-
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2025 dikritik publik karena dinilai berantakan dalam pelaksanaannya.
-
Warganet membandingkan MBG dengan program PMTAS era Orde Baru yang lebih menekankan bahan pangan lokal.
-
Kritik menyerukan evaluasi menyeluruh agar MBG lebih aman, efisien, dan memberdayakan ekonomi daerah.
Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sejak awal tahun 2025 terus menjadi sorotan publik.
Bahkan seorang pengguna media sosial dengan akun @honeyliwe mengkritik dan membandingkan pelaksanaan MBG dengan program serupa di era Orde Baru, yaitu Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS).
Dalam video tersebut, pemilik akun @honeyliwe mengkritik program MBG 2025 yang dinilainya berantakan. Dia juga mempertanyakan mengapa pemerintah tidak belajar dari program serupa yang sempat ada di era orde baru.
Unggahan tersebut menyoroti lima keunggulan PMTAS yang seharusnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi pelaksanaan MBG saat ini.
"MBG 2025 kok seberantakan ini? Masa nggak bisa belajar? Hampir 30 tahun kok malah makin mundur?" tulis @honeyliwe dalam keterangannya, sambil menyerukan evaluasi bahkan moratorium terhadap program MBG.
Program MBG, yang diresmikan pada 6 Januari 2025, merupakan salah satu program unggulan pemerintah dengan anggaran mencapai Rp 71 triliun.
Dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN), program ini menargetkan jutaan penerima manfaat, mulai dari anak sekolah, ibu hamil, hingga balita, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas gizi dan menggerakkan ekonomi lokal.
Namun, dalam pelaksanaannya, program ini menuai berbagai kritik. Salah satu yang paling disorot adalah beberapa kasus keracunan makanan yang menimpa siswa di berbagai daerah.
Selain itu, menu makanan yang disajikan juga menjadi perdebatan, karena dinilai kurang memanfaatkan bahan pangan lokal dan tidak sesuai dengan kearifan pangan nusantara, seperti penyajian burger atau spageti.
Baca Juga: Tragedi Udayana: Mahasiswa Tewas Lompat dari Lantai 4, Chat Olok-olok BEM Viral Jadi Sorotan
Kritik inilah yang kemudian dikaitkan dengan PMTAS, program yang digagas Presiden Soeharto pada dekade 1990-an.
Berdasarkan catatan sejarah, PMTAS secara eksplisit menekankan penggunaan bahan hasil pertanian setempat dan melarang penggunaan produk pabrikan atau industri.
Hal ini sejalan dengan poin pertama yang diangkat dalam video viral tersebut, yakni keharusan menggunakan bahan pangan lokal untuk memberdayakan petani dan menjaga ketahanan pangan daerah.
Video tersebut juga menyoroti strategi implementasi PMTAS yang tidak langsung berskala nasional.
Program tersebut dimulai sebagai proyek percontohan di 11 provinsi tertinggal sebelum diperluas. Pendekatan bertahap ini dianggap lebih terukur dan efisien dalam pengelolaan anggaran serta evaluasi.
Lebih lanjut, @honeyliwe mengingatkan pentingnya pelibatan ahli gizi dan kader kesehatan lokal seperti Posyandu dan Puskesmas, sebuah aspek yang kuat dalam struktur PMTAS yang melibatkan PKK dan lembaga desa.
Tag
Berita Terkait
-
Tragedi Udayana: Mahasiswa Tewas Lompat dari Lantai 4, Chat Olok-olok BEM Viral Jadi Sorotan
-
Viral! Suami di Aceh Ceraikan Istri 2 Hari Jelang Dilantik PPPK, Baju Dinas Dibeli dari Jual Cabai
-
Viral Cerai Jelang Pelantikan PPPK, Berapa Gaji Suami Melda Safitri?
-
Melda Safitri Diceraikan Suami Jelang Pelantikan PPPK: Sudah Temani Berjuang dari Nol
-
Jeritan Hati Wanita yang Dilarang Menikah Ibunya Sendiri, Terhalang Tembok yang Tinggi!
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
Terkini
-
Bela Rudy Masud, Waketum Golkar: Beliau Pemimpin Low Profile dan Tidak Anti Dialog
-
Buntut Napi Korupsi Ngopi di Kendari: Supriadi Dipindah ke Nusakambangan, Karutan Resmi Dicopot
-
Perang AS vs Iran Bikin Harga Kondom Melejit: Permintaan Naik, Stok Menipis
-
Viral Kue Ulang Tahun Bongkar Skandal Toko Hantu di Pemesanan Lewat Ojek Online
-
Ritual Pengusiran Setan Berujung Maut, 2 Nyawa Melayang, Pelaku Bebas dari Hukuman
-
Bukan Sekadar Aturan, Hal Ini Jadi Tantangan Terberat UU PPRT di Lapangan
-
Tunggu Pramono Anung Pulang, Paripurna Ganti Ketua DPRD DKI Digelar 30 April
-
Mengapa Tawuran di Jakarta Tak Pernah Usai? Sosiolog: Mereka Butuh Didengarkan, Bukan Dikhotbahi
-
Mensos Gus Ipul Dorong Percepatan Pembangunan Sekolah Rakyat di Gorontalo dan Pagar Alam
-
Jalur Perdagangan Selat Hormuz Ditutup Donald Trump Membuat Posisi Diplomasi Iran Semakin Terjepit