News / Nasional
Kamis, 01 Mei 2025 | 19:08 WIB
Wisatawan saat berlibur di kawasan wisata Sembalun, kaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB) [Suara.com/ANTARA]

Saat kembali, semua barang sisa tersebut harus dibawa turun dan dicocokkan dengan data awal.

Bukan Membatasi Rezeki, Tapi Menjaga Warisan

Sebagai kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, TNGR juga membatasi jumlah pengunjung.

“Makanya demi keberlanjutan wisata Rinjani, kami membuat pembatasan. Bukan membatasi rezeki orang,” jelas Budi.

Jumlah pengunjung per hari maksimal 700 orang, yang tersebar melalui enam jalur pendakian. Jalur Senaru, Sembalun, Torean, Aik Berik, Tetebatu, dan Timbanuh.

Jalur Senaru dan Sembalun—dua rute paling populer—dibatasi masing-masing untuk 150 orang per hari. Sementara empat jalur lainnya masing-masing maksimal 100 pendaki per hari.

Pembatasan ini penting, mengingat kawasan Rinjani bukan hanya untuk rekreasi. Ia adalah ekosistem kompleks yang mendukung keberadaan flora, fauna, mata air, dan kehidupan masyarakat sekitar.

“Kalau kita biarkan sampah menumpuk, alam rusak, air kotor, satwa terganggu. Pendaki juga tidak nyaman. Maka program ini penting untuk semua pihak,” kata Budi.

Sanksi Sebagai Pelajaran Kolektif

Baca Juga: Syok Lihat Sampah Tak Terurus di Pasar Caringin, Dedi Mulyadi : Ini Pasar Atau Sawah?

Penerapan blacklist tidak dimaksudkan untuk menghukum secara keras, tetapi sebagai upaya edukasi kolektif.

“Kami ingin ada kesadaran. Bahwa mendaki gunung bukan hanya soal foto cantik di puncak, tapi juga soal etika dan tanggung jawab,” tambah Budi.

Balai TNGR juga rutin menggelar edukasi kepada pemandu, porter, dan pelaku wisata lokal agar ikut menjadi agen perubahan.

Edukasi dilakukan mulai dari sistem pendataan, cara pengemasan makanan yang ramah lingkungan, hingga teknik membawa turun sampah tanpa merepotkan pendaki.

Harapan di Kaki Rinjani

Gunung Rinjani bukan sekadar destinasi. Ia adalah simbol kebanggaan dan warisan bagi generasi masa depan.

Lewat program Zero Waste, pengelola ingin mengingatkan bahwa setiap langkah kaki di jalurnya harus meninggalkan jejak kebaikan, bukan tumpukan plastik.

“Kami berharap ke depan, jumlah pelanggar bisa ditekan hingga nol. Semua pihak, termasuk pendaki, operator wisata, dan pemerintah daerah harus bersinergi,” tutup Budi.

Di tengah gempuran wisata massal dan hasrat selfie di ketinggian, kebijakan ini adalah langkah penting.

Meski tak selalu populer, langkah tegas seperti blacklist adalah cara untuk melindungi apa yang tak tergantikan. Alam yang lestari dan gunung yang tetap hidup.

Load More