Suara.com - Pesawat Delta Air Lines dari Minneapolis itu baru saja mendarat di Bandara Internasional Pearson, Toronto. Segalanya tampak normal—hingga tiba-tiba, bencana terjadi.
"Kami jatuh. Terbalik," ujar John Nelson, salah satu penumpang seperti dikutip dari BBC Indonesia.
Suaranya masih bergetar saat merekam video di Facebook, tak lama setelah kecelakaan.
Pesawat tergelincir. Berguling ke samping. Lalu terbalik. Sebanyak 76 penumpang dan empat awak selamat. Namun, 18 orang mengalami luka.
Peter Koukov, salah satu penumpang, mengingat jelas momen itu.
“Kami terbalik tergantung seperti kelelawar.”
Semua orang masih terikat di kursi, kepala menghadap ke bawah.
Nelson berhasil membuka sabuk pengaman dan jatuh ke lantai—yang kini menjadi atap pesawat. “Beberapa orang menggantung dan butuh bantuan. Yang lain bisa turun sendiri,” katanya.
Di luar, kepanikan terlihat jelas. Rekaman di media sosial menunjukkan penumpang merangkak keluar dari badan pesawat yang terbalik, sementara petugas pemadam menyemprotkan busa untuk mencegah api menyebar.
Baca Juga: Raungan Harley-Davidson Jadi Saksi, AHY Ungkap Kabar Duka
Nelson masih tak percaya. Tak ada tanda-tanda sebelum mendarat. Tak ada peringatan. Hanya sekejap, dan segalanya berubah.
Diane Perry yang berdiri di antrean pemeriksaan barang di Bandara Internasional Pearson, Toronto, mulanya tak menyadari ada sesuatu yang salah.
Ponselnya bergetar. Panggilan dari keluarga.
“Kamu baik-baik saja?” suara di ujung telepon terdengar panik.
Diane mengernyit.
“Tentu saja, kenapa?”
Keluarganya memberi tahu bahwa sebuah pesawat jatuh di landasan. Baru saat itulah Diane sadar, ada sesuatu yang terjadi di luar.
“Agak ironis,” katanya kepada BBC.
“Kami berada di bandara, tapi tidak tahu ada kecelakaan di luar.”
Sementara itu, di landasan pacu, investigasi dimulai. Penyebab kecelakaan masih menjadi misteri.
Dua landasan ditutup. Para penumpang diberi tahu untuk bersiap menghadapi penundaan penerbangan dalam beberapa hari ke depan.
Di tempat lain, John Nelson masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya masih gemetar, pikirannya kacau.
“Masih stres, gugup, dan gemetar,” katanya kepada CNN.
Ia menghela napas panjang, seolah masih sulit mempercayainya.
“Sungguh menakjubkan bahwa kami masih di sini.”
Detik-Detik yang Mengubah Segalanya
Senin siang itu, langit Toronto tampak cerah. Angin masih berembus kencang, meski salju sudah berhenti.
Pesawat Delta Air Lines nomor penerbangan DL4819 mendekati landasan, bersiap mendarat setelah perjalanan dari Minneapolis.
Di dalam kokpit, pilot menerima peringatan dari pengawas lalu lintas udara. Hembusan angin mencapai 61 km/jam.
“Mungkin ada sedikit guncangan di landasan,” suara di radio memberi tahu.
Pesawat Bombardier CRJ-900 itu terus meluncur turun. Beberapa detik lagi akan menyentuh tanah.
Lalu, semuanya berubah.
Pesawat menghantam landasan dengan keras, roda mendarat miring. Roda pendaratan diduga copot saat benturan, menyebabkan sayap kanan menghantam aspal.
Dalam hitungan detik, badan pesawat tergelincir, berputar, lalu terbalik.
“Sangat dahsyat,” kata Pete Carlson, seorang penumpang, kepada CBC. Ia masih bisa mengingat suara benturan yang memekakkan telinga—gesekan beton dan logam yang saling menghantam.
Di dalam kabin, ketakutan melanda. Puluhan penumpang tergantung terbalik di kursi mereka. Pete mencoba mengendalikan napasnya, berusaha melepaskan diri dari sabuk pengaman.
“Kami harus merangkak ke langit-langit untuk keluar,” kenangnya.
Rekaman yang diperoleh TMZ menunjukkan bagian pesawat sempat terbakar. Petugas pemadam kebakaran langsung bergerak cepat, menyemprotkan busa untuk mencegah api menyebar.
Dan Ronan, jurnalis sekaligus pilot berlisensi dari FAA, menganalisis rekaman kejadian. Ia memperkirakan pilot mencoba manuver kepiting—sebuah teknik di mana pesawat dimiringkan untuk melawan angin sebelum mendarat.
Namun, tampaknya pendaratan berjalan lebih keras dari perkiraan.
Marco Chan, mantan pilot dan dosen senior di Universitas Buckinghamshire New, menguatkan analisis itu. Ia yakin roda pesawat mendarat tidak seimbang, membuat pesawat kehilangan kendali sesaat setelah menyentuh landasan.
Namun, satu hal pasti: meski pesawat terbalik, keajaiban terjadi.
Dari 76 penumpang dan empat awak, semua selamat. Hanya 18 orang mengalami luka ringan.
Bagaimana Penumpang Bisa Selamat?
Badan pesawat tetap utuh. Sayap memang terlepas, tetapi itu justru menyelamatkan para penumpang.
"Kemampuan bertahan pesawat ini sungguh menakjubkan," kata Dan Ronan kepada BBC.
Sebagai jurnalis sekaligus pilot berlisensi, ia tahu betul bagaimana pesawat seharusnya bereaksi dalam situasi seperti ini.
Ia menunjuk pada kursi model 16G—dirancang untuk menyerap benturan tinggi. "Ini salah satu alasan mengapa banyak orang bisa selamat," tambahnya.
Para ahli keselamatan penerbangan pun setuju.
David Soucie, analis CNN sekaligus mantan inspektur FAA, menjelaskan bahwa pesawat itu hancur sebagaimana mestinya. Sayapnya lepas, mencegah badan pesawat terkoyak dan mengurangi risiko kebakaran besar.
Profesor di Universitas Cranfield, Inggris, Graham Braithwaite, menambahkan bahwa setiap detail dalam kabin dirancang untuk keselamatan.
“Bahkan sandaran kursi dan meja baki dirancang agar tidak menyebabkan cedera serius,” katanya kepada BBC. “Dan sabuk pengaman? Itu penyelamat utama. Tanpanya, penumpang bisa terlempar ke seluruh kabin.”
Namun, teknologi bukan satu-satunya penyelamat hari itu.
Para pramugari bertindak cepat, memastikan semua penumpang keluar dari pesawat yang terbalik. Tidak ada kepanikan. Tidak ada kekacauan.
Petugas tanggap darurat tiba dalam hitungan menit. Kepala bandara menyebut mereka "heroik".
Di dalam pesawat, rasa kemanusiaan mengambil alih.
"Yang saya lihat adalah semua orang tiba-tiba menjadi sangat dekat," kata Pete Carlson.
"Kami saling membantu. Saling menghibur. Kami tahu, kami baru saja selamat dari sesuatu yang nyaris mustahil."
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Houthi Resmi Gabung Perang Iran, Tembakkan Rudal Balistik ke Israel
-
Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi
-
Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR
-
Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan
-
Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?
-
Menteri PU Nyetir Sendiri Lintasi Trans Jawa, Puji Kualitas Tol Bebas Lubang
-
Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran
-
Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
-
Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan
-
Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas