-
JATAM sebut negara abai lindungi warga dari dampak kesehatan tambang nikel Halmahera.
-
Riset buktikan dampak beracun tambang, tapi negara tidak melakukan tindakan apa pun.
-
Alih-alih membantu, negara justru gunakan pendekatan represif terhadap keluhan warga terdampak.
Suara.com - Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Melky Nahar, menyoroti sikap abai negara terhadap konflik sosial dan krisis kesehatan yang dialami warga akibat aktivitas pertambangan dan hilirisasi nikel di Halmahera. Menurutnya, pemerintah telah gagal melindungi masyarakat yang menjadi korban dari kebijakan industri ekstraktifnya sendiri.
“Negara sampai hari ini tidak memiliki satu bukti pun bahwa mereka mau melakukan sesuatu untuk mengatasi dampak kesehatan bagi warga akibat operasi pertambangan dan hilirisasi nikel,” ujar Melky dalam keterangannya, Senin (10/11/2025).
Ia menegaskan, hingga kini belum ada langkah serius dari pemerintah untuk meneliti dampak kesehatan yang dialami masyarakat di sekitar area tambang, termasuk melakukan tes kesehatan secara menyeluruh.
Melky merujuk pada sejumlah hasil riset dari lembaga seperti Nexus3 Foundation dan berbagai media internasional yang telah membuktikan adanya kandungan bahan beracun dalam tubuh warga akibat paparan aktivitas tambang.
“Riset-riset dari Nexus3, Narasi, Guardian, Kompas, dan banyak media lain sudah membuktikan dampak beracun itu dengan metodologi yang jelas. Tapi sampai detik ini, negara tidak melakukan apa-apa,” katanya.
Menurut JATAM, sikap diam pemerintah ini merupakan bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab konstitusional. Ironisnya, kata Melky, negara justru lebih reaktif ketika menghadapi perlawanan warga.
“Ketika terjadi resistensi atau keluhan, upaya kolektif warga justru dipecah-belah oleh negara dan korporasi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan keamanan yang cenderung represif,” ucapnya.
Melky menilai praktik ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya lalai, tetapi juga turut memperkuat struktur penindasan terhadap rakyat. Ia menegaskan, kondisi di Halmahera hanyalah satu contoh dari banyak wilayah tambang di Indonesia yang menghadapi masalah serupa.
“Negara abai terhadap warga yang menjadi korban kebijakan ekonominya sendiri. Padahal, tugas negara adalah melindungi rakyat, bukan menjadi bagian dari mesin perusak kehidupan,” pungkas Melky, seraya mendesak pemerintah untuk segera memulihkan hak-hak warga yang terdampak.
Baca Juga: JATAM Sebut Ada Kolusi Korporasi dan Birokrasi Lokal di Balik Konflik Tambang Halmahera
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
Terkini
-
Daftar Weton Tibo Ratu, Si Anak Emas Primbon Jawa yang Selalu Beruntung
-
Mobil Terjemur Terik Matahari, Bagian Apa yang Perlu Jadi Sorotan?
-
HyperOS 4 Resmi Meluncur! Desain Kaca Mewah dan AI-nya Bisa Tebak Pikiran Pengguna?
-
Menag Pimpin Doa di Sidang Tahunan MPR 2026: Lindungi Kami dari Fitnah dan Pengkhianatan
-
Jembatan Garuda Merah Putih di Way Bungur Jadi Harapan Baru Masyarakat
-
Belanja Pengadaan Pemerintah Tembus Rp1.193 Triliun, Jadi Motor Ekonomi Hijau
-
Jelang Pidato Prabowo, Harga Emas Antam Merosot Jadi Rp2.664.000/Gram
-
Viral Fasilitas Sampah KKN UMMI Sukabumi Hancur Dibongkar 2 Hari Usai Diresmikan
-
Bahan Bakar Alternatif SIG Naik 24%, Pangkas Konsumsi Batu Bara 467 Ribu Ton
-
Prabowo Mau Pidato, 103 Anggota Dewan Absen di Sidang Tahunan MPR