Suara.com - Di tengah misteri yang menyelimuti meninggalnya diplomat Arya Daru Pangayunan, satu detail kecil menjadi sorotan tajam: rentetan panggilan telepon dari sang istri di malam kejadian.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat sebagai tindakan wajar seorang istri yang khawatir. Namun di mata Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, tindakan itu bisa jadi menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Menurut Reza, panggilan telepon yang dilakukan secara bertubi-tubi di malam hari bukanlah sekadar upaya mengecek kabar, melainkan bisa diartikan sebagai manifestasi dari sebuah firasat atau kekhawatiran spesifik yang sudah ada sebelumnya.
Menyimpang dari Logika Wajar
Reza Indragiri memulai analisisnya dengan membandingkan tindakan istri Arya Daru dengan reaksi manusiawi yang wajar dalam situasi serupa.
Logika sederhana, menurutnya, akan menuntun seseorang untuk berpikir bahwa pasangan yang tidak menjawab telepon di larut malam kemungkinan besar sedang beristirahat.
"Saya bayangkan begini, begitu ditelepon tidak mengangkat karena itu malam hari, yang lazimnya secara manusiawi orang kan akan memilih untuk istirahat kan, tidur kan," ujar Reza dikutip dari Youtube Official iNews.
Ia melanjutkan, reaksi paling umum adalah memberikan jeda dan mencoba menghubungi kembali keesokan paginya.
"Saya bayangkan secara subjektif memang oh ketika yang bersangkutan tidak bisa ditelepon pada malam hari, tengah malam tidak bisa ditelepon, dini hari tidak bisa telepon apalagi sih kemungkinannya kalau bukan yang bersangkutan memang sedang istirahat, sedang tidur sehingga dipilihlah oke saya berikan kesempatan untuk tidur untuk istirahat besok pagi akan saya coba kontak kembali."
Baca Juga: Istana Akhirnya Buka Suara soal Diplomat Tewas Kepala Dilakban, Ini Sikap Presiden Prabowo
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Panggilan terus dilancarkan tanpa henti, sebuah anomali yang menurut Reza membuka pintu untuk spekulasi psikologis.
Sinyal Firasat "Belahan Jiwa"
Penyimpangan dari logika wajar inilah yang menjadi inti analisis Reza. Tindakan menelepon tanpa henti, apalagi jika disertai kepanikan, mengindikasikan bahwa sang istri kemungkinan besar tidak sedang berpikir pasangannya hanya tertidur. Ada dugaan lain yang lebih kuat di benaknya.
"Justru mungkin bisa kita tafsirkan bahwa seakan-akan istrinya namanya belahan jiwa sudah dekat sekian lama mungkin sudah punya pemikiran, sudah punya bayangan, sudah punya firasat tentang sesuatu yang tidak wajar yang berlangsung pada diri suaminya," jelas Reza.
Koneksi emosional yang mendalam sebagai "belahan jiwa" bisa jadi memicu intuisi atau firasat bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Ini bukan lagi sekadar kekhawatiran biasa, melainkan sebuah keyakinan tersembunyi bahwa sang suami sedang dalam bahaya.
Puncak dari analisis Reza adalah pergeseran makna dari panggilan tersebut. Itu bukan lagi sekadar panggilan karena rindu atau khawatir, melainkan sebuah upaya untuk memonitor dan mengontrol kondisi sang suami dari jauh. Ada sebuah urgensi yang luar biasa di balik setiap dering telepon yang tak terjawab itu.
"Bahwa ada orang yang tengah malam menelepon bertubi-tubi apalagi kalau betul memang dalam kondisi panik maka sepertinya kita punya alasan untuk menduga-duga paling tidak Jangan-jangan pihak istri memang sudah punya kekhawatiran tertentu, sudah punya bayangan, sudah punya firasat, sudah punya hitung-hitungan ada sesuatu yang tidak wajar yang dialami oleh suaminya," papar Reza.
Ia menyimpulkan dengan sebuah kalimat tajam yang merangkum keseluruhan hipotesisnya. "Alih-alih memberikan kesempatan untuk beristirahat, tapi seolah terus-menerus ingin dikontrol, dimonitor kondisinya."
Berita Terkait
-
Istana Akhirnya Buka Suara soal Diplomat Tewas Kepala Dilakban, Ini Sikap Presiden Prabowo
-
5 Fakta Sarat Misteri Kematian Diplomat Kemlu, Isi Kresek Hitam Terbongkar
-
Bikin Polisi Putar Otak! Raibnya Ponsel Makin Sulit Ungkap Jejak Kematian Diplomat Arya Daru?
-
Misteri HP Diplomat Arya Daru yang Hilang: Polisi Belum Menemukannya, tapi Yakin Kasus Terungkap
-
Misteri Belum Terpecahkan! Kenapa Arya Daru Tinggalkan Tas di Rooftop Kemlu Sebelum Tewas Terlakban?
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi