Suara.com - Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik di dunia, akhirnya meninggal dunia pada Senin (21/4/2025) pagi setelah berjuang melawan sakit pneumonia ganda dalam beberapa bulan terakhir.
Paus pertama asal Amrika Latin yang meninggal di usia 88 tahun ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 07.35 Waktu setempat.
Dikutip dari Legit, salah satu paus tertua dalam sejarah Gereja Katolik Roma ini membuat Vatikan dan dunia mengalami masa berkabung besar-besaran.
Kendati demikian, sosok yang bakal menggantikan atau menjadi paus berikutnya pun tak kalah ramai dibicarakan.
Di masa berkabung ini, Vatikan akan segera mengadakan konklaf kepausan atau sebuah tradisi turun temurun untuk memilih paus baru sejak abad ke-13, dengan 138 elektor yang berhak memberikan suara.
Hingga Januari 2025, terdapat 138 elektor dari 252 kardinal, dan hanya mereka yang berusia di bawah 80 tahun yang diizinkan untuk memberikan suara.
Sidang dengar pendapat umumnya melibatkan beberapa putaran pemungutan suara dan dibutuhkan mayoritas dua pertiga agar seorang kandidat dapat terpilih.
Proses ini diperkirakan memakan waktu sekitar 15 hingga 20 hari. Lantas, siapa saja tokoh-tokoh kuat yang potensial menjadi paus berikutnya? simak daftar 4 kardinal-kardinal utama yang bisa menggantikan Paus Fransiskus:
1. Kardinal Pietro Parolin
Baca Juga: Presiden dan Menag RI Kenang Paus Fransiskus saat Berkunjung ke Indonesia pada September 2024 Lalu
Di usianya yang ke-70, Kardinal Parolin adalah Sekretaris Negara Vatikan saat ini dan memegang jabatan tertinggi di antara para kardinal yang berhak memberikan suara.
Ia dikenal sebagai tokoh moderat, Parolin telah mendapatkan kehormatan atas ketajaman diplomatiknya dan pendekatan yang seimbang terhadap isu-isu politik dan teologis.
Ia baru-baru ini menyuarakan pendapatnya tentang diplomasi internasional, termasuk perlunya solusi damai untuk konflik global.
"Setiap orang dapat berkontribusi untuk perdamaian, tetapi solusinya tidak boleh ditempuh melalui pemaksaan sepihak yang berisiko menginjak-injak hak seluruh masyarakat," tegas Parolin.
2. Kardinal Peter Erdö
Kardinal Erdö, Uskup Agung Esztergom-Budapest, dikenal karena pandangannya yang konservatif dan telah menjadi pengkritik keras kebijakan gereja yang lebih progresif.
Di usianya yang ke-72, ia merupakan salah satu tokoh terkemuka gereja dalam hal nilai-nilai Katolik tradisional, khususnya mengenai isu-isu seperti perceraian dan pernikahan ulang.
"Kita tidak boleh membiarkan sakramen diperlakukan dengan tidak hormat. Pernikahan tidak dapat dipisahkan, dan gereja harus melindungi ajaran sucinya," kata Erdö.
3. Kardinal Luis Antonio Tagle
Di usianya yang ke-67, Kardinal Tagle dari Filipina dianggap sebagai tokoh progresif dalam Gereja.
Ia telah menganjurkan pendekatan yang lebih inklusif terhadap isu-isu LGBT dan mengkritik bahasa kasar yang secara historis digunakan terhadap komunitas-komunitas tertentu.
Sikapnya yang lebih inklusif sejalan dengan visi Paus Fransiskus, yang menjadikannya calon penerus dengan pendekatan yang sama terhadap keadilan sosial.
"Kata-kata kasar yang digunakan di masa lalu untuk merujuk pada kaum gay dan orang-orang yang bercerai dan berpisah... menyebabkan mereka terisolasi dari masyarakat luas," kata Tagle.
4. Kardinal Matteo Zuppi
Kardinal Zuppi, yang merupakan favorit Paus Fransiskus, berusia 69 tahun dan pernah menjabat sebagai presiden Konferensi Episkopal Italia.
Ia dikenal karena misi diplomatiknya, ia telah bekerja dalam negosiasi perdamaian, termasuk upaya di Ukraina.
Zuppi juga dikenal karena sikap progresifnya terhadap isu-isu LGBTQ dan seruannya bagi Gereja untuk mengadopsi pendekatan yang lebih pastoral.
"Kita perlu mendorong dialog dan pemahaman antara Gereja dan komunitas LGBT," tulis Zuppi pada tahun 2018.
5. Kardinal Raymond Leo Burke
Kardinal Burke, 74 tahun, dikenal karena pandangan tradisionalisnya dan sering mengkritik kebijakan Paus Fransiskus yang lebih liberal.
Sebagai mantan pejabat Vatikan, Burke secara terbuka menentang banyak perubahan yang diterapkan di bawah Paus Fransiskus, khususnya mengenai perlakuan terhadap umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi.
Pandangannya tentang isu-isu seperti kontrasepsi buatan dan pernikahan sesama jenis membuatnya menjadi tokoh yang memecah belah di Gereja.
"Politisi Katolik yang mendukung aborsi yang dilegalkan seharusnya tidak menerima Ekaristi," kata Burke.
Kontributor : Maliana
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun
-
Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029
-
Gaji Jurnalis Pemula Disorot: Idealnya Rp 9,1 Juta, Faktanya Masih Banyak di Bawah UMR
-
PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota
-
Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik
-
Hadirkan Raisa hingga Yura Yunita, Pagelaran Sabang Merauke 2026 Siap Guncang Indonesia Arena!
-
Terseret Pusaran Narkoba, Pemprov DKI Jakarta Segel Permanen Whiterabit PIK
-
Swadaya Warga Matraman Lindungi Ibu Hamil dan Anak dari Asap Rokok
-
Dokumen Pentagon Bocor Ungkap Rencana AS Hukum Spanyol dan Inggris Terkait Perang di Iran
-
Rapor Merah Pelayanan Hijau Jakarta: Kurang Armada, Ribuan Permohonan Pemangkasan Pohon Antre!