News / Internasional
Senin, 03 Maret 2025 | 07:41 WIB
Ilustrasi bendera Arab Saudi (Pexels/Abdulla Bin Talib)

Suara.com - Arab Saudi mengecam keputusan Israel yang menghentikan pengiriman bantuan ke Jalur Gaza, menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pemerasan, di tengah negosiasi yang buntu terkait perpanjangan gencatan senjata yang rapuh.

Dalam pernyataan yang dikutip oleh Kantor Berita Saudi (SPA), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan bahwa langkah Israel menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, serta menggunakannya sebagai alat pemerasan dan hukuman kolektif.

"Merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional serta pelanggaran langsung terhadap aturan hukum humaniter internasional." tegasnya.

Arab Saudi juga mendesak komunitas internasional untuk segera menghentikan pelanggaran serius yang dilakukan oleh Israel.

Pada Minggu pagi, Israel mengumumkan penghentian seluruh pasokan barang dan bantuan ke Gaza, serta memperingatkan akan adanya konsekuensi tambahan jika Hamas tidak menyetujui perpanjangan fase pertama gencatan senjata.

Sebagai tanggapan, Hamas menuduh Israel berupaya melemahkan gencatan senjata yang telah berlaku sejak 19 Januari. Meskipun kedua belah pihak saling menuduh adanya pelanggaran dan belum mencapai kesepakatan terkait fase berikutnya dari perjanjian tersebut.

Sementara itu, Mesir juga mengecam keputusan Israel untuk menghentikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, menyebutnya sebagai "pelanggaran mencolok" terhadap perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Kairo.

Mesir dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan menteri luar negeri negara-negara Arab pada Senin (4/3), sebelum pertemuan puncak para pemimpin Arab pada Selasa (5/3) yang akan membahas rencana rekonstruksi Gaza.

Baca Juga: Pemimpin Houthi Bongkar Pelanggaran Israel dan Konspirasi AS di Timur Tengah

Load More