Suara.com - Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan pada Selasa bahwa enam bayi baru lahir telah meninggal dunia dalam sepekan terakhir akibat cuaca dingin ekstrem yang melanda wilayah Palestina yang hancur akibat perang.
"Akibat gelombang udara dingin yang parah dan kurangnya sistem pemanas yang memadai, kami mencatat enam kematian bayi baru lahir selama sepekan terakhir hingga hari ini," kata juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, kepada AFP.
Fenomena cuaca ekstrem ini terjadi di tengah suhu yang anjlok hingga nol derajat Celsius (32 derajat Fahrenheit) dalam beberapa hari terakhir, seiring dengan gelombang udara dingin yang melanda kawasan Mediterania timur. Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa cuaca dingin ini berisiko semakin memperburuk kondisi kehidupan para pengungsi di Gaza, yang saat ini hidup dalam keterbatasan ekstrem.
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung selama beberapa minggu memungkinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, ratusan ribu warga Palestina masih terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat. Banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal akibat serangan militer Israel yang menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.
Banyak keluarga kini bertahan hidup di antara puing-puing rumah mereka, tanpa akses yang memadai terhadap tempat berlindung yang aman, bahan bakar untuk pemanas, atau pakaian tebal yang diperlukan untuk menghadapi suhu yang sangat dingin. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya bagi bayi baru lahir dan anak-anak kecil, yang lebih rentan terhadap hipotermia dan penyakit yang berhubungan dengan cuaca dingin.
Organisasi kemanusiaan telah berulang kali memperingatkan bahwa musim dingin tahun ini dapat menjadi bencana bagi para pengungsi di Gaza jika mereka tidak segera mendapatkan bantuan yang memadai, terutama dalam bentuk tempat tinggal yang lebih layak dan peralatan pemanas.
Hamas menuduh Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian bayi-bayi tersebut, dengan alasan bahwa Israel telah menghalangi masuknya bahan-bahan perlindungan dan bantuan penting ke Gaza.
"Kami menyerukan kepada para mediator untuk segera bertindak menghentikan pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh penjajah dan memfasilitasi masuknya pasokan penting seperti tempat tinggal, pemanas, serta peralatan medis darurat ke Gaza," kata Hamas dalam pernyataannya.
Kelompok tersebut menegaskan bahwa pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan, terutama bahan bangunan dan perlengkapan pemanas, telah memperburuk penderitaan rakyat Palestina yang sudah berada dalam kondisi sangat sulit akibat perang yang berkecamuk sejak Oktober 2023.
Baca Juga: Serangan Udara Israel Guncang Damaskus, Picu Ketegangan Baru di Suriah Selatan
Hamas juga menekankan bahwa komunitas internasional, terutama negara-negara yang terlibat dalam mediasi gencatan senjata seperti Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat, harus mengambil langkah cepat untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar warga Gaza dapat terpenuhi, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak kecil.
Berita Terkait
-
Serangan Udara Israel Guncang Damaskus, Picu Ketegangan Baru di Suriah Selatan
-
Situs Tersuci Ketiga Umat Islam 'Masjid Al-Aqsa' Dalam Genggaman Israel
-
Israel Rencanakan Pembatasan Ketat Saat Ramadhan di Masjid Al-Aqsa, 3 Ribu Personel Polisi Dikerahkan
-
Sumber Kekayaan Zaskia Adya Mecca yang Bangun Masjid di Gaza Palestina
-
"Jenin Tak Layak Huni": Kesaksian dari Kamp Pengungsi yang Dihancurkan Israel
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Presiden Iran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan dan Blokade
-
Bantah Isu Bansos Dipotong, Gus Ipul: Itu Narasi Menyesatkan dan Potensi Penipuan!
-
Donald Trump Klaim Terima Usulan Baru dari Iran usai Batalkan Misi Perundingan ke Pakistan
-
Donald Trump Batalkan Keberangkatan Utusan ke Pakistan, Negosiasi Iran AS Kembali Buntu
-
Motif Konyol 'Prank' Damkar Semarang Terungkap: Kesal Debitur Susah Ditagih Utang Rp2 Juta!
-
WHO Sebut Butuh Rp172 Triliun untuk Pulihkan Sistem Kesehatan Gaza dalam 5 Tahun
-
Kekerasan Anak di Little Aresha, Pengurus Hingga Pemilik Terancam Hukuman Berat
-
Bidik Top 50 Kota Global, Jakarta Resmi Jalin Kerja Sama Sister City dengan Jeju Korsel
-
SPAI Desak Pemerintah: Hapus Perbudakan Modern, Akui Pengemudi Ojol Sebagai Pekerja Formal!
-
Bukan Intervensi! Eks Penyidik: Usul KPK Capres Wajib Kader Partai Bentuk Kontribusi Pemikiran