Suara.com - Energi angin kian menjadi andalan dunia dalam mewujudkan transisi menuju sumber daya yang lebih bersih dan berkelanjutan. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), atau yang lebih dikenal sebagai wind farm, telah mengalami pertumbuhan pesat dalam dua dekade terakhir.
Data dari Ember, lembaga global yang fokus pada transisi menuju energi bersih, menyebut pada akhir 2023, kapasitas terpasang listrik tenaga angin dunia mencapai lebih dari 1.000 gigawatt (GW). Sebuah capaian luar biasa yang menunjukkan keseriusan dunia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Angin kini menyumbang sekitar 7,8% listrik global pada 2023, meningkat dari 7,3% pada tahun sebelumnya. Di Eropa, pangsa listrik dari angin bahkan mencapai 12,3%, dengan negara seperti Denmark menjadi pemimpin dunia, menghasilkan 58% listrik nasionalnya dari angin.
Di belahan dunia lain, Skotlandia pernah mencatat rekor ketika produksi listrik dari angin pada November 2018 melebihi total kebutuhan domestik selama sebulan penuh.
Negara-negara seperti Cina dan Amerika Serikat mendominasi pengembangan PLTB global. Cina sendiri kini mengoperasikan 521,75 GW kapasitas PLTB, atau sekitar 40% dari total dunia, sementara AS menyusul dengan 153,15 GW. Dari sisi kontribusi terhadap bauran energi nasional, Inggris mencatat 30% dan Jerman 28% dari total listrik mereka berasal dari angin.
PLTB di Indonesia: Dari Eksperimen ke Skala Komersial
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang panjang dan kondisi angin tropis yang khas, memiliki potensi besar dalam pengembangan energi angin.
Namun perjalanan negeri ini dalam mengembangkan PLTB bukan tanpa tantangan. Meski baru beberapa dekade terakhir aktif dikembangkan secara komersial, upaya eksperimental telah dimulai sejak akhir 1990-an.
Laman Kementerian ESDM menyebut proyek PLTB pertama di Indonesia adalah Proyek Oeledo di Desa Oeledo, Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini dimulai pada 1997 dan selesai pada 2001. Merupakan kolaborasi internasional, proyek ini didukung oleh konsorsium perusahaan listrik dari Kanada, Jepang, Italia, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Gelombang Investasi PLTS Asia Pasifik Buka Jalan Indonesia Menuju Energi Berkelanjutan
Oeledo dipilih karena merupakan wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) dengan potensi angin dan matahari tinggi serta belum teraliri listrik.
Eksperimen lain muncul di Pantai Baru, Srandakan, Bantul, lewat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) yang menggabungkan tenaga bayu dan surya. Dibangun pada 2010 melalui kerja sama Kementerian Riset dan Teknologi serta Kementerian ESDM, PLTH ini dapat menyuplai listrik bagi 54 warung makan di kawasan wisata tersebut, sekaligus menyimpan 4.260 AH energi dalam 150 baterai cadangan.
Langkah besar Indonesia terjadi pada 2018 dengan beroperasinya PLTB Sidrap I di Sulawesi Selatan. Dengan kapasitas kontrak 70 MW, proyek ini menjadi pembangkit tenaga angin skala besar pertama di Indonesia yang beroperasi secara komersial. Kesuksesan Sidrap I memicu proyek lanjutan: Sidrap II (50 MW), Jeneponto (60 MW), dan Tanah Laut (150 MW, bertahap) yang kini sedang dalam pengembangan.
Selain Sulawesi Selatan, potensi angin juga ditemukan di berbagai wilayah lain seperti Sukabumi (170 MW), Garut (150 MW), Lebak dan Pandeglang (masing-masing 150 MW), serta Lombok (100 MW). Potensi ini membuka peluang besar untuk menghadirkan energi bersih sekaligus menciptakan lapangan kerja lokal dan mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah.
Meskipun pertumbuhan PLTB di Indonesia belum secepat negara-negara lain, komitmen terhadap energi terbarukan terus meningkat. Kunci suksesnya bukan hanya pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga pada regulasi yang mendukung, kemudahan investasi, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan operasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
KPK 'Skakmat' Ancaman Gugatan Rp300 Triliun Noel: Fokus Sidang, Jangan Membangun Opini!
-
Periksa Suami Fadia Arafiq, KPK Telusuri 'Jalur Panas' Uang di Perusahaan Keluarga
-
Lawan KPK, Noel Ancam Gugat Rp 300 Triliun: 'Tak Ambil Satu Rupiah Pun, Semua untuk Buruh!'
-
KPK Bidik Peran Suami Fadia Arafiq di Pusaran Korupsi Proyek Outsourcing Pekalongan
-
Usut Tragedi Bekasi Timur: Usai Sopir Taksi Green SM, Besok Giliran Masinis Diperiksa Polisi
-
Kenapa Banyak Bajak Laut di Somalia? Kapal Honour 25 Berisi 4 WNI Disandera Perompak
-
Kilas Balik Misi Berdarah TNI Bebaskan Kapal Sinar Kudus dari Cengkeraman Perompak Somalia
-
10 Jam Terjepit Dalam Kereta, Kisah Endang Melawan Maut Usai Sempat Dikira Tim SAR Meninggal
-
Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Ajukan Perlindungan dan Restitusi ke LPSK
-
Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Iran, Taktik dan Jet Tua Jadi Kunci