- Kesaksian korban selamat seperti Daryana yang kehilangan istri dan anak setelah terseret lumpur, serta Imam Faedi yang berjuang menyelamatkan kedua anaknya, menjadi gambaran nyata kengerian longsor Cilacap
- Tim SAR gabungan menghadapi tantangan berat seperti cuaca buruk dan tanah labil, ditambah adanya peringatan dari ahli geologi mengenai potensi longsor susulan akibat retakan baru di puncak tebing
- Pemerintah bergerak cepat dengan melakukan modifikasi cuaca untuk membantu evakuasi dan menyiapkan dana Rp400 miliar serta lahan relokasi untuk memastikan warga terdampak mendapatkan hunian yang lebih aman
Suara.com - Di tengah duka yang menyelimuti Desa Cibeunying, Cilacap, terselip kisah-kisah perjuangan hidup dan mati yang memilukan. Malam itu, gemuruh tanah yang datang tiba-tiba tak hanya merenggut belasan nyawa, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi mereka yang selamat.
Daryana dan Imam Faedi adalah dua di antara saksi hidup yang merasakan langsung detik-detik mencekam saat longsor menerjang permukiman mereka.
Duduk di atas kursi roda di RSUD Majenang dengan tatapan kosong, Daryana mencoba merangkai kembali ingatan pada malam petaka itu.
Ia baru saja kehilangan istrinya, Yuni, dan anak perempuannya, Maya, yang jasadnya ditemukan tim SAR secara terpisah.
"Saya kehilangan anak dan istri. Peristiwanya begitu cepat," ujarnya lirih sebagaimana diwartakan BBC News Indonesia, Senin (17/11/2025).
Malam itu, Daryana baru saja pulang dari acara tahlilan saat mendengar suara gemuruh yang begitu kencang. Naluri seorang ayah dan suami mendorongnya berlari sekuat tenaga.
"Saya berlari ke rumah dan berteriak kepada istri dan anak untuk keluar rumah," kenangnya.
Namun, takdir berkata lain. Di tengah usahanya, Daryana justru menjadi korban. Aliran lumpur pekat tiba-tiba datang dan menyeret tubuhnya tanpa ampun. Ia pasrah, tak lagi bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan keluarga tercintanya.
"Saya sempat terseret sampai 15 meter. Saya tidak bisa bergerak, hanya mengikuti lumpur yang bergerak. Saya tidak sempat menyelamatkan anak dan istri karena tidak mungkin," ungkapnya pilu.
Baca Juga: Operasi Langit di Cilacap: BNPB 'Halau' Hujan Demi Percepat Evakuasi Korban Longsor
Teriakan 'Bapak, Bapak!' di Tengah Gelap Gulita
Kisah perjuangan lain datang dari Imam Faedi. Malam itu, ia sedang bersantai di depan rumah bersama tiga tetangganya saat bencana datang. Suara gemuruh yang disusul gumpalan material longsor membuatnya sadar bahaya ada di depan mata.
"Tiba-tiba ada suara gemuruh seperti pesawat. Saya berdiri, lihat ke depan, ada gumpalan kukus. Lalu terlihat kayu seperti berterbangan dan di belakangnya tanah," tutur Imam.
Seketika ia teringat kedua anaknya yang berada di dalam rumah. Tanpa pikir panjang, Imam berlari menerobos material longsor yang sudah mendorong rumahnya.
Di tengah kegelapan akibat listrik padam, ia mendengar suara yang paling ditakutinya sekaligus memberinya harapan.
"Anak di kamar sendiri, posisinya tidur. Anak saya teriak, 'Bapak, Bapak!' Lalu saya tendang pintu, dan gendong [anak paling kecil] keluar," ceritanya.
Berita Terkait
-
Operasi Langit di Cilacap: BNPB 'Halau' Hujan Demi Percepat Evakuasi Korban Longsor
-
Percepat Penanganan, Gubernur Ahmad Luthfi Cek Lokasi Tanah Longsor Cibeunying Cilacap
-
Aksi Heroik 10 Anjing Pelacak K9, Endus Jejak Korban Longsor Maut di Cilacap
-
Daftar 11 Nama Korban Longsor Cilacap yang Berhasil Diidentifikasi, dari Balita Hingga Lansia
-
Detik-detik Pencarian Korban Longsor Cilacap, BNPB Ingat Pesan Prabowo
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi