“Itu kerjanya berat, tapi militansinya kelas ‘A’. Inilah yang kemudian karena dianggap kelas bawah. Para petinggi kita, priyayi kita, yang pernah dilewati Jepang, manggilnya kalau ke kawan-kawan orang bawah, disebutlah ‘Korea-Korea’,” jelasnya.
“Itu karungnya disuruh nurunin, Korea-Korea itu disuruh nurunin karung dari truk, seperti itu. Jadi pasukan kelas bawah. Understand?” ujar Bambang Pacul.
Ironisnya, filosofi yang ia populerkan ini kini seolah menjadi bumerang. Sebagai komandan, ia gagal menggerakkan "pasukan Korea"-nya untuk memenangkan pertempuran di wilayahnya sendiri.
Kekalahan di kandang banteng menunjukkan adanya masalah serius dalam rantai komando, di mana sang jenderal tidak mampu memaksimalkan militansi pasukan di akar rumput.
Pencopotannya dari kursi Ketua DPD PDIP Jateng menjadi bukti bahwa dalam politik, sehebat apa pun filosofi seorang komandan, hasil di medan perang adalah satu-satunya yang dihitung.
Berita Terkait
-
Singkirkan Bambang Pacul, PDIP Tunjuk FX Rudy di Jateng Demi Tegakkan Aturan Anti Rangkap Jabatan
-
Inikah Alasan Megawati Copot Bambang Pacul dari Tahta PDIP Jateng?
-
Gempar Bambang Pacul Dicopot Megawati: Sederet Kontroversi hingga Harta Fantastis 'Komandan Korea'
-
Ulasan Buku Hatimu Juga Butuh Pelukan, Quotes dari Seekor Beruang Penyembuh
-
5 Mobil Korea Bekas untuk Anak Muda: Bandel dan Stylish, Mulai 90 Jutaan
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini
-
Semarak Turnamen Bulu Tangkis di Mall Solo, 219 Peserta Ikut Bertanding
-
Komunikasi Politik Prabowo Dinilai Kerap Blunder, Akademisi: Bisa Rugikan Pemerintah
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana
-
Ibu Makin Cermat Memilih Produk Perawatan Anak, Bukan Lagi Sekadar Soal Harga
-
Perkuat Keamanan Ruang Udara Obvitnas, Kilang Plaju Jalani Assessment AIP dan Supervisi SMP
-
KemenPPPA Soroti Pentingnya Inklusi Keuangan bagi Perempuan Pelaku Usaha