- Projo menuding ada kelompok politik yang secara aktif dan sistematis berusaha mengadu domba Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo
- Narasi seperti "matahari kembar", "cawe-cawe", hingga isu ijazah palsu Gibran sengaja dimainkan
- Tujuan akhir dari upaya pecah belah ini diduga untuk melemahkan pemerintahan Prabowo-Gibran
Suara.com - Hubungan erat antara Presiden Prabowo Subianto dan pendahulunya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), disebut tengah diuji oleh manuver politik yang sistematis. Kelompok relawan Projo menuding ada pihak-pihak tertentu yang tidak hanya berfantasi, tetapi juga bekerja aktif untuk merusak dan memisahkan kedua tokoh sentral tersebut.
Wakil Ketua Umum Projo, Freddy Damanik, secara blak-blakan menyebut adanya upaya adu domba yang terorganisir. Menurutnya, tujuan akhir dari skenario ini adalah melemahkan pemerintahan Prabowo-Gibran untuk memuluskan jalan merebut kekuasaan pada Pemilu 2029 mendatang.
"Kami Projo juga melihat ada pihak pihak yang berfantasi hubungan Presiden Prabowo dengan Presiden Jokowi menjadi jauh dan terpisahkan, mereka bahkan berusaha mengadu domba dan memecah belah kedua pemimpin ini dan para pendukungnya tentunya dengan narasi narasi yang terus menerus mereka mainkan," ungkap Freddy kepada wartawan, Selasa (7/10/2025).
Freddy membeberkan sejumlah narasi yang sengaja digulirkan untuk menciptakan keretakan. Serangan tidak hanya ditujukan kepada Prabowo dan Jokowi, tetapi juga menyasar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang merupakan putra sulung Jokowi. Isu-isu ini, kata Freddy, sengaja diciptakan agar Prabowo memandang Jokowi dan Gibran sebagai beban politik.
"Misalnya dengan narasi 'matahari kembar', 'cawe-cawe', 'pemakzulan Gibran', terus menyerang Jokowi dan Gibran dengan ijasah palsu, tentunya mereka berharap agar Presiden Prabowo menganggap Jokowi Gibran sebagai beban," tegas Freddy.
Lebih jauh, Projo meyakini bahwa pihak-pihak ini sadar betul jika hubungan Prabowo dan Jokowi retak, maka pemerintahan akan goyah dan kehilangan kepercayaan publik. Kondisi inilah yang diharapkan menjadi modal bagi mereka untuk memenangkan calon yang diusung pada kontestasi lima tahun mendatang.
Meski demikian, Freddy menegaskan bahwa upaya tersebut tidak akan berhasil. Ia menyebut Prabowo dan Jokowi adalah negarawan matang yang selalu mengedepankan kepentingan bangsa di atas segalanya.
"Namun mereka sangat naif, apa yang mereka lakukan tidak akan berhasil karena kedua tokoh tersebut adalah negarawan yang sama-sama mementingkan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara di atas segalanya, mementingkan persatuan dan kesatuan.
Kedua pemimpin tersebut juga sudah matang secara politik sehingga upaya adu domba dan pecah belah pihak pihak tersebut tidak akan berhasil memisahkan Presiden Prabowo dan Pak Jokowi," ujarnya.
Baca Juga: Rocky Gerung Curiga Motif Jokowi Temui Prabowo karena Gelisah, Berkaitan Nasib Gibran dan Bobby?
Pertemuan hangat antara kedua tokoh di kediaman Prabowo di Kertanegara akhir pekan lalu menjadi bukti nyata soliditas mereka.
"Pertemuan Presiden Prabowo dan Pak Jokowi beberapa hari yang lalu sekali lagi menunjukkan bahwa kedua Presiden tersebut akan terus hadir untuk bangsa dan negara, mereka akan selalu berdiskusi untuk kepentingan rakyat," tambah Freddy.
Lantas, siapa dalang di balik upaya pecah belah ini? Projo menunjuk hidung kelompok yang kalah dalam Pilpres 2024 dan mereka yang sakit hati dengan Jokowi.
"Pihak-pihak yang terus menerus berusaha memperkeruh hubungan Presiden Prabowo dan Pak Jokowi adalah orang-orang atau kelompok yang sakit hati dengan Pak Jokowi, kelompok yang kalah Pilpres 2024 kemarin, kelompok yang tidak ingin Pak Prabowo memimpin Indonesia," kata Freddy.
"Dan tentunya kelompok yang ingin merebut kekuasaan pada Pemilu 2029 dan tentunya atas kesamaan kepentingan di 2029 bisa saja semua kelompok tersebut bersatu untuk terus menerus merusak hubungan Presiden Prabowo dan Pak Jokowi," tandasnya.
Berita Terkait
-
SBY Cuekin Kapolri di HUT TNI? Demokrat Ungkap Fakta di Balik Video Viral yang Menghebohkan
-
Demokrat Klarifikasi Video SBY Tak Salami Kapolri di HUT TNI: Sudah Lama Bercengkerama di...
-
Sosok Profesor Kampus Singapura yang Sebut Pendidikan Gibran Cuma Setara Kelas 1 SMA
-
Viral Momen Bahlil Colek Paha Rosan Saat Prabowo Ungkap Negara Rugi Rp300 T, Netizen: Ketahuan Deh!
-
Rocky Gerung Curiga Motif Jokowi Temui Prabowo karena Gelisah, Berkaitan Nasib Gibran dan Bobby?
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
DPR Beberkan Poin-poin Perubahan di RUU Polri: Ada Soal Aturan Polisi Bertugas di Luar Institusi
-
Bukan Dibacok Begal! Pria di Tambora Patah Kaki Hantam Beton Gara-gara Mabuk
-
Bukan Sabotase, Ini Alasan PLN Butuh Waktu Lama untuk Pulihkan Listrik Sumatra
-
Sisi Getir Pasca-Bencana Sumatra: Masih Ada Sekolah yang Bertahan di Tenda dan Kelas Darurat
-
Menagih Janji di Atas Puing: Sepuluh Bulan Pedagang Taman Puring Menunggu
-
Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Memuaskan, Tuai Berbagai Pujian
-
Tuntutan 5 Tahun Penjara Dianggap 'Fiksi', Noel Sebut Jaksa Paksakan Fakta di Kasus K3
-
Gaji Rp7 Juta Tapi Punya Nissan GT-R Rp12 M, Noel Heran Kekayaan Bobby Mahendro: Gila Ini Orang!
-
Sanksi Tegas Tawuran: 40 KJP Siswa Jakarta Melayang, Tapi Harapan Sekolah Tak Boleh Padam
-
Didampingi Haris Azhar, Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika Diperiksa Kejagung Soal Skandal Migor