News / Internasional
Rabu, 26 Maret 2025 | 18:56 WIB
Ilustrasi perang AS dan Yaman. [ANTARA]

"Rangkaian pesan tersebut merupakan demonstrasi koordinasi kebijakan yang mendalam dan bijaksana antara para pejabat senior.

Keberhasilan operasi terhadap Houthi yang berkelanjutan menunjukkan bahwa tidak ada ancaman terhadap para anggota militer kami atau keamanan nasional kami," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Brian Hughes.

Ilustrasi perang AS dan Yaman. [ANTARA]

Houthi di Yaman: Sejarah, Ideologi, dan Konflik yang Berlarut-larut

Kelompok Houthi, atau dikenal juga sebagai Ansar Allah, merupakan gerakan bersenjata yang berbasis di Yaman utara.

Kelompok Houthi memainkan peran utama dalam konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di negara tersebut, menyebabkan krisis kemanusiaan yang semakin parah.

Sejarah dan Asal-Usul

Houthi berasal dari komunitas Zaidi, salah satu cabang Islam Syiah yang dominan di wilayah utara Yaman.

Gerakan ini bermula pada 1990-an sebagai kelompok dakwah keagamaan dan politik yang dipimpin oleh Hussein Badreddin al-Houthi.

Mereka awalnya menentang pengaruh asing, terutama Amerika Serikat dan Arab Saudi, serta kebijakan pemerintah Yaman yang dianggap mengabaikan kepentingan kelompok Zaidi.

Baca Juga: Trump Perintahkan "Kekuatan Mematikan" ke Yaman: Houthi Terancam Lenyap?

Konflik bersenjata pertama kali meletus pada tahun 2004 ketika pemerintah Yaman, yang saat itu dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh, berusaha menumpas kelompok ini.

Hussein al-Houthi terbunuh dalam pertempuran, tetapi gerakan tersebut semakin kuat dan berubah menjadi kekuatan militer yang lebih terorganisir.

Ideologi dan Tujuan

Houthi mengklaim sebagai gerakan perlawanan terhadap korupsi, ketidakadilan, serta campur tangan asing di Yaman.

Mereka menentang dominasi Arab Saudi dan AS di kawasan Timur Tengah.

Slogan mereka yang terkenal adalah "Tewaskan Amerika, tewaskan Israel, kutuklah Yahudi, kemenangan bagi Islam."

Kelompok ini juga mengusung sistem pemerintahan yang lebih selaras dengan ajaran Zaidi, meskipun tetap mengklaim ingin memperjuangkan kepentingan seluruh rakyat Yaman.

Dalam perjalanannya, Houthi juga mendapat dukungan dari Iran, meskipun Iran menyangkal keterlibatan langsung dalam konflik.

Konflik dengan Pemerintah Yaman dan Koalisi Arab

Pada 2014, Houthi berhasil merebut ibu kota Yaman, Sanaa, dan menggulingkan pemerintahan yang didukung oleh Arab Saudi.

Hal ini memicu intervensi militer besar-besaran oleh koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi pada 2015 dengan tujuan mengembalikan pemerintahan yang sah.

Sejak saat itu, perang saudara Yaman terus berlanjut dengan korban jiwa mencapai ratusan ribu orang dan menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia menurut PBB.

Houthi juga sering melancarkan serangan balasan ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menggunakan rudal dan drone.

Selain itu, mereka juga terlibat dalam perang maritim dengan menyerang kapal-kapal di Laut Merah sebagai bentuk tekanan terhadap rival-rival mereka.

Krisis Kemanusiaan dan Upaya Perdamaian

Konflik antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung koalisi Arab Saudi telah menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal, kelaparan massal, dan runtuhnya sistem kesehatan di Yaman.

Berbagai upaya perdamaian telah dilakukan oleh PBB dan organisasi internasional lainnya, tetapi hingga kini belum ada solusi jangka panjang yang berhasil mengakhiri perang.

Kontributor : Maliana

Load More