Suara.com - Arab Saudi mengecam keputusan Israel yang menghentikan pengiriman bantuan ke Jalur Gaza, menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pemerasan, di tengah negosiasi yang buntu terkait perpanjangan gencatan senjata yang rapuh.
Dalam pernyataan yang dikutip oleh Kantor Berita Saudi (SPA), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan bahwa langkah Israel menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, serta menggunakannya sebagai alat pemerasan dan hukuman kolektif.
"Merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional serta pelanggaran langsung terhadap aturan hukum humaniter internasional." tegasnya.
Arab Saudi juga mendesak komunitas internasional untuk segera menghentikan pelanggaran serius yang dilakukan oleh Israel.
Pada Minggu pagi, Israel mengumumkan penghentian seluruh pasokan barang dan bantuan ke Gaza, serta memperingatkan akan adanya konsekuensi tambahan jika Hamas tidak menyetujui perpanjangan fase pertama gencatan senjata.
Sebagai tanggapan, Hamas menuduh Israel berupaya melemahkan gencatan senjata yang telah berlaku sejak 19 Januari. Meskipun kedua belah pihak saling menuduh adanya pelanggaran dan belum mencapai kesepakatan terkait fase berikutnya dari perjanjian tersebut.
Sementara itu, Mesir juga mengecam keputusan Israel untuk menghentikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, menyebutnya sebagai "pelanggaran mencolok" terhadap perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Kairo.
Mesir dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan menteri luar negeri negara-negara Arab pada Senin (4/3), sebelum pertemuan puncak para pemimpin Arab pada Selasa (5/3) yang akan membahas rencana rekonstruksi Gaza.
Baca Juga: Pemimpin Houthi Bongkar Pelanggaran Israel dan Konspirasi AS di Timur Tengah
Berita Terkait
-
Pemimpin Houthi Bongkar Pelanggaran Israel dan Konspirasi AS di Timur Tengah
-
Hamas Siap Kerja Sama Hentikan Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
-
Iran vs Turki: Saling Tuduh Soal Pengaruh di Timur Tengah Memanas
-
Israel Larang UNRWA: Picu Krisis Kemanusiaan di Palestina?
-
Hamas Tuduh Israel Ingkar Janji: Gencatan Senjata Fase Dua Terancam Batal
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Muatan Penumpang Disorot! Bus ALS Maut yang Tewaskan 16 Orang Angkut Tabung Gas hinga Sepeda Motor
-
Tragedi Bus ALS vs Truk Tangki di Sumsel: 16 Jenazah Tiba di RS Bhayangkara, Mayoritas Luka Bakar!
-
Komandan Elite Hizbullah Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel di Beirut Selatan
-
Viral Kuitansi Laundry Gubernur Kaltim Rp20,9 Juta Seminggu: Nyuci Dalaman Aja Seharga Cicilan Motor
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Terancam Hak Angket, DPR: Kepala Daerah Harus Sensitif Isu Publik
-
Motif Sakit Hati Anggota BAIS ke Andrie Yunus Diragukan, Hakim: Apa Urusan Prajurit dengan RUU TNI?
-
Gibran dan Teddy Indra Wijaya Jadi Magnet Pilres 2029, Hensa: Semua Bergantung Keputusan Prabowo
-
Rusia Minta Evakuasi Diplomat dari Ibu Kota Ukraina, Eropa Memanas
-
Gaza Kembali Membara! Serangan Israel Tewaskan Kolonel Polisi dan Lukai 17 Orang
-
Tulisan Tangan Terakhir Jeffrey Epstein Dipublikasikan, Isi Pesannya Bikin Geger