterbitkan oleh Beijing Youth Daily yang dikelola pemerintah menunjukkan petak lumpur dan puing-puing membelah lereng bukit yang hijau dan sebuah pohon tumbang tergeletak di depan sebuah bangunan tiga lantai.
Sebuah video udara di Xinhua menunjukkan apa yang tampak seperti reruntuhan bagian bawah sebuah bangunan di puncak jejak puing-puing, serta bangunan-bangunan rusak di kaki bukit.
Tiongkok dilanda cuaca ekstrem pada musim panas, dengan banjir bandang di utara dan barat daya yang menewaskan sedikitnya 20 orang pada bulan ini.
Baca Juga: Peringatan Perang! Korea Utara Bersumpah Hancurkan Total Siapa Saja Musuhnya
Sebuah jalan raya di Tiongkok selatan runtuh pada bulan Mei setelah hujan berhari-hari, menewaskan 48 orang.
Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi dan intens, dan Tiongkok adalah penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia.
Karena sudah lama bergantung pada sumber energi yang menimbulkan polusi seperti batu bara, Beijing telah berjanji untuk mencapai puncak emisi karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global pada tahun 2030 dan mencapai angka nol pada tahun 2060.
Negara ini sudah menjadi produsen energi terbarukan terbesar di dunia, dan penelitian pada bulan ini menunjukkan bahwa Tiongkok membangun kapasitas pembangkit listrik tenaga surya dan angin hampir dua kali lipat dibandingkan gabungan negara-negara lain di dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Dari Gita Wirjawan hingga Malaka Project: 5 Podcast Wajib Dengar Biar Wawasanmu Makin Terbuka
-
Terkuak di Sidang! Saksi Ngaku Setor Rp60 Juta ke Wakil Ketua DPRD Pekalongan Demi Jabatan
-
Gerak Cepat di Tengah Bencana, InJourney Group Salurkan Bantuan Untuk Masyarakat Terdampak di NTT
-
5 Sepatu Jalan Terbaik untuk Liburan: Stylish dan Empuk untuk Eksplorasi Seharian
-
Rahasia Rumus Volume dan Luas Permukaan Kubus: Sifat Unik dan Contoh Soal Praktis
-
Gen Z dan FOMO Nonton Konser: Bukan Cuma Hiburan, Tapi Membeli Pengalaman
-
Pakar: Desil DTSEN Tak Bisa Jadi Vonis Tunggal Penerima Subsidi
-
Breasts and Eggs: Perempuan yang Melawan Standar Tubuh dan Norma Sosial
-
Cara Menata Cermin di Kamar Tidur yang Baik Menurut Feng Shui, Diletakkan di Mana?
-
Mengenal Nonchalant Core: Tren Bersikap 'Bodo Amat' ala Gen Z, Sehatkah Secara Mental?