Dalio menyarankan agar defisit anggaran AS dipangkas dari 6 persen menjadi 3 persen dalam waktu dekat untuk mencegah krisis ekonomi yang lebih besar di masa depan.
Namun, RUU Anggaran Besar yang baru saja disahkan justru mengambil arah sebaliknya.
RUU ini memangkas sejumlah pengeluaran, tetapi pemangkasan pajak yang lebih besar justru memperlebar defisit.
Dalam skenario krisis seperti sebelumnya, salah satu langkah yang mungkin ditempuh bank sentral AS adalah mencetak lebih banyak uang dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah—seperti yang dilakukan pasca-krisis keuangan 2008.
Namun, kebijakan tersebut berpotensi memicu inflasi dan memperlebar ketimpangan.
Sebab, pemilik aset seperti properti dan saham akan mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan mereka yang mengandalkan pendapatan dari tenaga kerja.
Kemungkinan lain yang lebih ekstrem adalah skenario gagal bayar (default). Jika AS tidak mampu atau memilih untuk tidak membayar utangnya, dampaknya akan sangat destruktif.
'Kepercayaan penuh dan kredit dari Departemen Keuangan AS' merupakan pilar utama sistem keuangan global. Jika hal ini goyah, maka krisis keuangan besar bisa terjadi, bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
Sebagai informasi, paket kebijakan yang disebut Trump sebagai 'One Big Beautiful Bill' mencakup pendanaan belanja pemerintah dan pemangkasan pajak.
Baca Juga: Donald Trump Tentukan Nasib TikTok Diblokir atau Tidak Minggu Depan
Beleid ini diperkirakan meningkatkan defisit anggaran hingga 3,3 triliun dolar AS atau sekitar Rp54 ribu triliun.
Mengutip Xinhua, Sabtu (5/7/2025), upacara penandatanganan RUU ini dilakukan di Gedung Putih, sehari setelah DPR AS mengesahkannya.
Trump sendiri meminta agar RUU tersebut disahkan sebelum 4 Juli agar penandatanganannya menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.
Undang-undang ini merepresentasikan agenda politik Trump, termasuk pemotongan pajak serta peningkatan anggaran untuk militer dan keamanan perbatasan.
RUU ini lolos dalam voting DPR dengan margin tipis: 218 suara mendukung dan 214 menolak. Seluruh anggota Demokrat serta dua anggota Partai Republik, Thomas Massie dari Kentucky dan Brian Fitzpatrick dari Pennsylvania, menolak pengesahan RUU tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Empat Karyawan di Jaksel Sekap Teman Wanita Gara-gara Urusan Kantor, Begini Kronologinya
-
KPK Endus Aliran Duit Haram di Loket Imigrasi Bali, Biro Jasa Mulai 'Bernyanyi'
-
Kapolda Jabar: Taufik Hidayat Sangat Sadis, Harus Dihukum Maksimal 12 Tahun Penjara!
-
Prabowo Hadiri Konvensi Sains, Beri Taklimat di Hadapan 2.600 Akademisi
-
Identik dengan Gajah, Analis Bongkar Alasan Jokowi Pilih Lampung Jadi Target Safari Politik
-
Kedok Game Keluarga! Disney Timezone di Jakarta Ternyata Sarang Judi Beromzet Rp2,1 Miliar Sebulan
-
Guntur Romli Sebut Safari Politik Jokowi Demi Gibran di 2029
-
3 Peserta Latsarmil Meninggal, KSP Dudung: Belum Ada Kelalaian, Mungkin Faktor Penyakit
-
Refocusing MBG Prioritaskan Kelompok Rentan, Ribuan Dapur Terancam Mubazir
-
Cerita di Balik Longsor Petamburan: Delapan Hari Sebelum Ambrol, Warga Sudah Rasakan Tanda Bahaya