Suara.com - Teka-teki lokasi upacara HUT ke-80 RI pada 17 Agustus 2025 akhirnya terjawab. Pemerintah Presiden Prabowo Subianto memastikan perayaan detik-detik proklamasi akan tetap digelar di Jakarta, bukan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Keputusan ini menuai sorotan, dengan alasan utama dari sisi hukum dan kesiapan infrastruktur IKN yang dinilai belum memadai.
Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro, mengungkapkan alasan praktis di balik keputusan ini. Menurutnya, fokus pemerintah saat ini adalah menyelesaikan pembangunan IKN.
"Yang upacara, upacara detik-detik proklamasi akan dilaksanakan di Jakarta," kata Juri di Kompleks Parlemen, Senayan, beberapa waktu lalu.
"Ya di IKN kan sedang dalam proses penyelesaian pembangunan kan, jadi kita konsentrasi untuk menyelesaikan pembangunan IKN dulu," ujarnya.
Meski begitu, Juri memastikan akan ada upacara berskala kecil yang diselenggarakan oleh Otorita IKN di Nusantara.
Ungkap Alasan Hukum: IKN Belum Sah
Dukungan atas keputusan ini datang dari Ketua Komisi II DPR RI, M Rifqinizamy Karsayuda. Ia membeberkan alasan fundamental dari sisi hukum mengapa upacara kenegaraan utama masih layak digelar di Jakarta.
Menurutnya, IKN belum ditetapkan secara resmi sebagai Ibu Kota Negara yang baru melalui Peraturan Presiden (Perpres).
Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Ngeles, Janji Naik 100 Persen Dana RT/RW, Kok Jadi 25 Persen?
"Kendati undang-undang nomor 3 tahun 2022 telah menyebutkan bahwa Ibu Kota Nusantara adalah Ibu Kota Negara kita, tetapi di undang-undang itu juga disebutkan bahwa pengaktifan atau aktivasi penetapan IKN sebagai Ibu Kota Negara (membutuhkan Perpres)," jelas Rifqinizamy di Kompleks Parlemen, Rabu (23/7/2025).
"Sehingga secara yuridis, normatif, Jakarta ini berfungsi masih sebagai Ibu Kota Negara," tegasnya.
"Maka sangat wajar kalau kemudian perayaan HUT Republik Indonesia ke-80 masih berpuncak di Jakarta."
Pengamat komunikasi politik, M. Jamiluddin Ritonga, menilai langkah pemerintahan Prabowo ini sudah sangat tepat. Menurutnya, sebuah keanehan jika upacara kemerdekaan nasional tidak digelar di ibu kota negara yang sah.
Ia bahkan menyindir pelaksanaan upacara pada tahun 2024 di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang terkesan dipaksakan.
"Akan terasa aneh bila upacara kemerdekaan secara nasional dilaksanakan bukan di ibu kota negara. Keanehan itu memang sudah terlihat kala Joko Widodo pada tahun 2024 memaksakan upacara kemerdekaan di IKN," kata Jamiluddin kepada Suara.com.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
- Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
-
Harga Minyak Mulai Turun Usai Beredar Kabar G7 Lepas Cadangan 400 Juta Barel
-
Rusia Kasih Data Aset Militer AS ke Iran untuk Dihancurkan, Termasuk Lokasi Kapal dan Jet Tempur
Terkini
-
Duduk Perkara Kasus Bibi Kelinci: dari Nabilah O'Brien jadi Tersangka Hingga Berakhir Damai
-
Sempat Live Bareng Bigmo Saat Penetapan Tersangka, Ini Kata Wali Kota Solo
-
Aneh tapi Nyata! Tren di Jepang, Meditasi di Dalam Peti Mati Demi Kesehatan Mental
-
Kisah Punch, Bayi Monyet Viral Kini Mulai Punya Teman di Kebun Binatang Jepang
-
Cara Iran Acungkan 'Jari Tengah' ke Trump: Pilih Mojtaba Khamenei Jadi Ayatollah
-
Kejaksaan Agung Panggil 9 Saksi Kasus Korupsi Ekspor POME, Siapa Saja?
-
Resmikan 218 Jembatan, Prabowo Tunjuk Jenderal Bintang Empat Pimpin Pembangunan Hingga ke Pelosok
-
Hormati Vonis Bebas Delpedro Cs, Polda Metro: Penyidik Sudah Jalankan Prosedur
-
Tanpa Bicara, Wajah Bisa Membocorkan Apakah Anda Orang Kaya atau Miskin
-
Tiga Kali Dikhianati? Ini Kronologi Retaknya Diplomasi ASIran