Suara.com - Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta menjatuhkan 'bogem mentah' kepada mantan pejabat Mahkamah Agung (MA), Zarof Ricar. Dalam putusan banding, hukumannya diperberat dari 16 tahun menjadi 18 tahun penjara. Tak hanya itu, uang tunai Rp915 miliar dan emas seberat 51 kilogram miliknya juga dipastikan dirampas untuk negara.
Putusan ini dibacakan oleh Hakim Ketua Albertina Ho, yang dikenal dengan ketegasannya. Majelis hakim menilai, perbuatan Zarof telah mencoreng wajah peradilan Indonesia.
"Majelis Hakim Pengadilan Tinggi berpendapat tindak pidana yang dilakukan Terdakwa Zarof membuat orang berprasangka buruk terhadap hakim-hakim di Indonesia, seolah-olah hakim-hakim mudah disuap, mudah diatur sesuai kemauan orang yang memiliki uang untuk membelokkan keadilan," ujar Hakim Ketua dalam salinan putusan yang diterima di Jakarta, dilansir Antara, Jumat (25/7/2025).
Meskipun hukuman penjaranya diperberat, pidana denda untuk Zarof tetap sama, yakni Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan.
Zarof Ricar terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan dua tindak pidana korupsi. Pertama, ia terlibat dalam pemufakatan jahat untuk menyuap Hakim Agung Soesilo sebesar Rp5 miliar, terkait penanganan perkara kasasi Ronald Tannur pada tahun 2024.
Kedua, ia terbukti menerima gratifikasi 'gila-gilaan' selama menjabat di MA pada periode 2012–2022. Gratifikasi yang ia terima mencapai Rp915 miliar dan emas seberat 51 kilogram, sebagai imbalan untuk membantu pengurusan berbagai perkara.
Sebelumnya, di pengadilan tingkat pertama, Zarof divonis 16 tahun penjara, lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta 20 tahun. Namun, di tingkat banding, Majelis Hakim yang dipimpin Albertina Ho memutuskan untuk memperberat hukuman tersebut, mengirimkan sinyal keras bahwa tidak ada ampun bagi para perusak lembaga peradilan.
Berita Terkait
-
Sudah Divonis 16 Tahun, Harta Rp 1 Triliun Zarof Ricar Masih Kurang?
-
Hattrick! Kejagung Kembali Tetapkan Zarof Ricar Tersangka Suap Penanganan Perkara Rp11 Miliar
-
Logika Aneh Vonis Zarof Ricar, Kejagung Melawan: Raup Rp915 M, Hakim Perintahkan Kembalikan Rp8,8 M
-
Mahfud MD Desak Kejagung Jerat Kembali Zarof Ricar dengan Dakwaan Baru
-
Alasan Aneh Hakim Vonis Ringan Makelar Peradilan Zarof Ricar
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
-
Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Turun Tajam
-
Pasar Modal RI Berpotensi Turun Kasta, Kini Jepang Pangkas Rekemondasi Saham BEI
Terkini
-
Dari MBG Sampai ASRI, Presiden Prabowo Menggugah 4 Ribu Lebih Peserta Rakornas Kemendagri 2026
-
Eksekusi Brutal di Bali: Dua WNA Australia Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan Berencana
-
Eks Pejabat Kemendikbud Akui Terima Rp701 Juta dari Pemenang Tender Chromebook
-
Skandal Suap Jalur Kereta Api, KPK Cecar Direktur Kemenhub Jumardi Soal Aliran Dana dan Tender
-
Pantura Genuk Minim Genangan di Musim Hujan, Infrastruktur Pengendali Banjir Dioptimalkan
-
Satgas PKH Sedang Verifikasi Temuan PPATK Soal Hasil Penambangan Emas Ilegal Senilai Rp992 Triliun
-
Pandji Pragiwaksono Dicecar 48 Pertanyaan Usai Diperiksa Bareskrim: Saya Ikuti Prosesnya Saja
-
Lebih Ganas dari COVID-19, Menakar Kesiapan Indonesia Hadapi Virus Nipah yang Mematikan
-
Dirut Garuda dan Perwakilan Embraer Sambangi Istana, Bahas Rencana Pembelian Pesawat?
-
Jakarta Makin Gampang Tenggelam, Sudah Waktunya Benahi Tata Ruang?