Jika ada ancaman yang berhasil lolos dari NASAMS, Oerlikon Skyshield adalah tembok terakhirnya.
Ini adalah sistem meriam pertahanan udara modern yang mampu memuntahkan 1.000 peluru kaliber 35mm per menit.
Keistimewaannya terletak pada amunisi AHEAD (Advanced Hit Efficiency and Destruction), di mana setiap peluru akan pecah di depan target dan melepaskan ratusan proyektil tungsten kecil, menciptakan "awan pecahan" yang mematikan bagi drone, helikopter, atau rudal.
Oerlikon adalah sistem yang sangat mematikan, namun jangkauannya sangat pendek, hanya sekitar 4 kilometer. Ia adalah sistem "last-ditch" atau pertahanan titik pamungkas.
Kelemahan terbesarnya adalah ketidakmampuannya melawan ancaman dari atas (serangan vertikal) seperti rudal balistik. Terhadap swarm drone cerdas yang menyerang dari berbagai arah secara simultan, satu unit Oerlikon bisa kewalahan karena keterbatasan sektor tembaknya pada satu waktu.
3. Rudal Starstreak: Si Anak Panah Super Cepat
Starstreak adalah sistem rudal pertahanan udara panggul (MANPADS) atau berbasis kendaraan yang paling unik di dunia.
Kecepatannya yang mencapai Mach 4 (empat kali kecepatan suara) menjadikannya rudal jarak pendek tercepat.
Setelah diluncurkan, ia tidak meledak, melainkan melepaskan tiga "anak panah" tungsten yang dipandu laser secara presisi untuk menembus target.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Memanas: Bagaimana Nasib WNI? Ini Kata Kemlu
Ini sangat efektif untuk memberikan perlindungan udara mobile bagi pasukan di darat.
Kecepatan adalah keunggulannya, namun jangkauan dan sistem panduannya adalah keterbatasan.
Jangkauannya hanya sekitar 7 kilometer. Sistem panduan laser mengharuskan operator untuk terus mengarahkan laser ke target hingga terkena, membuatnya rentan di medan perang yang kacau dengan banyak target.
Menghadapi swarm drone, seorang operator akan sangat kesulitan untuk melacak dan menghancurkan banyak drone dalam waktu singkat.
Sisi Ofensif: Kemampuan Membalas Indonesia
Peperangan modern juga tentang deterensi. Kemampuan untuk membalas serangan (offensive capability) sama pentingnya dengan bertahan.
Dalam hal ini, Indonesia telah mengembangkan beberapa rudal, namun fokusnya lebih ke arah anti-kapal.
Rudal Anti-Kapal: Indonesia memiliki rudal seperti Exocet MM40 Block 3 (Prancis) dan C-802 (Tiongkok) yang menjadi andalan KRI kita.
Litbanghan Kemhan dan BUMN industri pertahanan aktif mengembangkan roket dan rudal, seperti R-HAN 122B.
Namun, ini masih dalam kategori roket artileri, bukan rudal jelajah atau balistik strategis seperti yang dimiliki Iran.
Ketiadaan rudal balistik atau rudal jelajah jarak jauh membuat kemampuan serang balasan strategis Indonesia menjadi terbatas.
Langkah ke Depan: Modernisasi adalah Keharusan
Analisis ini bukan untuk pesimis, melainkan untuk realistis. Pemerintah dan TNI sangat menyadari celah ini. Arah modernisasi alutsista ke depan kemungkinan besar akan berfokus pada:
Pembelian sistem pertahanan udara dengan jangkauan lebih jauh dan kemampuan anti-rudal balistik menjadi prioritas.
Membangun sistem komando terpusat yang mampu mengintegrasikan data dari seluruh radar dan unit pertahanan udara di seluruh Indonesia.
Riset dan pengembangan rudal jelajah dan balistik buatan dalam negeri untuk menciptakan efek gentar (deterrence).
"Indonesia tidak boleh lengah. Modernisasi alutsista pertahanan udara bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjamin kedaulatan di tengah dinamika geopolitik yang semakin tak menentu."
Jika skenario perang rudal terjadi, Indonesia akan mampu memberikan perlawanan sengit untuk melindungi aset-aset vitalnya.
Namun, untuk menciptakan perisai udara yang benar-benar kokoh di seluruh Nusantara dan memiliki kemampuan balas yang sepadan, jalan kita masih panjang.
Tag
Berita Terkait
-
Konflik Iran-Israel Memanas: Bagaimana Nasib WNI? Ini Kata Kemlu
-
TNI Rekrutmen 24 Ribu Tamtama dan Bangun 5 Kodam, Istana: Sudah Diperhitungkan
-
Belum Bahas Surat Forum Purnawirawan Prajurit TNI Soal Pemakzulan Gibran, Ini Alasan Pimpinan DPR
-
Kemensos Libatkan TNI Kasih Materi di Retret Kepala Sekolah Rakyat, Ini Alasan Gus Ipul
-
Suruh Pemda Turun Tangan, Bima Arya Larang Ormas Pakai Seragam Mirip TNI-Polri: Gak Boleh!
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Rp14,15 Triliun Uang Mengalir ke Sulsel, Daerah Mana Paling Banyak Terima?
-
Cara Mengatasi Masalah Baterai Cepat Habis di HP Android, Mudah Dilakukan
-
Viva Milk Cleanser Ada Berapa Macam? Cek Varian dan Fungsi Masing-Masing
-
Pre-Order Samsung Galaxy Fold8 Pakai Kartu Debit BRI, Dapatkan Potongan Hingga Rp4 Juta!
-
Muktamar NU Jadi Momentum Gus Ipul dan Gus Kikin Gaungkan Gerakan "Kembali ke Muasis"
-
Sante' Kaffe FUGO Hotel Banjarmasin Beri Diskon Spesial, Pengguna Brimo Wajib Tahu!
-
Anwar Sadad Mangkir dari Pemeriksaan KPK Terkait Kasus Hibah Pokmas Jatim
-
Pemerintah Pusat Tolak Wacana Pajak Mobil Listrik DKI, Kemenperin Minta Industri Jangan Dibebani
-
Roy Suryo Ajukan Praperadilan Keempat, Gugat Pencekalan di Kasus Dugaan Ijazah Jokowi
-
Timnas Indonesia Bakal Duel Lawan Vietnam, John Herdman: Ujian yang Sangat Berat!