Suara.com - Setelah tampak berjuang dengan masyarakat Pati untuk menolak pajak PBB-P2 yang naik hingga 250%, kini sosok Yayak Gundul justru disebut dengan istilah sengkuni oleh masyarakat Pati. Tapi sebenarnya apa arti sengkuni sebutan warga Pati untuk Yayak Gundul ini?
Ungkapan ini sendiri muncul setelah foto Bupati Pati dan Yayak Gundul tersebar di media sosial. Foto ini muncul karena adanya kesepakatan damai antara pemerintah dan sejumlah warga yang mengatasnamakan Gerakan Pati Bersatu, yang berada di bawah komando Cahya Basuki atau Yayak Gundul ini.
Kesepakatan juga melibatkan Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi yang dikoordinatori Sahal Mahfudh. Dalam kesepakatan tersebut, kedua kelompok akan membatalkan demo pada 13 Agustus 2025 karena tuntutan pembatalan kenaikan pajak telah dipenuhi.
Yayak Gundul di Luar Kelompok di Posko Donasi
Sejumlah aktivis yang masih berada di posko donasi kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa Yayak Gundul bukan lagi bagian dari kelompok mereka. Tidak sedikit yang menyampaikan bahwa Yayak Gundul adalah sengkuni, karena dianggap mengkhianati perjuangan masyarakat Pati.
Pernyataan Yayak Gundul dan Sahal Mahfudh terkait dengan kesepakatan pembatalan demo juga tidak menjadi penghalang bagi masyarakat yang bergabung dalam kelompok lainnya. Salah satu perwakilan dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menyatakan bahwa demo tanggal 13 Agustus 2025 akan tetap digelar, namun dengan tuntutan melengserkan Sudewo dari jabatannya saat ini.
Apa Arti Sengkuni dalam Konteks Ini?
Istilah sengkuni sendiri sebenarnya bukan hal baru dalam konteks perjuangan dan politik. Istilah ini sering disematkan pada orang-orang yang dianggap berkhianat pada orang lain, dan berangkat dari tokoh wayang yang memiliki nama serupa.
Sengkuni dalam epos Mahabarata dikenal karena sifatnya yang licik, suka mengadu domba, dan selalu mencari keuntungan pribadi dalam berbagai kondisi yang dihadapinya. Ia juga diceritakan tidak ragu berkhianat jika memang hal tersebut dapat membawa keuntungan padanya.
Baca Juga: Ditantang Balik Bakal Didemo, Bupati Sudewo Malah Tuduh ada yang Menunggangi
Sengkuni sebenarnya memiliki kecerdasan dan kepintaran yang tinggi. Namun demikian hal ini digunakan untuk memanipulasi orang lain dan mengadu domba, sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya bertikai. Hal ini dilakukan demi mendapatkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan nasib orang lain.
Pada konteks politik dan aktivisme, istilah ini kemudian sering disematkan pada orang-orang yang memiliki sifat serupa. Gemar mengadu domba, bersilat lidah dan membelokkan apa yang dikatakan, berlaku tidak sesuai dengan apa yang disampaikan, licik, dan pengkhianat.
Maka tak heran setelah apa yang dilakukan oleh Yayak Gundul, ia disebut sengkuni oleh aktivis lain yang masih ingin berjuang untuk melengserkan Bupati Sudewo ini.
Sudut Pandang Yayak Gundul
Di sisi lain, Yayak Gundul justru merasa hal ini aneh. Ia merasa bahwa apa yang diperjuangkan dan protes masyarakat sebenarnya telah tercapai, terkait dengan pembatalan PBB-P2 250% yang disampaikan oleh Bupati Sudewo. Maka ia menganggap bahwa perjuangan telah selesai dan demo tidak perlu dilakukan.
Yayak Gundul merasa dikhianati sebab wacana yang diusung justru menjadi pelengseran Bupati Sudewo. Hal ini yang menjadi dasar ia mengambil keputusan untuk bertemu dengan Bupati Pati tersebut, dan menyepakati bahwa dirinya dan kelompoknya tidak akan melakukan demo.
Ia menyatakan tidak menentang atau mendukung demo yang akan dilakukan, karena itu adalah hak masing-masing. Namun ia juga merasa memiliki hak untuk mengambil langkah yang dianggapnya benar.
Itu tadi sedikit penjelasan tentang apa arti sengkuni sebutan warga Pati untuk Yayak Gundul.
Kontributor : I Made Rendika Ardian
Berita Terkait
-
Pajak Batal Tak Cukup, Bupati Pati Kini Dituntut Mundur: "Mundur Ksatria atau Dilengserkan Paksa"
-
Mengenal Siapa Yayak Gundul, Aktivis yang Viral di Pati
-
7 Arti Mimpi Dikejar Ular Menurut Tafsir Primbon Jawa
-
Terlengkap! Ini 20 Arti Mimpi Menurut Primbon Jawa, dari Pertanda Hoki hingga Peringatan Bahaya
-
Warga Pati ke Bupati Sudewo: Mundur Secara Kesatria atau Dilengserkan Rakyat Secara Paksa?
Terpopuler
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 5 Sepeda Lipat Kalcer Termurah, Model Stylish Harga Terjangkau
Pilihan
-
Geger! Pemain Timnas Indonesia Dituding Lakukan Kekerasan, Korban Dibanting hingga Dicekik
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
Terkini
-
Soal Penembakan Pesawat di Boven Digoel, DPR Tegur Pemerintah: Tutup Bandara Jika Tidak Aman
-
Tak Berkutik! Detik-detik Penangkapan Dua Pria Pembawa Ribuan Ekstasi di Jakarta Barat
-
Stok Aman Jelang Ramadan dan Idulfitri: DKI Jakarta Siapkan 182 Ribu Ton Beras
-
IPK Indonesia Turun ke 34, KPK: Alarm Keras Perbaikan Pemberantasan Korupsi
-
Pekan Depan Prabowo Lawatan ke AS, Teken Tarif Dagang dengan Trump
-
Jaksa Skak Mat Klaim Nadiem: LKPP Nyatakan Harga Laptop Cenderung Tinggi Tidak Terkontrol
-
PKL di Pecinan Glodok Kabur Berhamburan Didatangi Satpol-PP, 85 Motor di Trotoar Kena Cabut Pentil
-
Mendagri Minta Dukungan Parlemen Normalkan Anggaran TKD Provinsi Terdampak Bencana
-
Murni Dukungan atau Strategi Politik: Apa Sebenarnya di Balik Suara Lantang Prabowo Dua Periode?
-
Pesawat Ditembaki di Koroway Papua, 13 Penumpang Termasuk Balita Selamat Meski Pilot Tewas