Suara.com - Presiden Rusia, Vladimir Putin, kembali menegaskan kesiapan negaranya untuk bernegosiasi terkait perang di Ukraina, namun dengan syarat bahwa pihak lawan, termasuk Ukraina dan sekutu Baratnya, juga siap untuk berkompromi. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi tanya jawab tahunan yang disiarkan televisi nasional Rusia pada Kamis (19/12/2024).
Putin menyatakan bahwa Rusia terus mencapai kemajuan dalam operasi militernya, meskipun situasi pertempuran berjalan kompleks dan dinamis.
“Kami bergerak menuju penyelesaian tugas-tugas utama yang telah kami tetapkan sejak awal operasi militer khusus,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang potensi perundingan dengan mantan Presiden AS Donald Trump, yang mengklaim dirinya sebagai "ahli negosiasi" dan berjanji akan segera mengakhiri konflik, Putin menyambut baik gagasan tersebut.
"Kami selalu terbuka untuk negosiasi dan kompromi," ucapnya.
Namun, ia menekankan bahwa kekuatan Rusia justru semakin meningkat sejak invasi ke Ukraina dimulai pada 2022.
Sejak awal invasi, Rusia telah berhasil menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, dengan kemajuan signifikan tahun ini di beberapa front. Pasukan Rusia terus mengambil desa-desa strategis dan mendekati kota penting seperti Pokrovsk, pusat transportasi darat dan rel kereta api yang vital.
Putin optimistis bahwa pasukan Ukraina akan kehilangan daya juang dalam waktu dekat.
“Segera, mereka yang ingin bertarung akan habis. Kami siap, tetapi pihak lain juga harus siap untuk bernegosiasi dan berkompromi,” katanya.
Baca Juga: Keamanan Ukraina Terancam? Zelenskyy Langsung Temui Sekjen NATO Bahas Langkah Penting
Putin juga menyinggung kehadiran pasukan Ukraina di wilayah perbatasan Rusia, seperti Kursk.
“Mereka pasti akan dipaksa mundur, hanya soal waktu,” tegasnya tanpa menyebutkan tenggat yang pasti.
Dalam kesempatan tersebut, Putin dengan percaya diri membahas keberhasilan uji coba rudal hipersonik terbaru Rusia, "Oreshnik". Ia bahkan menantang negara-negara Barat untuk menguji sistem pertahanan mereka terhadap serangan rudal tersebut.
“Biarkan mereka menentukan target di Kyiv, konsentrasikan semua pertahanan udara dan sistem antirudal mereka di sana, dan kami akan meluncurkan ‘Oreshnik’. Kita lihat apa yang terjadi. Kami siap untuk eksperimen seperti itu, tetapi apakah pihak lain siap?” tantangnya.
Meskipun fokus pada operasi militer, Putin juga menyinggung peran Rusia di panggung internasional, termasuk isu keberadaan pangkalan militer Rusia di Suriah. Menurutnya, mayoritas pihak mendukung keberadaan pangkalan tersebut, meskipun Rusia akan mengevaluasi langkah ke depannya.
Selain itu, ia berkomentar mengenai permintaan keluarga jurnalis AS Austin Tice, yang hilang di Suriah sejak 2012. Putin berjanji akan membahas isu ini dengan pemimpin Suriah, termasuk mantan presiden Bashar al-Assad dan rezim baru di negara tersebut.
Di sektor ekonomi, Putin mengakui tanda-tanda "overheating" yang mendorong inflasi tinggi, namun menegaskan bahwa Rusia tetap stabil secara ekonomi meskipun berada di bawah sanksi Barat.
Perang yang dimulai pada Februari 2022 telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa jutaan penduduk mengungsi, dan memicu krisis geopolitik terbesar sejak Krisis Rudal Kuba pada 1962. Putin menolak gagasan bahwa Rusia berada dalam posisi lemah, sebaliknya ia menegaskan bahwa negaranya semakin kuat di tengah tantangan global.
Meski terbuka untuk negosiasi, Putin tetap menolak syarat-syarat seperti penyerahan wilayah atau ambisi Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Sementara itu, mantan Presiden Trump, yang kerap mengklaim kemampuan diplomatiknya, belum memberikan rincian konkret mengenai rencana penyelesaian konflik.
Berita Terkait
-
Keamanan Ukraina Terancam? Zelenskyy Langsung Temui Sekjen NATO Bahas Langkah Penting
-
Rusia Tak Ingin Ada Perdamaian dengan Ukraina, Uni Eropa Bakal Lakukan Hal Ini
-
Intelijen Korsel Ungkap Nasib Ratusan Tentara Korea Utara di Rusia, Semuanya Tewas?
-
Inggris Bakal Kirim Bantuan Militer Senilai Rp4,6 Triliun untuk Ukraina Tahun Depan
-
Zelenskyy Ungkap Tentara Rusia Bakar Mayat Tentara Korea Utara
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Komisi VIII DPR RI Awasi Langsung Penyaluran PKH dan Sembako di Batam
-
Diskon Tiket KA Lebaran 2026 Masih Tersedia, KAI Daop 6 Imbau Warga Segera Pesan
-
Ketua MPR Soroti Kasus Bripda MS Aniaya Anak Hingga Tewas di Tual: Harus Jadi Pelajaran!
-
Pakar UI: Indonesia Wajib Waspada 'Akal Bulus' Israel di Balik Rekonstruksi Gaza dalam BoP
-
Rocky Gerung: Perjanjian Dagang Prabowo-Trump 'Menghina Indonesia'!
-
Anggota Brimob Aniaya Anak hingga Tewas di Tual, Menteri PPPA Turun Tangan: Sedang Koordinasi
-
Bripda MS Aniaya Anak Hingga Tewas, Yusril: Sungguh di Luar Perikemanusiaan
-
Sound Horeg dan Perang Sarung Dilarang Keras Selama Ramadan di Ponorogo, Apa Sanksinya?
-
Berbagi Piring Persaudaraan, Kala Ribuan Orang Menyemut Jadi Keluarga Masjid Jogokariyan
-
Pelajar SMA Aceh Barat Dikeroyok Oknum TNI, Praktisi Hukum Desak Pengadilan Militer